Kehilangan itu baru terasa setelah kita membutuhkannya..
Yah mungkin
inilah yg menjadi catatan muhasabah ramadhan lalu.
Kini..dalam hitungan jam
kedepan, Ramadhan kembali menyapa.
Semoga kita semua dberi kesempatan
umur
Dan hati yang khusyuk meraih berkah di ramadhan kali ini.
Saudaraku,
Menyadari
jatah hidup yang sangat singkat ini,
Semestinya Ramadhan dengan
keutamaannya yang melimpah kita maknai
Sebagai barang mahal yang mahal tak
ternilai.
Harinya, siangnya, malamnya, mungkin berjalan seperti
hari-hari sebelumnya.
Mataharinya terbit dari timur lalu tenggelam di ufuk
barat.
Tidak saudaraku,ada berjuta kemuliaan di dalamnya.
Ada penghargaan berbeda
atas tiap amal di dalamnya.
'Berpuasalah di hari yang sangat panas tuk
menghadapi panjangnya Yaumul Mahsyar.
Shalatlah dua rakaat di gulita
malam tuk mengingat alam kubur!'
Begitulah jawaban Abu Dzar ra. ketika
bertauziyah tentangg bekal hidup perjalanan hidup.
Saudaraku,
Ramadhan
adalah kesempatan yang tidak datang tiap saat.
Dan ketika datangpun tidak menunggu
kesiapan dan keluangan waktu.
Maka kita harus meluangkan waktu dan menyiapkan
diri menyambutnya,
Beramal didalamnya sebanyak-banyaknya agar ketika berlalu
Tidak
timbul penyesalan yang mendalam karena kelalaian kita sendiri.
Saudaraku
Perhatikanlah
apa yang dilakukan Imam Malik Rahimahullah ketika meyambut Ramadhan.
Ia
menutup kitab-kitabnya, tidak berfatwa dan tidak melayani diskusi dengan orang
lain.
Ia hanya mengambil Al-Qur'an dan berkata 'Bulan ini adalah bulan
Ramadhan, bulannya Al-Qur'an.'
Ia lalu menuju ke masjid dan menetap di
dalamnya,
memperbanyak shalat, tilawah dan dzikir sampai bulan Ramadhan
berlalu.
Bagaimana dengan kita?
Semoga ramadhan kali ini mampu kita
lewati sebaik-baiknya
Agar tidak menyesal karena kehilangan kesempatan
yang sangat berharga.
Apa kesalahan kita di Ramadhan tahun lalu?
Semoga tidak terulang di Ramadhan kali ini...amin
Diriwayatkan oleh Jalaludin al-Suyuthi dalam Tafsir al-Durr al-Mantsur, sebuah
dialog antara Nabi besar Muhammad saw sebagai imam dan para sahabatnya sebagai
makmum setelah melaksanakan sholat berjama’ah yang haditsnya telah digubah
menjadi bentuk puisi:
Usai salat kau pandangi kami
Masih dengan senyum yang sejuk itu
Cahayamu, ya Rasul Allah, tak mungkin kulupakan
Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudra dirimu
Ingin kujatuhkan sebutir debuku dalam sahara tak terhinggamu
Kudengar kau berkata lirih:
Ayyul khalqi a’jabu ilaikum imanan?
Siapa mahluk yang imannya paling mempesona?
Malaikat, Ya Rasul Allah
Bagaimana malaikat tak beriman, bukankah mereka berada di samping Tuhan?
Para nabi, Ya Rasul Allah
Bagaimana nabi tak beriman, bukankah kepada mereka turun wahyu Tuhan?
Kami, para sahabatmu, Ya Rasul Allah
Bagaimana kalian tidak beriman, bukankah aku ditengah-tengah kalian?
Telah kalian saksikan apa yang kalian saksikan
Kalau begitu, siapakah mereka Ya Rasul Allah?
Langit Madinah bening
Bumi Madinah hening
Kami termangu
Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona?
Kutahan napasku, kuhentikan detak jantungku, kudengar sabdamu
Yang paling menakjubkan imannya
Mereka yang datang sesudahku beriman padaku,
Padahal tidak pernah melihatku dan berjumpa denganku
Yang paling mempesona imannya
Mereka yang tiba setelah aku tiada yang membenarkanku
Tanpa pernah melihatku
Bukankah kami ini saudaramu juga, Ya Rasul Allah?
Kalian sahabat-sahabatku
Saudaraku adalah mereka yang tidak pernah berjumpa denganku
Mereka beriman pada yang ghaib, mendirikan salat
Menginfakkan sebagian rezeki yang Kami beriman kepada mereka
Kami terpaku
Langit madinah bening
Bumi madinah hening
Kudengar lagi engkau berkata:
Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka
Suaramu parau, butir-butir air matamu tergenang
Kau rindukan mereka, Ya Rasul Allah
Kau dambakan pertemuan dengan mereka ya Nabi Allah
Assalamu’alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wa barakatuh
Dari hadits di atas secara logika kita bisa menilai bahwa apabila kita
beriman pada Nabi Muhammad saw dengan sebenar-benarnya maka insya Allah akan
ada penilaian tersendiri dari Allah, sebuah kelas tersendiri yang membedakan
kita (umat yang ada di dunia ini sesudah Nabi tiada) terhadap sahabat nabi,
nabi-nabi yang sebelumnya, bahkan malaikat sekalipun, sebuah kelas yang spesial
di mata Allah. Subhanallah.
* sebuah renungan di bawah langit samarinda membawa hujan dari syurga...
“Nak,
Ummi sekolah dulu ya.” Itulah
kata-kata yang tidak asing kami dengarkan ketika seorang ummahat sedang
memberikan pengertian kepada anak mereka sebelum meninggalkan anak-anak mereka
bersama kami, para hadonahdi sebuah ruangan khusus.
