Tampilkan postingan dengan label Catatan Seorang Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Seorang Muslimah. Tampilkan semua postingan

Apa Kesalahan Kita di Ramadhan Lalu??

Kehilangan itu baru terasa setelah kita membutuhkannya..
Yah mungkin inilah yg menjadi catatan muhasabah ramadhan lalu.
Kini..dalam hitungan jam kedepan, Ramadhan kembali menyapa.
Semoga kita semua dberi kesempatan umur
Dan hati yang khusyuk meraih berkah di ramadhan kali ini.

Saudaraku,
Menyadari jatah hidup yang sangat singkat ini,
Semestinya Ramadhan dengan keutamaannya yang melimpah kita maknai
Sebagai barang mahal yang mahal tak ternilai.
Harinya, siangnya, malamnya, mungkin berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Mataharinya terbit dari timur lalu tenggelam di ufuk barat.
Tidak saudaraku,ada berjuta kemuliaan di dalamnya.
Ada penghargaan berbeda atas tiap amal di dalamnya.
'Berpuasalah di hari yang sangat panas tuk menghadapi panjangnya Yaumul Mahsyar.
Shalatlah dua rakaat di gulita malam tuk mengingat alam kubur!'
Begitulah jawaban Abu Dzar ra. ketika bertauziyah tentangg bekal hidup perjalanan hidup.

Saudaraku,
Ramadhan adalah kesempatan yang tidak datang tiap saat.
Dan ketika datangpun tidak menunggu kesiapan dan keluangan waktu.
Maka kita harus meluangkan waktu dan menyiapkan diri menyambutnya,
Beramal didalamnya sebanyak-banyaknya agar ketika berlalu
Tidak timbul penyesalan yang mendalam karena kelalaian kita sendiri.

Saudaraku
Perhatikanlah apa yang dilakukan Imam Malik Rahimahullah  ketika meyambut Ramadhan.
Ia menutup kitab-kitabnya, tidak berfatwa dan tidak melayani diskusi dengan orang lain.
Ia hanya mengambil Al-Qur'an dan berkata 'Bulan ini adalah bulan Ramadhan, bulannya Al-Qur'an.'
Ia lalu menuju ke masjid dan menetap di dalamnya,
memperbanyak shalat, tilawah dan dzikir sampai bulan Ramadhan berlalu.

Bagaimana dengan kita?
Semoga ramadhan kali ini mampu kita lewati sebaik-baiknya
Agar tidak menyesal karena kehilangan kesempatan yang sangat berharga.
Apa kesalahan kita di Ramadhan tahun lalu?
Semoga tidak terulang di Ramadhan kali ini...amin

Allahu a'lam Bishowab

Kawan


Kawan,
Mari berjalan bergandeng tangan
Perjalanan ini masih panjang
Gunung,lembah dan sahara menghadang
Jauh lebih mudah kita hadapi
Jika kita tidak sendiri

Kawan,
Mari kita mulai membaca
Mengeja semesta
Menata Alif Ba Ta cinta
Mencari-cari Sang Pencipta

Kawan,
Bersama tiap rinai doa
Ada namamu diiringi pinta
Semoga kita tetap bersama
Meski dimana kita berada
Dan semoga Allah di hatimu,di hatiku
Dalam tiap waktu...

Kembali...Rindu ini melangit lagi!!!


Diriwayatkan oleh Jalaludin al-Suyuthi dalam Tafsir al-Durr al-Mantsur, sebuah dialog antara Nabi besar Muhammad saw sebagai imam dan para sahabatnya sebagai makmum setelah melaksanakan sholat berjama’ah yang haditsnya telah digubah menjadi bentuk puisi:


Usai salat kau pandangi kami
Masih dengan senyum yang sejuk itu
Cahayamu, ya Rasul Allah, tak mungkin kulupakan
Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudra dirimu
Ingin kujatuhkan sebutir debuku dalam sahara tak terhinggamu

Kudengar kau berkata lirih:
Ayyul khalqi a’jabu ilaikum imanan?
Siapa mahluk yang imannya paling mempesona?
Malaikat, Ya Rasul Allah
Bagaimana malaikat tak beriman, bukankah mereka berada di samping Tuhan?
Para nabi, Ya Rasul Allah
Bagaimana nabi tak beriman, bukankah kepada mereka turun wahyu Tuhan?
Kami, para sahabatmu, Ya Rasul Allah
Bagaimana kalian tidak beriman, bukankah aku ditengah-tengah kalian?
Telah kalian saksikan apa yang kalian saksikan

Kalau begitu, siapakah mereka Ya Rasul Allah?

