Surat Cinta Allah Untuk Ibuku






"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya, Ibunya telah mengandungnya Dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, ...."
(QS Luqman : 14)
Ibu tidak menjadikan dirinya tempat bersandar untuk anak-anaknya, tapi dengan dirinyalah, ia akan membuat anaknya mampu berdiri dengan tegak.


IBU. Itulah sebuah nama yang memiliki tempat khusus di hati setiap manusia. Bahkan oleh Rasulullah SAW, walaupun sangat sebentar merasakan kasih sayang seorang ibu, menyeru kepada umatnya untuk menaruh cinta kepada seorang ibu tiga tingkatan di atas cinta kepada ayah. Yah, paling tidak  aku memiliki asumsi tersendiri membenarkan ucapan manusia agung itu dengan alasan bahwa dalam hidup ini ada satu hal yang tidak akan mungkin dirasakan oleh seorang ayah sepanjang sejarah hidupnya, yaitu merasakan ada sesuatu yang hidup dan bergerak-gerak didalam perutnya.  Kelak, ku ingin menulis sebuah buku yang mengisahkan tentang ibuku agar semua orang tahu betapa sangat luar biasanya ibuku. Sebuah buku yang bisa menjadi inspirasi bagi semua ibu dalam melakoni perannya dalam keluarganya. Sebuah buku yang bisa menjadi motivasi bagi semua anak untuk memuliakan ibunya. Sebuah buku yang menggambarkan kebanggaanku memiliki ibu yang sangat sederhana namun kesederhanaan itulah yang membuatnya tampil dengan begitu anggunnya di mataku.


Semenjak kuliah, ku bisa menghitung berapa hari pertemuanku dengan ibu. Kerinduanku setelah setahun tidak bertemu, hanya tergantikan dengan beberapa hari berada di rumah. Tapi ku sangat bersyukur dengan keadaanku seperti ini. Hari-hari yang kulalui ketika jauh dengan keluarga justru membuat ku tahu betapa berharganya mereka dalam hidupku, terutama ibu.  Ku jadi ingat dulu, hampir 3 tahun lalu ketika pertama kali ku berpisah dengan Ibu karena harus kuliah di kota ini. Tiap kali menjelang tidur dan sehabis sholat atau saat sendiri, ku selalu menangis diam-diam karena teringat Ibu. Demi mengobati kerinduan atau sekadar mengetahui keadaanku di sini, sesekali ibu menelponku. Selama ini, ku memiliki kebiasaan untuk menceritakan hal-hal yang ku alami tanpa terlewatkan sedikitpun. Ibu selalu siap setiap saat menampung semua kisahku dan selalu memberikan masukan yang selalu ku ibaratkan mutiara berharga dalam hidupku. Namun, ada satu hal yang tidak ingin kusampaikan selama ku disini. Ketika ku sakit. Ku tidak mau ibu khawatir walaupun dalam saat-saat seperti itulah, ku ingin ibu berada disampingku.

Pernah suatu ketika, ku sakit dan sangat sulit melakukan segala sesuatunya. Untung saja, ada teman-teman di Kost, yang sudah ku anggap seperti saudara sendiri yang setia menemani. Saat itu, ku ingin sekali mendengar suara ibu walaupun hanya lewat telepon, namun keinginan tersebut ku urung karena khawatir ibu mengetahui keadaanku. Ku berencana akan menghubungi Ibu ketika ku sudah pulih kembali. Tak jarang ku bermimpi melihat wajah teduh ibu dikarenakan akumulasi kerinduanku pada sosok khadijah masa kini itu. ”Ibu, betapa saat ini ku ingin sekali menujumu. Merasakan kelembutan tanganmu, menatap wajah sejukmu, mendengarkan suara lantunan Al-Qur’anmu yang begitu indah”
Subhanallah. Seorang ibu memang memiliki perasaan yang tajam. Usai solat subuh, ibu menelpon dan menanyakan kesehatanku. Katanya, beberapa hari ini, wajahku selalu terbayang-bayang dan takut sesuatu yang buruk terjadi padaku. Tidak sekali dua kali hal itu terjadi. Tetapi hampir setiap kali ku sakit atau sekedar kelelahan setelah seharian beraktivitas.