Mereka bukanlah wanita biasa. Merekalah para
mujahidah sejati, pendamping mujahid dakwah yang secara sadar dan meyakini
dengan sepenuh hati bahwa dakwah ini adalah sebuah kewajiban yang tidak hanya
diperuntukkan untuk sebagian kaum saja (laki-laki) melainkan juga dibebankan
pada diri mereka tanpa meninggalkan kewajiban mereka yang lain, mengurus rumah
tangga serta mendidik anak-anak mereka.
Bagi mereka, rumah tangga bukanlah
halangan untuk tetap eksis dalam aktivitas dakwah. Waktu mereka tidaklah lebih
banyak namun mereka memilih untuk lebih sedikit beristirahat dan kemudian
melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka. Setiap harinya mereka berjibaku dengan
aktivitas mereka seorang istri. Mempersiapkan segala kebutuhan suami dan anak-anak
mereka. Tidak sedikit diantara mereka yang juga bekerja demi membantu menopang
perekonomian rumah tangga mereka. Bukan karena merasa kurang dengan nafkah yang
diberikan suami, karena banyak dari mereka adalah istri yang qonaah dan santun,
mereka cerdas mengolah keuangan rumah tangga baik ketika rezeki melimpah maupun
ketika paceklik melanda rumah tangga mereka.
Mereka memahami bahwa tugas berat mereka
adalah menghadirkan atmosfer jihad dalam rumah tangga mereka, membentuk
keluarga mujahid. Sebagai istri, mereka senantiasa meniupkan semangat dakwah
itu kepada sang suami. Ikhwan sekaliber Syaikh Hasan Al-Hudhaibi, keistiqomahannya
dalam dakwah tidak lepas dari peran dan keistiqomahan istri yang mendampinginya,
Sayidah Ni’mah Ummu Usamah. Komitmen sang istri terhadap dakwah Ilallah sangatlah
tinggi tanpa pernah meninggalkan kewajibannya dalam menjaga kemuliaan sang
suami. Saat mengantar suami keluar rumah, beliau mengenakan pakaian seindah
mungkin dan berdandan layaknya pengantin baru. Hal yang sama beliau lakukan
saat menyambut kepulangan sang suami.
Kata-kata semangat selalu mengiringi kepergian suami dan beliau selalu
menghadiahkan senyum saat suami tiba dirumah.
Hingga sampai suatu ketika, saat istri
seorang menteri datang menjenguk dan bermaksud menghibur Ummu Usamah dan
anak-anaknya ketika Syaikh Hasan Al-Hudhaibi dipenjara. Istri menteri tersebut
menjelaskan bahwa suaminya tengah mengusahakan agar suami beliau terhindar dari
perlakuan tidak baik selama dipenjara. Ummu Usamah berkata dengan tegas, “Sungguh, suamiku telah menjual dirinya untuk
Allah dan kami juga menjual diri kami untuk Allah. Bila semua itu terjadi
(hukuman mati dijatuhkan) karena takdir Allah maka tidak ada seorangpun akan melihat
kami, kecuali dalam ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan, sebab kami
serahkan sepenuhnya kepada Allah, kami mengharapkan pahalan_Nya dan kami sangat
berbahagia bila dapat menyusulnya sebagai syuhada…” usai berbicara seperti
itu, Ummu Usamah menengok kepada ketiga putrinya, “Itu pendapatku, bagaimana pendapat kalian anak-anakku? ” Serempak ketika
putrinya menjawab, “Pendapat kami sama
dengan pendapatmu, wahai Ibu.”
Semangat bergelora serupa juga dimiliki seorang
ibu di Palestina. Dengan lantang ia berkata ”Mereka mengira kami akan gentar dengan sikap buas mereka kepada
anak-anak kami. Dengarlah kami akan melahirkan lebih banyak mujahid untuk kami
didik menjadi tentara Allah!” Ia
berkata seperti itu setelah melihat anaknya yang masih kecil tertembak mati
oleh tentara Yahudi Laknatullah.
Dalam sebuah agenda siyasih, seorang
Ustadzah memberikan tausiyah, “Ibu-Ibu, kita harus berkontribusi untuk
memenangkan dakwah ini. Kita harus mendorong para suami untuk terlibat dalam
agenda siyasih ini. Jangan sampai kita tenang-tenang saja melihat suami kita hanya
berdiam diri dirumah sedangkan ikhwan lain sedang bergelut dengan kesibukan
dakwah. Jangan sampai baru pukul sepuluh malam, kita sudah sibuk mengotak-atik
HP, mengSMS suami untuk pulang padahal kita tahu kesibukan dakwah diluar sana
sangat banyak. Atau jangan sampai ketika suami pulang rumah, kita memasang
wajah cemberut. Justru seharusnya kita tanyakan “Bi…jam segini koq uda pulang?
Apa masang spanduknya uda selesai?”
Disinilah letak perbedaan seorang ummahat
dalam sebuah rumah tangga terbina dengan rumah tangga pada umumnya, bahwa
disaat mereka sedang berkutat dengan permasalahan dapur, kontrakan rumah,
pendidikan dan kesehatan anak, serta permasalahan keluarga lainnya, maka seorang
ummahat yang tarbiyah tidak hanya akan mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada
permasalahan itu semata melainkan menjadikan permasalahan dakwah juga adalah
bagian dari dirinya. Ia menjadikan semua itu sebagai sarana latihan untuk
menjelang momentum pengorbanan yang sesungguhnya. Diri, suami dan anak-anaknya
dipersembahkannya untuk Allah. Semua ia lakukan karena ia menyakini bahwa janji
Allah adalah pasti bagi orang-orang beriman dan Allah tidak pernah menyalahi
janji. Kebahagiaan dan keberkahan dalam kehidupan keluarga diperoleh didunia
maupun akhirat. Kelak di ujung jalan
panjang ini, Allah akan menghimpun diri dan keluarganya kembali di Jannah-Nya
yang kekal.