Langit Madinah bening
Bumi Madinah hening
Kami termangu

Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona?

Kutahan napasku, kuhentikan detak jantungku, kudengar sabdamu
Yang paling menakjubkan imannya
Mereka yang datang sesudahku beriman padaku,
Padahal tidak pernah melihatku dan berjumpa denganku
Yang paling mempesona imannya
Mereka yang tiba setelah aku tiada yang membenarkanku
Tanpa pernah melihatku
Bukankah kami ini saudaramu juga, Ya Rasul Allah?
Kalian sahabat-sahabatku
Saudaraku adalah mereka yang tidak pernah berjumpa denganku
Mereka beriman pada yang ghaib, mendirikan salat
Menginfakkan sebagian rezeki yang Kami beriman kepada mereka

Kami terpaku
Langit madinah bening
Bumi madinah hening

Kudengar lagi engkau berkata:
Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka
Suaramu parau, butir-butir air matamu tergenang
Kau rindukan mereka, Ya Rasul Allah
Kau dambakan pertemuan dengan mereka ya Nabi Allah
Assalamu’alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wa barakatuh



Dari hadits di atas secara logika kita bisa menilai bahwa apabila kita beriman pada Nabi Muhammad saw dengan sebenar-benarnya maka insya Allah akan ada penilaian tersendiri dari Allah, sebuah kelas tersendiri yang membedakan kita (umat yang ada di dunia ini sesudah Nabi tiada) terhadap sahabat nabi, nabi-nabi yang sebelumnya, bahkan malaikat sekalipun, sebuah kelas yang spesial di mata Allah. Subhanallah.


* sebuah renungan di bawah langit samarinda membawa hujan dari syurga...

UKHTI, KATAKAN: INILAH JALANKU!!!




“Nak, Ummi sekolah dulu ya.” Itulah kata-kata yang tidak asing kami dengarkan ketika seorang ummahat sedang memberikan pengertian kepada anak mereka sebelum meninggalkan anak-anak mereka bersama kami, para hadonah di sebuah ruangan khusus. 

Mereka bukanlah wanita biasa. Merekalah para mujahidah sejati, pendamping mujahid dakwah yang secara sadar dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa dakwah ini adalah sebuah kewajiban yang tidak hanya diperuntukkan untuk sebagian kaum saja (laki-laki) melainkan juga dibebankan pada diri mereka tanpa meninggalkan kewajiban mereka yang lain, mengurus rumah tangga serta mendidik anak-anak mereka.

Bagi mereka, rumah tangga bukanlah halangan untuk tetap eksis dalam aktivitas dakwah. Waktu mereka tidaklah lebih banyak namun mereka memilih untuk lebih sedikit beristirahat dan kemudian melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka. Setiap harinya mereka berjibaku dengan aktivitas mereka seorang istri. Mempersiapkan segala kebutuhan suami dan anak-anak mereka. Tidak sedikit diantara mereka yang juga bekerja demi membantu menopang perekonomian rumah tangga mereka. Bukan karena merasa kurang dengan nafkah yang diberikan suami, karena banyak dari mereka adalah istri yang qonaah dan santun, mereka cerdas mengolah keuangan rumah tangga baik ketika rezeki melimpah maupun ketika paceklik melanda rumah tangga mereka.

