UKHTI, KATAKAN: INILAH JALANKU!!!




“Nak, Ummi sekolah dulu ya.” Itulah kata-kata yang tidak asing kami dengarkan ketika seorang ummahat sedang memberikan pengertian kepada anak mereka sebelum meninggalkan anak-anak mereka bersama kami, para hadonah di sebuah ruangan khusus. 

Mereka bukanlah wanita biasa. Merekalah para mujahidah sejati, pendamping mujahid dakwah yang secara sadar dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa dakwah ini adalah sebuah kewajiban yang tidak hanya diperuntukkan untuk sebagian kaum saja (laki-laki) melainkan juga dibebankan pada diri mereka tanpa meninggalkan kewajiban mereka yang lain, mengurus rumah tangga serta mendidik anak-anak mereka.

Bagi mereka, rumah tangga bukanlah halangan untuk tetap eksis dalam aktivitas dakwah. Waktu mereka tidaklah lebih banyak namun mereka memilih untuk lebih sedikit beristirahat dan kemudian melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka. Setiap harinya mereka berjibaku dengan aktivitas mereka seorang istri. Mempersiapkan segala kebutuhan suami dan anak-anak mereka. Tidak sedikit diantara mereka yang juga bekerja demi membantu menopang perekonomian rumah tangga mereka. Bukan karena merasa kurang dengan nafkah yang diberikan suami, karena banyak dari mereka adalah istri yang qonaah dan santun, mereka cerdas mengolah keuangan rumah tangga baik ketika rezeki melimpah maupun ketika paceklik melanda rumah tangga mereka.

Mereka memahami bahwa tugas berat mereka adalah menghadirkan atmosfer jihad dalam rumah tangga mereka, membentuk keluarga mujahid. Sebagai istri, mereka senantiasa meniupkan semangat dakwah itu kepada sang suami. Ikhwan sekaliber Syaikh Hasan Al-Hudhaibi, keistiqomahannya dalam dakwah tidak lepas dari peran dan keistiqomahan istri yang mendampinginya, Sayidah Ni’mah Ummu Usamah. Komitmen sang istri terhadap dakwah Ilallah sangatlah tinggi tanpa pernah meninggalkan kewajibannya dalam menjaga kemuliaan sang suami. Saat mengantar suami keluar rumah, beliau mengenakan pakaian seindah mungkin dan berdandan layaknya pengantin baru. Hal yang sama beliau lakukan saat menyambut kepulangan sang suami.  Kata-kata semangat selalu mengiringi kepergian suami dan beliau selalu menghadiahkan senyum saat suami tiba dirumah.

Hingga sampai suatu ketika, saat istri seorang menteri datang menjenguk dan bermaksud menghibur Ummu Usamah dan anak-anaknya ketika Syaikh Hasan Al-Hudhaibi dipenjara. Istri menteri tersebut menjelaskan bahwa suaminya tengah mengusahakan agar suami beliau terhindar dari perlakuan tidak baik selama dipenjara. Ummu Usamah berkata dengan tegas, “Sungguh, suamiku telah menjual dirinya untuk Allah dan kami juga menjual diri kami untuk Allah. Bila semua itu terjadi (hukuman mati dijatuhkan) karena takdir Allah maka tidak ada seorangpun akan melihat kami, kecuali dalam ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan, sebab kami serahkan sepenuhnya kepada Allah, kami mengharapkan pahalan_Nya dan kami sangat berbahagia bila dapat menyusulnya sebagai syuhada…” usai berbicara seperti itu, Ummu Usamah menengok kepada ketiga putrinya, “Itu pendapatku, bagaimana pendapat kalian anak-anakku? ” Serempak ketika putrinya menjawab, “Pendapat kami sama dengan pendapatmu, wahai Ibu.”  
 
Semangat bergelora serupa juga dimiliki seorang ibu di Palestina. Dengan lantang ia berkata ”Mereka mengira kami akan gentar dengan sikap buas mereka kepada anak-anak kami. Dengarlah kami akan melahirkan lebih banyak mujahid untuk kami didik menjadi tentara Allah!”  Ia berkata seperti itu setelah melihat anaknya yang masih kecil tertembak mati oleh tentara Yahudi Laknatullah.