Seperti keyakinan seorang akhwat, Aminah
Quthub atas janji Allah untuk pertemuan dirinya kembali dengan sang suami di
firdaus-Nya. Keyakinan itu tersirat dalam syair yang beliau buat saat kematian
sang suami:
Aku
tidak menunggu kepulangan dan janji-janji senja
Aku
tidak menunggu kereta akan kembali membawa secercah harapan
Kau
tinggalkan aku mengarungi hari-hari dalam kebisuan derita
Kau
lihatkah rinduku untuk surga atau cinta kelangitan
Kau
lihatkah janji itu untuk Allah
Sudah
tibakah saat pemenuhannya?
Aku
berlalu bagai perindu
Sebagai
pemabuk yang cinta mendengarkan panggilan
Kau
jumpaikah di sana para kekasih
Apa
warna pertemuan itu?
Dalam
hijaunya surga, dalam firdaus dan gemuruh karunia
Di
negeri kebenaran kalian berkumpul
Dalam
damai dan perlindungan
Jika
memang karena itu, selamat datang kematian berlumur darah
Akankah
ku menemuimu disana, tinggalkan negeri derita
Ya,
kan kutemui kau di sana
Janji
yang diyakini orang-orang yang jujur
Kita
dapatkan balasan atas hari-hari yang kita lalui
Dalam
derita dan cobaan
Kita
kan di jaga dalam kebaikan
Tanpa
takut akan perpisahan dan kefanaan.
***
Ukhti,
Katakan: Inilah jalanku!!! Orientasi
dakwah ini haruslah tertanam pada diri seorang muslimah. Menyadari kita bukanlah orang yang hebat, yang
senantiasa tegar dan teguh dalam permasalahan yang menghampiri, untuk itulah
tarbiyah sangat penting untuk mampu menjaga orientasi ini. Tidak hanya untuk
para ummahat namun juga untuk semua akhwat harus dipersiapkan melalui kegiatan
tarbiyah yang terprogram untuk menjadikan diri mereka sebagai pelaku dakwah,
pelaku pembangunan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan tanpa menafikan
peran laki-laki dalam pembinaan keluarga. Sehingga keluarga yang terbentuk
adalah keluarga yang berkhidmat kepada Islam.
So Ukhti, sudahkah kita mempersiapkan
diri kita menjadi seperti mereka, para Ummahat tangguh???
Allahu ‘alam bi showab
Semoga bermanfaat terutama bagi diri
pribadi dan pembaca
Samarinda, 23 Oktober 2011
Ditulis dengan penuh keimanan dan harapan setelah menjalankan
tugas sebagai hadonah ^^
*hadonah: akhwat yang bertugas mengasuh anak-anak kader yang
sedang mengikuti acara dakwah
“Dek, ayo bangun….” Suara dibalik pintu
kamarku itu begitu akrab ditelinga. Ku lihat jam dindingmenunjukkan pukul 02.30 dini hari. Segera ku
bangkitkan dari tempat tidurku, membuka jendela dan melepaskan pandanganku
sejenak ke alam bebas. Semilir angin sejuk sesekali menerpa ke wajahku. Sangat
menyegarkan. Ku buka pintu kamar dan bergegas ke belakang mengambil air wudhu.
Di
ruang tengah, tampak Mbak Wati dan Mbak Diana telah rapi dengan mukena yang
dikenakan.
“Uda solat belum Mbak?
Afwan, butuh waktu untuk mengembalikan ruh dulu hehe…” candaku untuk mencairkan suasana.
“Ayo, ibu imam…” kata Mbak Wati sambil mengiring badan
ini berada diantara keduanya.
“Lha, koq saya Mbak?” protes ku
“Iqob bagi yang telat.
Hehe..” Kali ini Mbak
Diana menggodaku.
“Dimana-mana yang telat,
itu jadi masbuk Mbak. Lagipula saya paling junior disini, jadi bagi yang
hapalannya paling banyak dan paling senior mohon amal sholehnya.” Jawabku.
“Ayo dek, giliranmu jadi
imam malam ini. Yang bacaannya lebih tartil dan indah.” Desak Mbak Wati.
Segera
Mbak Diana melantunkan iqomah. Alhasil ku memimpin tahajjud ketika itu. Segera
ku beristigfar, melapangkan hati dan mengisyaratkan untuk merapatkan shaf kami.
Pada rakaat terakhir, kumembaca surah
Qaaf.
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat
kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat
amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah
kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya
malaikat pengawas yang selalu hadir. Dan datanglah sakaratul maut yang
sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. Dan ditiupkalah
sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri,
bersama dengan dia seorang malaikat, penggiring dan seorang malaikat penyaksi.
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami
singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada
hari itu amat tajam. Dan yang menyertai dia berkata: 'Inilah (catatan amalnya)
yang tersedia pada sisiku'. Allah berfirman: 'Lemparkanlah olehmu berdua ke
dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan
melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan
yang lain beserta Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat'.
Yang menyertai (syetan) dia berkata (pula): 'Ya Tuhan kami, aku tidak
menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh'. Allah
berfirman: 'Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku
dahulu telah memberikan ancaman kepadamu'. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat
diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku. (Dan ingatlah akan)
hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahannam: 'Apakah kamu sudah
penuh?' Dia menjawab: 'Masih adakah tambahan?'". (QS. Qaaf : 16-30).
Tak
bisa ku tahan airmata ini. Seperti malam sebelumnya, Tahajjud malam itu benar-benar
nikmat.
Usai
solat tahajjud, kami biasanya melanjutkan dengan setor hapalan. Tidak ada
batasan jumlah ayat dan surah yang harus dihapalkan. Semua dilakukan sesuai
kesanggupan individu. Jika ingin memurojaah hapalan malam sebelumnya juga tidak
masalah. Hanya saja, ku malu jika keduanya mampu menyetor hapalan lebih banyak.
Sepertinya hal yang sama juga dirasakan keduanya meski tidak pernah di
utarakan.
Di
saat kebersamaan itulah, biasanya kami manfaatkan untuk saling menguatkan,
berbagi cerita mulai permasalahan pribadi, kuliah hingga dakwah di kampus
masing-masing. Sulit memang, menceritakan awal kedekatan hubungan diantara
kami. Semua berjalan begitu saja, entah mulanya seperti apa, tahu-tahu kami
sudah akrab seperti saudara kandung. Berbeda daerah asal serta fakultas namun
dipertemukan di jalan dakwah dan tarbiyah serta tinggal di satu atap.