Mereka memahami bahwa tugas berat mereka adalah menghadirkan atmosfer jihad dalam rumah tangga mereka, membentuk keluarga mujahid. Sebagai istri, mereka senantiasa meniupkan semangat dakwah itu kepada sang suami. Ikhwan sekaliber Syaikh Hasan Al-Hudhaibi, keistiqomahannya dalam dakwah tidak lepas dari peran dan keistiqomahan istri yang mendampinginya, Sayidah Ni’mah Ummu Usamah. Komitmen sang istri terhadap dakwah Ilallah sangatlah tinggi tanpa pernah meninggalkan kewajibannya dalam menjaga kemuliaan sang suami. Saat mengantar suami keluar rumah, beliau mengenakan pakaian seindah mungkin dan berdandan layaknya pengantin baru. Hal yang sama beliau lakukan saat menyambut kepulangan sang suami.  Kata-kata semangat selalu mengiringi kepergian suami dan beliau selalu menghadiahkan senyum saat suami tiba dirumah.

Hingga sampai suatu ketika, saat istri seorang menteri datang menjenguk dan bermaksud menghibur Ummu Usamah dan anak-anaknya ketika Syaikh Hasan Al-Hudhaibi dipenjara. Istri menteri tersebut menjelaskan bahwa suaminya tengah mengusahakan agar suami beliau terhindar dari perlakuan tidak baik selama dipenjara. Ummu Usamah berkata dengan tegas, “Sungguh, suamiku telah menjual dirinya untuk Allah dan kami juga menjual diri kami untuk Allah. Bila semua itu terjadi (hukuman mati dijatuhkan) karena takdir Allah maka tidak ada seorangpun akan melihat kami, kecuali dalam ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan, sebab kami serahkan sepenuhnya kepada Allah, kami mengharapkan pahalan_Nya dan kami sangat berbahagia bila dapat menyusulnya sebagai syuhada…” usai berbicara seperti itu, Ummu Usamah menengok kepada ketiga putrinya, “Itu pendapatku, bagaimana pendapat kalian anak-anakku? ” Serempak ketika putrinya menjawab, “Pendapat kami sama dengan pendapatmu, wahai Ibu.”  
 
Semangat bergelora serupa juga dimiliki seorang ibu di Palestina. Dengan lantang ia berkata ”Mereka mengira kami akan gentar dengan sikap buas mereka kepada anak-anak kami. Dengarlah kami akan melahirkan lebih banyak mujahid untuk kami didik menjadi tentara Allah!”  Ia berkata seperti itu setelah melihat anaknya yang masih kecil tertembak mati oleh tentara Yahudi Laknatullah.

Dalam sebuah agenda siyasih, seorang Ustadzah memberikan tausiyah, “Ibu-Ibu, kita harus berkontribusi untuk memenangkan dakwah ini. Kita harus mendorong para suami untuk terlibat dalam agenda siyasih ini. Jangan sampai kita tenang-tenang saja melihat suami kita hanya berdiam diri dirumah sedangkan ikhwan lain sedang bergelut dengan kesibukan dakwah. Jangan sampai baru pukul sepuluh malam, kita sudah sibuk mengotak-atik HP, mengSMS suami untuk pulang padahal kita tahu kesibukan dakwah diluar sana sangat banyak. Atau jangan sampai ketika suami pulang rumah, kita memasang wajah cemberut. Justru seharusnya kita tanyakan “Bi…jam segini koq uda pulang? Apa masang spanduknya uda selesai?”

Disinilah letak perbedaan seorang ummahat dalam sebuah rumah tangga terbina dengan rumah tangga pada umumnya, bahwa disaat mereka sedang berkutat dengan permasalahan dapur, kontrakan rumah, pendidikan dan kesehatan anak, serta permasalahan keluarga lainnya, maka seorang ummahat yang tarbiyah tidak hanya akan mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada permasalahan itu semata melainkan menjadikan permasalahan dakwah juga adalah bagian dari dirinya. Ia menjadikan semua itu sebagai sarana latihan untuk menjelang momentum pengorbanan yang sesungguhnya. Diri, suami dan anak-anaknya dipersembahkannya untuk Allah. Semua ia lakukan karena ia menyakini bahwa janji Allah adalah pasti bagi orang-orang beriman dan Allah tidak pernah menyalahi janji. Kebahagiaan dan keberkahan dalam kehidupan keluarga diperoleh didunia maupun  akhirat. Kelak di ujung jalan panjang ini, Allah akan menghimpun diri dan keluarganya kembali di Jannah-Nya yang kekal.