Ibu, Ku tahu engkau senantiasa bermohon kepada Allah Swt agar ku menjadi anak sholehah, yang taat kepada Allah, serta dapat menjadi penerus dakwah Ilallaah ini. ku tahu engkau berusaha menjadi orang tua yang baik dan senantiasa mendidikku sesuai dengan tuntunan yang dicontohkan oleh Rosulullah Saw. Ku tahu rasa sakit yang kau rasakan saat melahirkanku terlupakan begitu saja sesaat setelah melihat ku lahir di dunia ini dengan selamat. Air matamu karena menahan sakit berganti menjadi senyum bahagia saat kau mendengar isak tangisku. Ku tahu saat engkau memarahiku karena ku tidak memperhatikanmu ketika mengajarkanku solat karena kau tidak mau melihatku menjadi anak yang tidak taat beribadah. Ku tahu saat engkau menangis ketika ku harus kuliah keluar kota karena kecintaan dan harapanmu yang besar terhadap diriku.

Malam ini, ku benar-benar sangat merindukanmu. Bagaimana tidak ibu, hampir setiap hari di seluruh media publikasi di televisi, koran, spanduk-spanduk dijalan hingga pengajian-pengajian rutin yang sering ku ikuti menyebut namamu dan memuliakan dirimu. Sore tadi ku baru saja ikut aksi hari ibu ini yang diadakan oleh seluruh muslimah yang tergabung dalam kesatuan Muslimah. Jangan khawatir ibu, insya Allah aksi yang ku dan teman-teman lain lakukan bukanlah aksi anarkis yang terkadang berujung bentrok dengan petugas keamanan seperti yang seringkali ibu lihat di televisi. Semua ini kulakukan, karena kecintaanku pada Allah dan Rasul-Nya, kepedulianku pada umat ini dan tentu saja karena sayangku padamu.Ku ingin kau bangga memiliki anak seperti aku sebagaimana bangganya diri ini terlahir dari rahimmu yang suci dan telah engkau tanamkan nilai syariat dalam diriku dengan penuh kelembutan walaupun ku tahu ku tidak akan mampu membalas pengorbanan, ketulusan, kasih sayang, sujud-sujudmu, bahkan air mata kesedihanmu. Semoga Allah sajalah yang membalas itu semua. Surga.

Ada sesuatu yang berbeda dengan aksi kali ini. Ada tetesan embun dingin menetes di hatiku. Hingga detik ini ku tidak mampu memahami itu semua. Betapa tidak ibu, membagikan bunga kepada setiap ibu yang melewati perempatan jalan seraya mengucapkan selamat hari ibu memunculkan kerinduan bagi diri ini terhadap sosokmu. Tanpa ku kehendaki, seakan-akan memori otakku memutar kembali segala kenangan indah tentangmu dengan sendirinya. Kenangan yang terlukis indah dalam hatiku. Bu, betapa besar keinginanku, engkau ada dihadapanku saat ini. Ku ingin menumpahkan segala perasaanku padamu. Tentang betapa ku sangat mencintaimu. Betapa bahagianya   aku karena Allah SWT memberikan nikmat-Nya padaku dengan menghadiahkan sosokmu untuk mengisi hari-hari dalam kehidupanku.

Dulu, disela-sela waktu istirahat siangmu. Engkau selalu memangillku yang dikala itu masih sering bermain dengan teman-temanku di rumah tetangga, pulang untuk mengaji. Tidak jarang ku abaikan panggilanmu dan memilih lari sejauh-jauhnya dan pulang ketika sore. Ketika pulangpun, ku selalu mengajinya dengan setengah hati bahkan sering terkantuk-kantuk dihadapanmu. Ku teringat akan nasehatmu, «Nak, kau harus bisa mengaji dan harus rajin membacanya. Kita harus malu jika tidak bisa membacanya».
Malam harinya,ibu selalu mengaji didekatku menjelang tidurku.

Saat ibu mengajarkanku makna tanggungjawab untuk membersihkan kamarku sendiri dan merapikan buku-buku pelajaranku. Ibu selalu mengatakan, « Nak, Allah itu maha bersih dan sangat menyukai sesuatu yang bersih.»
Saat ku terima raport dan mendapati diriku mendapat rengking pertama. Di tengah kebanggaanku dan kesenanganku, ibu pernah mengatakan, » Ibu, bangga denganmu.» Saat ku menanyakan apakah ibu akan kecewa jika ku tidak dapat mempertahankan prestasiku ? Dengan bijaksana ibu menjawab, « Yang penting kamu sudah berusaha maksimal, selebihnya kembalikan pada Allah. Ibu percaya engkau tidak akan mengecewakan ibu »
Saat ku beranjak dewasa dan mulai menggunakan jilbab. Ketika ibu mendapati diriku sedang marah terhadap sesuatu yang tidak kusenangi, ibu pernah menasehati, « Nak, kau harus malu dengan jilbabmu jika kamu tidak bisa mengendalikan emosimu. Kau harus mampu menjaga hatimu juga. » sungguh ibu, betapa malunya diriku saat itu.