Kini,
sudah hampir 3,5 tahun hal itu tidak pernah kami lakukan bersama ketika kami
bertiga harus berpisah dan tidak tinggal se-kost lagi. Tidak ada lagi suara
mbak Wati atau Mbak Diana yang mengetuk pintu kamarku membangunkan tahajjud,
tidak ada lagi setor hapalan menjelang subuh. Sungguh ku merindukan saat-saat
itu…
Dua tahun bersama saudara-saudara terbaik
Wajah mereka
memancarkan cahaya keimanan
Akhlak mereka
membuat ku semakin mencintai Allah dan akhirat
tutur kata mereka
menyejukkan hati ini
Mereka mengingatkan
ketika ku lalai
menjadi penerang
ketika ku dalam kegelapan,
menjadi
penghibur ketika ku dalam kesedihan
moga
Allah menghimpun kita kembali dalam Jannah-Nya
Dengan
sedikit tergesa-gesa, ku langkahkan kaki menuju rumah Mbak Ratih yang berada
beberapa meter dari kontrakanku. Terlihat Mbak Ratih sedang berada di teras
rumah mengawasi si kecil, Suci yang sedang asyik bermain.
“Assalamualaykum. Mbak, apa
adik saya menitipkan kunci rumah?’
Tanyaku sambil duduk diteras Mbak Ratih tanpa dipersilahkan.
“Waalaykumussalam. Baru
selesai jaga Mbak Nis?”
Tanya mbak Ratih sambil masuk kedalam rumah, lalu keluar kembali menyerahkan
kunci rumah milik ku.
“Hari ini cukup banyak
kerjaan di Rumah Sakit. Banyak pasien.” Jawabku sambil mengamati si kecil Suci yang sedang bermain.
“Dari tadi, Dewi gak
keliatan? Kemana Mbak?
(Dewi, anak pertama Mbak Ratih usianya 2,5 tahun, selisih 1,5 tahun dengan Suci
adiknya).
“Oh, lagi jalan dengan
ayahnya.”
Meski
baru beberapa bulan pindah ke kontrakan ini, namun keakraban dengan tetangga
disekitar kontarakan, Alhamdulilah berlangsung cukup cepat. Tidak jauh berbeda
dengan kontrakan sebelumnya. Tetangga disini sangat ramah terutama Mbak Ratih sekeluarga.
Hubungan diantara kami bisa dibilang sangat dekat. Beliau sudah menganggapku seperti saudara sendiri. Demikian sebaliknya. Untuk itulah,
disela waktu senggang dirumah, ku seringkali bermain ke rumah beliau, walau sekadar
bermain dengan Dewi atau Suci yang sudah ku anggap seperti adik sendiri.
“Pasti berat ya mengurusi pasien sedemikian
banyak dengan kondisi puasa, apalagi saya liat mbak Nisa jarang sekali
istirahat?” Tanya mbak Ratih kembali.
Dengan
bahasa sederhana ku jelaskan bahwa sebagai muslim tidaklah merasa berat
menjalankan puasa. Karena dengan puasa akan lebih dapat mensucikan jiwa dan
memberi kesempatan beristirahat bagi tubuh.
Mbak Ratih hanya mengangguk-angguk tanda setuju. Sesekali dari mulutnya keluar
kata, "Ooo, begitu."
Setelah
dirasakan cukup lama duduk, ku segera bangkit dari kursi. “Ntar lagi berbuka. Ku pulang dulu ya Mbak. Terima kasih kuncinya.”
“Uda beli bukaan belum?” Tanya Mbak Ratih.
“Belum. Tadi buru-buru jadi
belum beli. Nanti saja sekalian keluar sebelum Tarawih.” Jawabku berlalu meninggalkan rumah Mbak
Ratih.
Tiba
dirumah, ku nyalakan semua lampu dan TV menyetel saluran lokal lalu bergegas
mandi. Setelah itu, ku siapkan iftor (makanan untuk berbuka) seadanya. Segelas
teh hangat sudah cukup. Berada di depan TV menunggu waktu berbuka. Hanya
seorang diri. Adikku yang juga sedang koas,
hari ini sedang jaga sehingga berbuka puasa di Rumah Sakit. Sedang kedua adikku
yang lain, sedang menghabiskan liburan semester di kampung halaman. Pasti kedua
adikku sedang menikmati saat-saat indah berkumpul bersama keluarga disana. Tiba-tiba
muncul kerinduan dengan keluarga dan keinginan mencicipi sup buatan Ummi.
Sesaat
kemudian terdengar pintu rumah diketuk.
“Iya, sebentar.” Ku raih pintu dan membukanya. Ternyata
Mbak Ratih bersama Dewi.
“Masuk Mbak.” Ku persilahkan masuk namun Mbak Ratih
menolak.
“Gak disini saja. Ini buat
berbuka puasa. Dibeli ama Ayah Dewi pas jalan tadi.”
Sebuah
nampan berisi satu mangkuk dan piring yang tertutup serta sebungkus es buah.
“Terima kasih Mbak.”
Mbak
Ratih hanya tersenyum dan berpamitan pulang. Namun tidak dengan Dewi yang memilih
menemaniku berbuka puasa. Sedari tadi, begitu pintu di buka, ia berlari masuk
ke rumah dan tidak ingin pulang.
Ku
buka penutup mangkuk dan piring tersebut. Ternyata semangkuk sup dan beberapa
gorengan. Subhanallah, Allah yang Maha Mengetahui keinginan hamba-Nya. Meski
hanya terbersit sekian detik di hati, ingin menikmati sup, dengan mudah dikabulkan
dengan-Nya. Baru saja, diri ini membayangkan kenikmatan berbuka dengan
keluarga, Allah yang Maha Pengasih tidak membiarkan diri ini berbuka puasa
sendiri melainkan ditemani si malaikat kecil, Dewi.