Seperti keyakinan seorang akhwat, Aminah Quthub atas janji Allah untuk pertemuan dirinya kembali dengan sang suami di firdaus-Nya. Keyakinan itu tersirat dalam syair yang beliau buat saat kematian sang suami:

Aku tidak menunggu kepulangan dan janji-janji senja
Aku tidak menunggu kereta akan kembali membawa secercah harapan
Kau tinggalkan aku mengarungi hari-hari dalam kebisuan derita
Kau lihatkah rinduku untuk surga atau cinta kelangitan
Kau lihatkah janji itu untuk Allah
Sudah tibakah saat pemenuhannya?
Aku berlalu bagai perindu
Sebagai pemabuk yang cinta mendengarkan panggilan
Kau jumpaikah di sana para kekasih
Apa warna pertemuan itu?
Dalam hijaunya surga, dalam firdaus dan gemuruh karunia
Di negeri kebenaran kalian berkumpul
Dalam damai dan perlindungan
Jika memang karena itu, selamat datang kematian berlumur darah
Akankah ku menemuimu disana, tinggalkan negeri derita
Ya, kan kutemui kau di sana
Janji yang diyakini orang-orang yang jujur
Kita dapatkan balasan atas hari-hari yang kita lalui
Dalam derita dan cobaan
Kita kan di jaga dalam kebaikan
Tanpa takut akan perpisahan dan kefanaan.
***

Ukhti, Katakan: Inilah jalanku!!! Orientasi dakwah ini haruslah tertanam pada diri seorang muslimah.  Menyadari kita bukanlah orang yang hebat, yang senantiasa tegar dan teguh dalam permasalahan yang menghampiri, untuk itulah tarbiyah sangat penting untuk mampu menjaga orientasi ini. Tidak hanya untuk para ummahat namun juga untuk semua akhwat harus dipersiapkan melalui kegiatan tarbiyah yang terprogram untuk menjadikan diri mereka sebagai pelaku dakwah, pelaku pembangunan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan tanpa menafikan peran laki-laki dalam pembinaan keluarga. Sehingga keluarga yang terbentuk adalah keluarga yang berkhidmat kepada Islam.  
So Ukhti, sudahkah kita mempersiapkan diri kita menjadi seperti mereka, para Ummahat tangguh???

Allahu ‘alam bi showab
Semoga bermanfaat terutama bagi diri pribadi dan pembaca

Samarinda, 23 Oktober 2011

Ditulis dengan penuh keimanan dan harapan setelah menjalankan tugas sebagai hadonah ^^

*hadonah: akhwat yang bertugas mengasuh anak-anak kader yang sedang mengikuti acara dakwah 
*Ummahat: akhwat yang telah berumah tangga.

Epilog Rindu




Maha Suci Engkau ya Robb yg telah menjanjikan pertemuan dengan diri-NYA pada hari yg ditentukan kelak!!!

Para pecinta Berbondong-bondong mempersiapkan diri untuk pertemuan itu.

Selayaknya keinginan berjumpa dengan Seorang kekasih yg amat dirindukan,
mereka sangat tidak sabar menanti hari itu.

Hati mereka penuh dengan kerinduan yg menggebu.

Hari-hari yang mereka lalui tidak lebih hanya bagian dari persiapan menuju perjumpaan dengan kekasih abadi mereka,Allah Swt.

Keinginannya untuk memberikan cinta pun kian tak terbendung,
sampai-sampai tubuh mereka lelah mengikutinya.

'Bila keinginan itu besar maka tubuh itupun payah dalam meraihnya' begitu ungkapan seorang penyair.

Begitulah semua berjalan sampai pertemuan yang dijanjikan telah datang.

Lunaslah hutang rindunya pada Sang Kekasih,justru rasa malu terus bertambah.

Kekasih yang dicintai justru lebih cinta dan lebih rindu daripada kecintaan dan kerinduannya...