Saat ku mengeluhkan kekecewaanku pada temanku yang tidak bisa menghargai usahaku. Dengan lirih engkau mengatakan, » Dalam hidup ini, kita tidak boleh selalu tertuju pada penilaian orang lain. segala sesuatu harus kamu lakukan dengan hati sehingga diakhir usahamu, kau tidak harus menunggu pujian dari orang lain. Karena kebahagian itu telah kau dapat saat kau mengerjakannya dan kaupun menikmatinya »
Saat ku menyakiti hatimu dan ku sangat menyesalinya. Ku datang padamu untuk meminta maaf. Ibu pernah mengatakan. « Ibu sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf. »
Saat ku mengatakan ku ingin membahagiakan ibu. Engkau selalu mengatakan, ”kebahagiaan ibu adalah melihatmu bahagia”
Saat ku menyadari betapa jarangnya ku memandang wajahmu. Airmataku yang sejak tadi coba kubendung, akhirnya tumpah juga. Ada getaran-getaran halus yang mengalir di hatiku. Pada saat liburan terakhir kemarin, ku dapati ibu tidur dengan pulasnya. Ku sengaja menyempatkan diri malam itu untuk melihatmu tertidur karena ku tahu saat-saat itulah gambaran perjuanganmu akan terlihat sangat jelas yang selama ini coba ibu sembunyikan di depan ku dibalik senyuman ketegaran dan kesabaran ibu. Ternyata benar ibu, kelelahanmu dan beratnya beban hidup yang selama ini ibu tanggung bisa kubaca dengan keriput wajahmu yang mulai nampak dan sekali-kali ku mendengar hembusan napas panjang disela-sela tidurmu.


Ibu, betapa aku ingin menujumu detik ini juga.

Ibu,

Jika engkau adalah matahari

aku tidak ingin datang malam hari

Jika engkau adalah embun

aku ingin selalu pagi hari

Ibu,

Durhakalah aku,

Jika ditelapak kakimu tidak kutemui surga itu

            (Fatin H)



Ibu, tahukah engkau? Ada sebuah keinginan besar ku saat ini. Disela-sela kesibukanku, ku ingin menyelesaikan hapalan Al-Qur’an ku di sebuah pondok.  Ku ingin ini menjadi suatu hadiah kejutan yang ku persembahkan untuk ibu dan ayah. Ku ingin Allah SWT menjadikan ibu dan ayah sebagai ratu dan raja di syurga- Nya kelak karena memiliki anak penghapal Al-Qur’an. Meskipun akan memakan waktu, ku berharap hadiah ini bisa kupersembahkan di sisa usiaku dan pada saat itu akan ku katakan, ”Ibu dan Ayah, ku persembahkan hapalan Al-Qur’an ini untukmu. Saat ini Allah SWt telah menyediakan sebuah istana untukmu di Jannah-Nya yang kelak kalian berdua adalah raja dan ratunya”. Amin ya Allah.

Robb, ampunilah dosa-dosa ku, dosa kedua orang tua ku dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kami sejak kukecil,

Robb, janganlah Engkau timpakan beban yang berat kepada orang tua ku karena kesalahan yang kulakukan, Jangan pula Engkau siksa orang tuaku karena perbuatan ku,
Bimbinglah ku untuk menjadi anak yang sholehah yang selalu mendo’akan mereka, yang akan menjadi pahala yang tak terputus baginya. Aamiin

 
 
Nb: Untuk Ibuku Yang Saat Ini Sedang Berada Dirumah Dengan Segudang Cinta Dan Doa
Darinya kuperoleh berbagai pelajaran bermakna, yang dapat menuntunku mengarungi kehidupan masa datang.
Kesederhanaannya, membimbingku untuk mampu menjalani hidup sederhana. Kesabarannya, mengantarkanku menjadi manusia yang tahu makna kehidupan dan arti pengorbanan. 
Ketegarannya menghadapi masalah hidup, mengajarkanku untuk selalu optimis. 
Kesungguhannya bekerja, mengajariku untuk memanfaatkan setiap waktu dengan sebaik-baiknya


ditulis Desember 2008

1 komentar:

avicenna16 mengatakan...

”Ibu, betapa saat ini ku ingin sekali menujumu. Merasakan kelembutan tanganmu, menatap wajah sejukmu, mendengarkan suara lantunan Al-Qur’anmu yang begitu indah”

very inspiring note...
jg mengingatkan pd ibu sy yg sdh lebih dulu menghadap Illahi bbrp bulan yg lalu...
sangt merindukannya saat ini..sungguh
bnyk sekali hal yg blm sy lakukan utk ibu...
'hny Doa ini yg dpt kuberikan utk wanita yg paling ak cintai di dunia,ibu.."

Posting Komentar