Tiba-tiba
teringat salah satu firman Allah yang berbunyi: " ... dan memberinya rezki
dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah
niscaya akan mencukupkan keperluannya..." (QS 65:3)
Bisa mengenali dan memiliki keluarga baru disini merupakan salah satu hadiah terindah
ramadhan tahun ini. Ramadhan Kariim penuh berkah, rahmah dan maghfirah
“Saya ingin dicarikan orang tua saja!!!”.
Begitulah pendapat seorang teman dari diskusi yang saya terlibat didalamnya beberapa
waktu lalu. Ada beberapa pandangan yang dikemukakan dan pada akhirnya diskusi
ditutup dengan menghargai pendapat dari semua yang hadir saat itu. Berbicara
masalah jodoh, mungkin topik ini selalu menjadi salah satu topik perbincangan
di tengah pemuda atau pemudi. Dan boleh saja, sering ditanyakan kepada diri kita.
Ketika bertemu orang yang lebih tua misalnya, atau ketika bertemu dengan teman
lama, maka harus dipersiapkan jawaban sebaik-baiknya ketika ditanyakan kapan
akan menikah.
Dalam
mencari pendamping hidup, jika kita tidak cerdas menyikapinya, maka boleh saja
kitapun salah dalam mengambil langkah. Seperti yang pernah disampaikan oleh
salah seorang sahabat yang menceritakan kesedihannya melihat tingkah laku
seorang akhwat yang dulunya aktif dakwah kini futur ketika ujian cinta datang
menghampirinya. Sahabat itu tidak
menyangka akhwat tersebut yang dulunya sangat semangat dan rela mengorbankan
apa saja demi kepentingan da’wah kini rela melakukan apa saja demi menyenangkan
hati lelaki yang sangat didambakannya menjadi pendamping hidupnya kelak. Semoga
kejadian ini mampu menjadi pelajaran bagi kita semua.
Lalu,
bagaimana sebenarnya cara mencari/memilih pasangan hidup sesuai syariat dan
diajarkan Rasulullah SAW? Dalam buku “15 Cara & Langkah Mendapatkan Jodoh” , Drs.
M. Thalib memberikan penjelasan.
Pertama, Mengusulkan kepada Orang Tua
"Salah seorang di antara kedua wanita itu berkata, 'Ya Bapakku, ambillah
ia sebagai orang yang bekerja (kepada kita) karena sesungguhnya orang yang
paling baik engkau ambil untuk bekerja (kepada kita) ialah orang yang kuat lagi
dapat dipercaya." (Al-Qashash: 26).
Ayat di atas mengisahkan dua putri Nabi Syuaib yang ditolong Musa saat memberi
minum domba gembalannya di sebuah telaga. Telaga tersebut saat itu dipenuhi
penggembala laki-laki yang menggiring dombanya untuk diberi minum. Setelah
menerima pertolongan Musa, salah seorang putrid Nabi Syuaib mendapat kesan
mendalam terhadapnya. Setiba di hadapan ayahnya dia menceritakan kejadian
tersebut. Nabi Syuaib lalu meminta agar laki-laki yang menolongnya itu
dipanggil. Setelah Musa menghadap Nabi Syuaib, salah seorang putrinya
mengusulkan agar ayahnya mempekerjakan pemuda ini karena seorang yang kuat lagi
jujur.
Nabi Syuaib memahami keinginan putrinya yang tersembunyi di balik usulnya.
Sebagai seorang ayah yang bijaksana dan halus dalam memahami perasaan putrinya,
Nabi Syuaib menyetujui usul putrinya. Beliau kemudian menawarkan kepada Musa
untuk bekerja di tempatnya dengan imbalan dinikahkan dengan putrinya yang
tertarik kepadanya. Akhirnya Musa menyetujui tawaran Nabi Syuaib untuk bekerja
selama delapan tahun dan sesudah itu dia akan menjadi suami putri Nabi Syuaib
yang menginginkannya.
Langkah yang ditempuh putri Nabi Syuaib ini merupakan langkah tepat untuk
berkompromi dengan orang tuanya. Dengan langkah tersebut, keinginannya untuk
mendapatkan laki-laki idamannya terpenuhi dan kehendak orang tua juga
terlaksana karena calon yang diajukannya benar-benar sesuai dengan persyaratan
agama.
Masyarakat dan syariat Islam memandang bahwa mengusulkan jodoh kepada orang tua
sebagaimana yang dilakukan putrid Nabi Syuaib bukanlah langkah tercela. Langkah
ini telah ditempuh oleh keluarga terhormat (keluarga Nabi Syuaib) sebagaimana
diuraikan oleh Allah di dalam Alquran. Hal ini dimaksudkan memberi pelajaran
bagi umat Islam bahwa mereka dapat menempuh langkah ini untuk mendapatkan
jodoh. Anak perempuan yang menginginkan seorang laki-laki dapat mengusulkan
kepada orang tuanya agar meminta lelaki yang bersangkutan menjadi suaminya.
Demikian halnya anak laki-laki, ia bisa mengusulkan calon istri kepada orang
tuanya.
Langkah mengusulkan jodoh kepada orang tua mencerminkan bahwa seorang anak
tetap menghargai turut campurnya orang tua dalam memilihkan jodoh untuk
dirinya. Langkah ini mengisyaratkan adanya hak anak untuk menentukan calon
suami atau calon istrinya tanpa mengesampingkan orang tua. Dengan langkah ini,
titik temu antara kepentingan orang tua dan anak dalam memilih jodoh dapat
diperoleh. Adanya kemerdekaan atau kebebasan anak dan orang tua dalam
menyatakan keinginan dan pendapatnya menghasilkan kesepakatan yang memuaskan
kedua belah pihak. Hal ini memberi pelajaran kepada segenap orang tua muslim
bahwa pendapat dan penilaian putra-putrinya dalam memilih jodoh harus dihargai.
