Ramadhan, Jangan Pergi Dulu!!!











Sudah lebih setengah jam, ia menelungkup wajahnya di tempat sujud. Airmatanya sudah cukup membuat sajadahnya basah. Kedua lututnya telah lelah menumpu berat badannya. Kedua tangannya bergetar menahan posisi yang sama sekian lama. Namun ia belum juga beranjak dari sujudnya. Tidak terlihat tanda-tanda ia akan segera mengakhiri sujud di rakaat terakhir solat tarawih yang ia kerjakan. Sesekali punggungnya bergetar menahan tangis yang meledak dalam kebisuannya. Bibirnya tak berhenti mengucapkan doa dan zikir kepada Allah. Semua hening, namun tidak dengan hatinya yang sedang bergejolak. Berharap cemas. Berharap waktu bisa berhenti sejenak agar tersedia waktu lebih agar ia bisa melaksanakan amalan sebelum ramadhan kali ini benar-benar berakhir meninggalkannya. Mencemaskan kalau-kalau sangat sedikit amalan di ramadhan ini yang diterima di sisi-Nya dan membayangkan jika ramadhan ini adalah ramadhan terakhir baginya.


Seperti ramadhan tahun-tahun sebelumnya, kali ini Ramadhan memberikan arti tersendiri bagi dirinya. Begitu banyak peristiwa besar yang dialaminya di awal tahun ini hingga ketika ramadhan datang menyapa. Semua ibarat kepingan-kepingan puzzle yang tersusun begitu rumit dan sulit untuk diselesaikan. Namun, demikianlah hidup. Tetap harus berjalan.


"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta jiwa dan buah-buahan. Dan
berikan khabar gembira kepada orang-orang yang sabar,
yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan:
'Innaa lillahi wa inna ilaihi raajiuun'.
Mereka itu yang mendapat keberkatan dan rahmat yang sempurna dari
Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
(Al-Baqarah 155-157)


Seolah ia tidak ingin detik, menit dan jam berlalu saat itu. Tidak ingin malam segera berlalu dan terganti dengan mentari di pagi terakhir ramadhan. Diambilnya Al-Quran bersampul merah yang terletak di meja disudut kamarnya. Kini, ia mulai membaca ayat demi ayat surat Ar Rahman. Dengan suara yang bersih dan tartil, ia mulai membaca surat yang dikenal sebagai penggantinya Al-Quran tersebut.


Dengung dan isak tangis mengiringi ketika ia sampai pada  ayat “Fabiayyi alaairobbikuma tukadzibaan” (maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang engkau dustakan). Ia tidak mampu menahan tangisnya saat  ayat pengingat neraka dibacakannya. Saat orang-orang berdosa dikenal dengan tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka. Saat ditunjukkan neraka jahannam yang telah mereka dustakan. Saat digambarkan mereka berkeliling diantaranya dan diantara air mendidih yang memuncak panasnya.


Ia menangis, saat ayat perindu syurga dibacakannya. Saat dijanjikan kepada mereka dua syurga. Saat digambarkan didalamnya terdapat buah-buahan yang dekat, mata air yang memancar, permadani yang berbahan sutra. Ia menangis saat ditunjukkan bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia dan jin sebelumnya, yang jelita,putih, bersih, dan dipingit dalam rumah. Ia cemburu…
***


Ramadhan sebentar lagi akan pergi dan tergantikan dengan bulan-bulan setelahnya. Berjuta keberkahan dan kebaikan yang menyertainya pun akan ikut berlalu seiring kepergian ramadhan dalam hidup kita. Tidak ada yang berkurang sedikitpun kecuali usia kita yang pastinya yang akan terus berkurang yang menandakan kesempatan pertemuan kita dengan bulan suci dan mulia itu semakin berkurang pula.


Kita tidak pernah tahu kapan jatah hidup kita akan berakhir, dan ramadhan mana yang akan menjadi penutup dari ramadhan-ramadhan yang telah kita lalui. Mungkin lima, sepuluh, dua puluh tahun lagi ramadhan itu akan kita jumpai. Ataukah mungkin ramadhan tahun ini menjadi ramadhan penutup dalam hidup kita. Sungguh, hanya Allah yang maha mengetahui keghaiban usia tiap hamba-Nya.


Andaikan umat terdahulu hadir ditengah kita lalu menyaksikan kita sedang asyik beribadah dan beramal di bulan Ramadhan, mungkin mereka akan sangat iri dan bermohon kepada Allah agar dikarunia nikmat yang sama. Namun sayang, kesempatan ini sering kali kita abaikan. Kenikmatan bersama dengan Ramadhan banyak terlewatkan dengan kelalaian ataupun kondisi-kondisi sulit lainnya seperti kelelahan dalam perjalanan, kesibukan dalam pekerjaan maupun ketidakberdayaan lantaran sakit. Yang membuat waktu kebersamaan kita dengan ramadhan pun terlewatkan.


Orang-orang mukmin selalu belajar dari kesalahan-kesalahan ramadhan lalu untuk kemudian menjadi pengobar semangat menciptakan amalan-amalan unggulan di ramadhan di masa mendatang. Sayang, tidak demikian dengan kita. semangat itu hanya ada di awal ramadhan dan berangsur-angsur terkikis seiring semakin tuanya usia ramadhan yang kita lalui. Sangat jauh kualitas kita dibandingkan dengan sahabat dan shalifus shalih sebelumnya, yang justru semakin menggebu-gebu menyempurnakan amalan di akhir perpisahan ramadhan. Jam tidur mereka kurangi, lambung mereka jauh dari kasur dimalam harinya. Mata-mata mereka lelah menahan kantuk yang amat sangat, demikian pula lisan-lisan mereka yang senantiasa disibukkan dengan tilawah dan zikir pada Allah. Jiwa-jiwa mereka yang selama ini tegar terhadap segala persoalan dunia berubah menjadi jiwa-jiwa yang mudah sekali tersentuh dan menangis. Apakah kita seperti mereka? Sungguh sayang sekali tidak,  kita selalu menyia-nyiakan ramadhan hingga ia berlalu, dan kita keluar dari ramadhan sebagai orang yang merugi, melenggang dengan tangan hampa. Kita bersuka cita, merasa sebagai pemenang padahal dihadapan-Nya kita adalah orang merugi.


Dalam hitungan jam kedepan, ramadhan akan benar-benar meninggalkan kita. rasanya masih sedikit rakaat salat yang mendatangkan kekhusyuan, masih kikir diri-diri ini mengeluarkan sedekah dari rezeki yang diberikan, masih kurang capaian tilawah yang dituntaskan, masih…masih sangat banyak kekurangan pada ramadhan kali ini. Duhai ramadhan, jangan pergi dulu!!!

Ditulis 30 Ramadhan 1432 H.  

0 komentar:

Posting Komentar