Dalam sebuah agenda siyasih, seorang Ustadzah memberikan tausiyah, “Ibu-Ibu, kita harus berkontribusi untuk memenangkan dakwah ini. Kita harus mendorong para suami untuk terlibat dalam agenda siyasih ini. Jangan sampai kita tenang-tenang saja melihat suami kita hanya berdiam diri dirumah sedangkan ikhwan lain sedang bergelut dengan kesibukan dakwah. Jangan sampai baru pukul sepuluh malam, kita sudah sibuk mengotak-atik HP, mengSMS suami untuk pulang padahal kita tahu kesibukan dakwah diluar sana sangat banyak. Atau jangan sampai ketika suami pulang rumah, kita memasang wajah cemberut. Justru seharusnya kita tanyakan “Bi…jam segini koq uda pulang? Apa masang spanduknya uda selesai?”

Disinilah letak perbedaan seorang ummahat dalam sebuah rumah tangga terbina dengan rumah tangga pada umumnya, bahwa disaat mereka sedang berkutat dengan permasalahan dapur, kontrakan rumah, pendidikan dan kesehatan anak, serta permasalahan keluarga lainnya, maka seorang ummahat yang tarbiyah tidak hanya akan mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada permasalahan itu semata melainkan menjadikan permasalahan dakwah juga adalah bagian dari dirinya. Ia menjadikan semua itu sebagai sarana latihan untuk menjelang momentum pengorbanan yang sesungguhnya. Diri, suami dan anak-anaknya dipersembahkannya untuk Allah. Semua ia lakukan karena ia menyakini bahwa janji Allah adalah pasti bagi orang-orang beriman dan Allah tidak pernah menyalahi janji. Kebahagiaan dan keberkahan dalam kehidupan keluarga diperoleh didunia maupun  akhirat. Kelak di ujung jalan panjang ini, Allah akan menghimpun diri dan keluarganya kembali di Jannah-Nya yang kekal.

Seperti keyakinan seorang akhwat, Aminah Quthub atas janji Allah untuk pertemuan dirinya kembali dengan sang suami di firdaus-Nya. Keyakinan itu tersirat dalam syair yang beliau buat saat kematian sang suami:

Aku tidak menunggu kepulangan dan janji-janji senja
Aku tidak menunggu kereta akan kembali membawa secercah harapan
Kau tinggalkan aku mengarungi hari-hari dalam kebisuan derita
Kau lihatkah rinduku untuk surga atau cinta kelangitan
Kau lihatkah janji itu untuk Allah
Sudah tibakah saat pemenuhannya?
Aku berlalu bagai perindu
Sebagai pemabuk yang cinta mendengarkan panggilan
Kau jumpaikah di sana para kekasih
Apa warna pertemuan itu?
Dalam hijaunya surga, dalam firdaus dan gemuruh karunia
Di negeri kebenaran kalian berkumpul
Dalam damai dan perlindungan
Jika memang karena itu, selamat datang kematian berlumur darah
Akankah ku menemuimu disana, tinggalkan negeri derita
Ya, kan kutemui kau di sana
Janji yang diyakini orang-orang yang jujur
Kita dapatkan balasan atas hari-hari yang kita lalui
Dalam derita dan cobaan
Kita kan di jaga dalam kebaikan
Tanpa takut akan perpisahan dan kefanaan.
***

Ukhti, Katakan: Inilah jalanku!!! Orientasi dakwah ini haruslah tertanam pada diri seorang muslimah.  Menyadari kita bukanlah orang yang hebat, yang senantiasa tegar dan teguh dalam permasalahan yang menghampiri, untuk itulah tarbiyah sangat penting untuk mampu menjaga orientasi ini. Tidak hanya untuk para ummahat namun juga untuk semua akhwat harus dipersiapkan melalui kegiatan tarbiyah yang terprogram untuk menjadikan diri mereka sebagai pelaku dakwah, pelaku pembangunan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan tanpa menafikan peran laki-laki dalam pembinaan keluarga. Sehingga keluarga yang terbentuk adalah keluarga yang berkhidmat kepada Islam.  
So Ukhti, sudahkah kita mempersiapkan diri kita menjadi seperti mereka, para Ummahat tangguh???

Allahu ‘alam bi showab
Semoga bermanfaat terutama bagi diri pribadi dan pembaca

Samarinda, 23 Oktober 2011

Ditulis dengan penuh keimanan dan harapan setelah menjalankan tugas sebagai hadonah ^^

*hadonah: akhwat yang bertugas mengasuh anak-anak kader yang sedang mengikuti acara dakwah 
*Ummahat: akhwat yang telah berumah tangga.

1 komentar:

Naqiyyah Syam mengatakan...

bagus banget ilmunya:)

Posting Komentar