Dalam mengusulkan jodoh kepada orang tuanya, anak harus memiliki persamaan
pedoman dengan orang tua agar tercapai keinginannya. Keduanya harus ikhlas dan
memiliki kesungguhan untuk mematuhi ketentuan agama untuk menghindari munculnya
perselisihan yang menimbulkan permusuhan antara orang tua dan anak dalam usaha
mendapatkan jodoh.
Sebaliknya, terhadap calon yang diusulkan anak, orang tua hendaknya melakukan
pengenalan dan penelitian tentang akhlak dan kualitas keislamannya. Bila calon
yang diajukan memenuhi syarat yang digariskan agama, tidak ada alasan bagi
mereka untuk mempersulit atau menolaknya.
Ringkasnya, perempuan atau laki-laki, yang tidak menginginkan terjadinya
konflik dengan orang tuanya saat memilih jodoh, dapat menempuh langkah seperti
yang dilakukan oleh putri Nabi Syuaib
Kedua, Memilih Sendiri atau Menanti Pinangan
Abdurrahman bin Auf berkata kepada Ummu Hakim binti Qarizh, "Maukah kamu
menyerahkan urusanmu kepadaku?" Ia menjawab, "Baiklah." Ia
berkata, "Kalau begitu, baiklah kamu saya nikahi." (HR Bukhari).
"… dan tidak berdosa kamu meminang wanita-wanita itu dengan sendirian atau
kamu menyembunyikan (keinginan menikahi mereka) dalam hatimu …."
(Al-Baqarah: 235).
Hadis di atas menerangkan bahwa Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Rasulullah
saw. datang kepada Ummu Hakim, salah seorang perempuan sahabat Nabi saw. Kepada
perempuan itu Abdurrahman bin Auf meminta untuk menyerahkan urusan mencari
calon suami dan pernikahannya kepada dirinya. Ummu Hakim kemudian menyerahkan
hal itu kepada Abdurrahman bin Auf. Abdurrahman pun mengatakan kepada Ummu
Hakim bahwa dia sendiri yang menikahinya.
Hadis di atas menjelaskan bahwa Abdurrahman memilih sendiri Ummu Hakim sebagai
istrinya dan tidak dijodohkan atau dipilihkan orang lain.
Seseorang yang ingin menikah dibenarkan oleh Islam mencari sendiri calonnya,
bahkan boleh menikahkan dirinya sendiri kepada perempuan yang dinikahinya,
seperti yang dilakukan oleh sahabat Abdurrahman bin Auf. Pernikahan seperti ini
sah karena perbuatan Abdurrahman tidak pernah disalahkan oleh para sahabat atau
Nabi saw.
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa seorang perempuan yang ingin menikah boleh
berlaku pasif untuk mendapatkan jodohnya. Ia menanti pinangan seorang laki-laki
yang datang bermaksud menjadikan dirinya sebagai istri.
Seorang perempuan yang menanti pinangan haruslah tetap menjaga ketentuan agama
mengenai sifat laki-laki yang baik menjadi suami. Ini bertujuan supaya kelak ia
tidak terjerumus ke dalam kehidupan rumah tangga yang merugikan dirinya. Ia
tidak seharusnya tergesa-gesa menerima pinangan sebelum melakukan penelitian dengan
baik dan melakukan istikharah serta minta pertimbangan kepada orang-orang yang
jujur. Selain itu, dalam masa penantian, ia perlu berdoa dan melakukan ibadah
sunah, seperti puasa Dawud, bersedekah, dan salat hajat agar diberi kemudahan
oleh Allah dalam mendapatkan jodoh.
Islam membenarkan seseorang memilih sendiri calon suami atau calon istrinya.
Cara ini sudah berjalan berabad-abad dan tetap dipertahankan oleh Islam sebagai
tatanan yang benar. Sebaliknya, wanita dibenarkan menanti pinangan dari seorang
laki-laki. Oleh karena itu, tidaklah tercela seorang perempuan bersikap pasif
dalam mencari jodoh, karena hal tersebut juga tidak terlarang oleh Islam.
Ketiga, Menerima
Pilihan Orang Tua
Dari Aisyah, ia berkata, "Telah datang seorang perempuan kepada Rasulullah
saw., lalu berkata, 'Ya Rasulullah, ayah saya telah menikahkan saya dengan
keponakannya agar dapat meringankan beban dirinya.' Maka, beliau menyerahkan
urusan ini kepadanya. Perempuan itu lalu berkata, 'Saya benarkan apa yang
dilakukan ayah saya, tetapi saya ingin agar kaum perempuan tahu bahwa para
bapak tidak mempunyai hak sedikit pun dalam urusan ini'." (HR Ahmad).
Hadis di atas mengisahkan seorang ayah yang menjodohkan putrinya dengan lelaki
pilihannya. Perempuan tersebut kemudian mengadukan kejadian itu kepada
Rasulullah saw. Beliau akhirnya menyerahkan penyelesaian masalah itu kepadanya.
Ia ternyata bersedia menerima lelaki pilihan orang tuanya untuk dijadikan
suami. Tetapi, di hadapan orang banyak dia ingin menyatakan bahwa menjodohkan
anak--seperti yang terjadi pada dirinya--bukan hak mutlak orang tua. Artinya,
jika anak menolak, orang tua tidak boleh memaksa. Sikap ini dibenarkan oleh
Rasulullah saw.
Kasus yang terdapat dalam hadis di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa
salah satu langkah mendapatkan jodoh ialah menerima pilihan orang tua.
Pernikahan seorang perempuan atau laki-laki dengan pasangan yang dipilihkan
orang tuanya sah menurut Islam. Oleh karena itu, seorang perempuan atau
laki-laki yang dipilihkan jodohnya oleh orang tua tidak perlu merasa hak-haknya
diabaikan. Islam mengakui bahwa setiap orang bebas mendapatkan jodoh yang
diinginkannya. Akan tetapi, ternyata yang bersangkutan tidak mampu
mendapatkannya, sedangkan orang tua dapat mengusahakan, Islam membenarkan anak
menerima pilihan orang tuanya.
