AKHWAT PEMBALAP


Embun Samarinda menyapa pagi itu. Ku bersiap meluncur bersama motor kesayangan (yang selalu setia menemani ke manapun ku pergi) menuju mushola kampus. Ku bersama beberapa panitia lainnya tidak sedang sibuk mempersiapkan kegiatan mushola. Melainkan kami ingin survei Lokasi Baksos (Bakti Sosial) Pengobatan gratis dan penyuluhan kesehatan di beberapa SMA dan kelurahan. Jam berangkat yang semulanya disepakati jam 7.30 WITA molor hingga jam 8.25 WITA. Setelah selesai Dhuha dan kordinasi terkait teknis, akhirnya perjalanan Samarinda-Tenggarong pun dimulai. Ada sekitar 9 ikhwan dan 5 akhwat yang ikut dalam rombongan.Sesuai kesepakatan, akhwat akan berada di tengah barisan konvoi. Para ikhwan membagi menjadi dua bagian; sebagai penunjuk jalan di depan dan satu lagi sebagai pemantau perjalanan.

Di perjalanan, kami singgah terlebih dulu di SPBU. Beberapa ke warung membeli sarapan (maklum banyak yang g sempat sarapan). Selama perjalanan, terkadang kami berhenti sejenak di tengah jalan tuk menyamakan kecepatan. Matahari berangsur-angsur berada di atas kepala. Akhirnya kami tiba sekitar jam 11.00-an di kelurahan yang dimaksud. Perjalanan ini ckup lama karena kami sempat tersesat ketika melewati pertambangan, hutan dan persawahan. Jalan menuju lokasi tersebut cukup mengerikan. Banyak tanjakan dan turunan curam. Sesekali rombongan ikhwan yang didepan menghentikan kendaraannya memastikan apa rombongan kami, para akhwatnya masih membuntuti dari belakang.

Ku tak menyangka lokasi baksos yang ingin didatangi benar-benar berada di pinggir kota. Serasa energi ini habis terkuras. Benar-benar sangat melelahkan…Mungkin panitia yang lain merasakan hal yang sama. Ternyata benar, semua terkapar di Masjid Raya saat menunggu solat zuhur. Setelah solat dan makan siang, perjalanan dilanjutkan menuju Dinas Pariwisata Tenggarong dulu sebelum akhirnya pulang. Akhirnya sekitar jam 15.00 WITA kami baru meninggalkan kota Tenggarong. Benar-benar molor dari waktu yang disepakati awal yaitu jam 14.00 WITA.

Diperjalanan pulang, rombongan kami sering berpapasan atau didahului oleh warga yang juga berkendaraan motor. Wah, mereka ngebut. Rombongan ikhwan yang semula seharusnya berada di belakang kami tiba-tiba melesat kedepan meninggalkan kami, para akhwat jauh di belakang. Lalu muncullah di pikiran kami, untuk menambah kecepatan. Agar bisa nyampe Samarinda tidak terlalu sore. Kecepatan motor kami mencapai 70 km/jam. Rombongan ikhwan pun satu persatu kami lewati. Kami berharap bisa meninggalkan mereka jauh di belakang agar tidak terkesan saling mendahului. Ku tambah kecepatan motorku hingga 85km/jam.

Sedikit demi sedikit kami para akhwat mengurangi kecepatan agar dapat rileks sejenak, mengurangi ketegangan. Namun, para ikhwan kembali berhasil mengejar kami. Awalnya kami hanya membiarkan saja. Namun, tiba-tiba ku teringat kalo sore itu ada rapat yang mesti di ikuti, beberapa akhwat dalam rombongan juga demikian. Akhirnya, ku bunyikan sinyal klakson kepada motor akhwat yang lain yang menandakan kami harus ngebut kembali. Dan kali ini, ku tambah laju motor hingga 95 km/jam. Akhwat lainnya pun demikian terus menambah laju motornya. Akhirnya tuk kedua kalinya, rombongan ikhwan yang awalnya jauh didepan berhasil kami lewati satu persatu.

Kami sampai di Mushola kampus kurang lebih 10 menit lebih cepat dari rombongan ikhwan. Kami tidak dapat menutupi rasa bersalah kami karena menang adu kebut. Ketika rombongan ikhwannya nya nyampe, tiba-tiba ada salah seorang dari mereka berkomentar dibalik hijab…”AKHWAT PEMBALAP”… kami para akhwat saling berpandangan dan tersenyum..

Paling tidak, moga ini bisa menjadi pelajaran bagi semua. Ternyata tidak selamanya akhwat yang di identikkan dengan kelemahlembutan bahkan “ribet” karena busananya, tidak memiliki keahlian lain yang bertolak belakang dari sifat tersebut. Smoga keahlian “ngebut” yang dimiliki bisa bermanfaat tuk da’wah. Bisa menghemat waktu perjalanan hingga dapat mengalokasikannya tuk mengerjakan tugas da’wah yang lain atau bisa juga membantu mengejar maling yang kabur ^__^

NB: Spesial untuk ukhti kiki, ririn dan adik OC Baksos dan Perdekdok yang ikut di rombongan saat itu. Sungguh, ku mencintai kalian smua karena Allah ta'ala!!!

Inspirasi: Cerita MUNAS FULDFK-IMF KONSOLIDASI 3 LDF KESEHATAN: KEDOKTERAN, KESMAS, FARMASI UNMUL 2010 dan Annida dengan banyak renovasi^^

0 komentar:

Posting Komentar