Anak, perempuan atau laki-laki, yang dipilihkan jodohnya oleh orang tua
hendaklah menanggapi secara baik. Jika calon tersebut memenuhi criteria dan
syarat yang digariskan Islam, hendaklah ia lebih mengutamakan pilihan orang tua
daripada menantikan yang tidak pasti. Pada awalnya mungkin sekali anak tidak
tertarik kepada pilihan orang tua, namun ia bisa mengamati kelebihan calon
pasangannya sebagai daya tariknya. Banyak anak, perempuan maupun laki-laki,
lebih mementingkan pilihannya sendiri hanya karena pilihan orang tua sepintas
dipandang kurang cocok di hatinya, bukan karena yang bersangkutan tidak
memenuhi criteria dan syarat yang digariskan oleh Islam. Akibatnya, calon yang
diharapkannya tidak kunjung muncul sehingga sangat terlambat baginya untuk
berumah tangga.
Oleh karena itu, seseorang bisa mendapatkan jodoh dengan menerima pilihan orang
tua. Selama calon yang diajukan oleh orang tua memenuhi criteria yang digariskan
oleh Islam, anak sebaiknya mempertimbangkan pilihan tersebut dengan baik. Insya
Allah, langkah ini akan membawa berkah baginya sehingga terhindar dari
keterlambatan berumah tangga atau melajang seumur hidup.
Keempat,Menerima
Tawaran
Dari Alqamah bin Qais , ia berkata, Saya pernah bersama Abdullah bin Mas'ud di
Mina, lal ia pergi menyendiri bersama Utsman, kemudian aku duduk bersamanya,
lalu Utsman berkata kepadanya, "Maukah engkau saya nikahkan dengan seorang
budak perempuan yang masih gadis, supaya kelak dapat mengingatkan engkau
mengenai beberapa peristiwa yang telah lalu?" Tatkala Utsman mengetahui
bahwa Abdullah tidak mempunyai keinginan terhadap perempuan itu, ia lalu
memberi isyarat dengan tangannya kepadaku, lalu aku datang kepadanya, kemudian
ia berkata, "Kalau engkau memang mau menikahinya, sesungguhnya Rasulullah
saw. telah bersabda, 'Wahai para pemuda, siapa di antara kamu yang sanggup
untuk menikah, hendaklah ia menikah, karena pernikahan itu lebih dekat
memelihara pandangan dan memelihara kemaluan. Akan tetapi, barang siapa belum
sanggup, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu merupakan pengebirian bagi
dirinya'." (HR Ibnu Majah).
Hadis di atas mengisahkan salah seorang sahabat Rasulullah saw., Alqamah, yang
ditawari Abdullah bin Mas'ud untuk menikah dengan seorang perempuan yang semula
ditawarkan Utsman kepada Abdullah. Karena tidak berminat, Abdullah bin Mas'ud
mengalihkannya kepada Alqamah.
Kisah tersebut memberi gambaran kepada kita bahwa menerima tawaran calon suami atau
calon istri dari seseorang bukanlah tindakan yang tercela. Syariat Islam
membenarkan langkah tersebut. Langkah ini boleh dilakukan setelah mendapat
persetujuan dari orang yang ditawarkan atau tanpa sepengetahuannya. Bila upaya
ini dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang ditawarkan, orang tersebut
mempunyai hak untuk menolak atau menerima.
Di lingkungan kaum muslim pada masa sahabat, langkah ini tidak dianggap sebagai
tindakan yang merendahkan martabat. Oleh karena itu, seseorang tidak perlu
merasa direndahkan bila ada tawaran dari seseorang untuk menjadi istri atau
suami sesama kaum muslim yang menaruh simpati kepadanya. Bahkan, mereka
seharusnya berterima kasih atas tindakan tersebut. Mereka seharusnya menyadari
bahwa hal ini menunjukkan adanya solidaritas dan rasa persaudaraan yang tinggi
dalam masyarakatnya, sehingga masyarakat tidak membiarkan orang-orang yang
sangat ingin hidup berumah tangga, melajang, yang pada akhirnya dapat
menimbulkan kerusakan di masyarakat.
Bila seorang laki-laki atau perempuan ditawari oleh orang lain untuk menikah
dengan orang yang ditawarkan kepadanya, hendaklah dia memperhatikan akhlak,
ketaatan ibadah, kejujuran, dan keikhlasan orang yang menawarinya. Ia tidak
seharusnya mempercayai begitu saja orang yang menawarkan seseorang kepadanya
untuk menjadi calon pasangannya, karena belum tentu yang bersangkutan mempunyai
tujuan baik dan dapat dipertanggungjawabkan perbuatannya. Boleh jadi orang yang
memberi tawaran ini bermaksud hanya menutup rasa malu dirinya atau bertujuan menyengsarakan
orang yang ditawari. Jadi, hendaklah ia benar-benar meneliti dengan saksama
akhlak dan pribadi orang yang memberi tawaran dan juga calon yang ditawarkan.
Tegasnya, muslim atau muslimah yang ditawari seseorang untuk dijadikan istri
atau suami, baik oleh teman, kerabat, maupun majikannya, hendaklah menyambut
baik tawaran tersebut dan tidak menganggap sebagai penghinaan. Sekali lagi,
Islam tidak menganggap hina hal tersebut, terbukti dilakukan dalam kehidupan
kaum muslim pada masa para sahabat Nabi saw. Mereka adalah masyarakat muslim
terbaik yang mendapat jaminan dari Allah untuk menjadi ahli surga.
Kelima,
Minta Dicarikan
Rasulullah saw. bersabda kepada Ukaf bin Wida'ah al-Hilali, "Apakah engkau
telah beristri, wahai Ukaf?" Ia menjawab, "Belum." Beliau
bersabda, "Tidakkah engkau mempunyai budak perempuan?" Ia menjawab,
"Tidak."
Beliau bersabda, "Bukankah engkau sehat lagi berkemampuan?"Ia
menjawab, "Ya, alhamdulillah." Rasulullah saw. bersabda, "Kalau
begitu, engkau termasuk teman setan, karena engkau mungkin termasuk pendeta
nasrani. Hal itu berarti engkau masuk dalam golongan mereka, atau mungkin
engkau termasuk golongan kami sehingga hendaklah kamu berbuat seperti yang
menjadi kebiasaan kami, sedangkan kebiasaan kami adalah beristri. Orang yang
paling durhaka di antara kamu adalah orang yang membujang; orang mati yang
paling hina di antara kamu adalah orang yang membujang. Sungguh celakalah kamu,
wahai Ukaf. Menikahlah!" Ukaf lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku
tidak akan mau menikah sebelum engkau yang menikahkan aku dengan orang yang
engkau sukai." Rasulullah saw. bersabda, "Kalau begitu, dengan nama
Allah dan dengan berkah-Nya, aku nikahkan engkau dengan Kultsum
al-Humairi." (HR Ibnu Atsir dan Ibnu Hajar).
Hadis tersebut mengisahkan kasus Ukaf,
seorang pemuda yang tergolong cukup namun belum beristri, bahkan berniat
membujang. Oleh Rasulullah, Ukaf ditegur dan diperintahkan untuk menikah.
Beliau menyatakan bahwa membujang bertentangan dengan anjuran Islam. Setelah
mendapat teguran dari Rasulullah, Ukaf kemudian mengatakan bahwa dia tidak akan
menikah sebelum Rasulullah sendiri yang memilihkan jodoh untuknya. Hal ini
mengisyaratkan bahwa Ukaf meminta pertolongan kepada Rasulullah untuk
mencarikan istri bagi dirinya.
Dari kasus di atas kita memperoleh
pelajaran bahwa bila seorang laki-laki atau perempuan tidak dapat mencari
sendiri calon istri atau calon suaminya, ia dapat meminta bantuan orang lain
untuk mencarikan jodohnya. Ukaf--dalam kasus ini--berterus terang meminta
kepada Rasulullah untuk mencarikan jodoh baginya. Beliau kemudian mengabulkan
permintaannya sehingga Ukaf akhirnya mendapatkan jodoh.
Seseorang mengalami kesulitan atau tidak
mampu mencari jodoh sendiri seperti yang dialami Ukaf kemungkinan disebabkan
beberapa hal.
1.Ia merasa minder meminang perempuan
karena pendidikannya rendah, miskin, atau wajahnya yang kurang tampan. Salah
satu dari sebab-sebab ini membuatnya tidak berani meminta seorang perempuan
untuk menjadi istrinya. Orang seperti ini dapat meminta bantuan orang ketiga
yang dipercayainya untuk mencarikan jodoh baginya.
2.Ia takut melamar perempuan untuk
dijadikan istri karena perbedaan lingkungan budaya atau tradisi. Perbedaan
tradisi atau budaya dikhawatirkan akan menjadi kendala dalam menciptakan
pergaulan suami istri secara harmonis. Oleh karena itu, yang bersangkutan tidak
berani melamar walaupun perempuan itu sangat dicintainya. Hal ini dapat diatasi
dengan meminta orang ketiga untuk mencarikan jodoh yang mau menerima keadaan
dirinya dan bersedia menyesuaikan diri dengan tradisi dan budayanya.
3.Ia tidak punya kesempatan untuk memilih
jodoh yang benar-benar baik karena sibuk bekerja. Bila hal ini yang menjadi
penyebabnya, dia dapat meminta jasa orang ketiga untuk mencarikan jodoh yang
diingkarinya. Cara ini memungkinkan dirinya mendapatkan orang yang hendak
dijadikan istri atau suami tanpa membuang waktu kerjanya.
Alasan
apa pun yang dikemukakan seseorang yang merasa dirinya sulit mendapatkan jodoh,
sebenarnya dapat diatasi dengan langkah tersebut. Muslim atau muslimah tidak
perlu merasa malu atau rendah diri meminta tolong kepada orang ketiga untuk
mencarikan jodoh karena langkah ini telah dilakukan oleh sahabat Rasulullah,
yaitu Ukaf. Sebagaimana Ukaf meminta Rasulullah mencarikan jodoh untuknya,
siapa pun dapat melakukan hal yang sama, kapan dan di mana saja. Orang-orang
yang dimintai tolong tersebut umumnya akan mengabulkan permintaan yang
bersangkutan dengan gembira dan sukarela.
Orang
ketiga yang dimintai mencarikan jodoh hendaklah yang dapat dipercaya. Mereka ini
harus kita pilih yang akhlaknya baik, amanah, dan tahu persis siapa yang pantas
menjadi calon bagi orang yang meminta jasa baiknya, serta memiliki pengaruh
dalam lingkungannya sehingga yang diminta menjadi istri atau suami akan
mempercayainya. Selain itu, dia harus orang yang cermat dalam engamati
kepribadian orang lain agar terhindar dari kecerobohan, misalnya mempercayai
orang yang tidak baik akhlak atau ketaatannya dalam beragama. Dia hendaknya
juga memiliki pengalaman mencarikan jodoh bagi orang lain.
Biro-biro
jodoh yang banyak bermunculan di tengah masyarakat sekarang ini belum tentu
dapat dipertanggungjawabkan kualitas kejujuran, kecermatan, akhlak, dan
agamanya. Oleh karena itu, kita perlu meneliti biro-biro seperti ini terlebih
dahulu, apakah akhlak dan agama pengurus dan orang yang ditawarkannya baik atau
tidak. Kita sebaiknya tidak mudah percaya kepada propaganda mereka sebelum
mengetahui betul bagaimana kualitas keislaman dan akhlaknya.
Ringkasnya,
seorang laki-laki atau perempuan yang merasa sulit mencari jodohnya hendaklah
tidak segan-segan meminta tolong kepada orang lain untuk mencarikannya. Insya
Allah, dengan perantaraan orang lain, ia akan mendapatkan jodoh yang menjadi
harapannya.