Sebaik-baik Saudara…


 “Dek, ayo bangun….” Suara dibalik pintu kamarku itu begitu akrab ditelinga. Ku lihat jam dinding  menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Segera ku bangkitkan dari tempat tidurku, membuka jendela dan melepaskan pandanganku sejenak ke alam bebas. Semilir angin sejuk sesekali menerpa ke wajahku. Sangat menyegarkan. Ku buka pintu kamar dan bergegas ke belakang mengambil air wudhu.

Di ruang tengah, tampak Mbak Wati dan Mbak Diana telah rapi dengan mukena yang dikenakan.

“Uda solat belum Mbak? Afwan, butuh waktu untuk mengembalikan ruh dulu hehe…” candaku untuk mencairkan suasana.

“Belum kok dek, menunggu anty dulu.” Jawab Mbak Diana bersiap iqomah.

“Ayo, ibu imam…” kata Mbak Wati sambil mengiring badan ini berada diantara keduanya.

“Lha, koq saya Mbak?” protes ku

“Iqob bagi yang telat. Hehe..” Kali ini Mbak Diana menggodaku.

“Dimana-mana yang telat, itu jadi masbuk Mbak. Lagipula saya paling junior disini, jadi bagi yang hapalannya paling banyak dan paling senior mohon amal sholehnya.” Jawabku.

“Ayo dek, giliranmu jadi imam malam ini. Yang bacaannya lebih tartil dan indah.” Desak Mbak Wati.

Segera Mbak Diana melantunkan iqomah. Alhasil ku memimpin tahajjud ketika itu. Segera ku beristigfar, melapangkan hati dan mengisyaratkan untuk merapatkan shaf kami. Pada rakaat terakhir, ku  membaca surah Qaaf.

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. Dan ditiupkalah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat, penggiring dan seorang malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. Dan yang menyertai dia berkata: 'Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku'. Allah berfirman: 'Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat'. Yang menyertai (syetan) dia berkata (pula): 'Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh'. Allah berfirman: 'Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu'. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku. (Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahannam: 'Apakah kamu sudah penuh?' Dia menjawab: 'Masih adakah tambahan?'". (QS. Qaaf : 16-30).


Tak bisa ku tahan airmata ini. Seperti malam sebelumnya, Tahajjud malam itu benar-benar nikmat.

Usai solat tahajjud, kami biasanya melanjutkan dengan setor hapalan. Tidak ada batasan jumlah ayat dan surah yang harus dihapalkan. Semua dilakukan sesuai kesanggupan individu. Jika ingin memurojaah hapalan malam sebelumnya juga tidak masalah. Hanya saja, ku malu jika keduanya mampu menyetor hapalan lebih banyak. Sepertinya hal yang sama juga dirasakan keduanya meski tidak pernah di utarakan.

Di saat kebersamaan itulah, biasanya kami manfaatkan untuk saling menguatkan, berbagi cerita mulai permasalahan pribadi, kuliah hingga dakwah di kampus masing-masing. Sulit memang, menceritakan awal kedekatan hubungan diantara kami. Semua berjalan begitu saja, entah mulanya seperti apa, tahu-tahu kami sudah akrab seperti saudara kandung. Berbeda daerah asal serta fakultas namun dipertemukan di jalan dakwah dan tarbiyah serta tinggal di satu atap.

Kini, sudah hampir 3,5 tahun hal itu tidak pernah kami lakukan bersama ketika kami bertiga harus berpisah dan tidak tinggal se-kost lagi. Tidak ada lagi suara mbak Wati atau Mbak Diana yang mengetuk pintu kamarku membangunkan tahajjud, tidak ada lagi setor hapalan menjelang subuh. Sungguh ku merindukan saat-saat itu…

Dua tahun bersama saudara-saudara terbaik
Wajah mereka memancarkan cahaya keimanan
Akhlak mereka membuat ku semakin mencintai Allah dan akhirat
tutur kata mereka menyejukkan hati ini
Mereka mengingatkan ketika ku lalai
menjadi penerang ketika ku dalam kegelapan,
menjadi penghibur ketika ku dalam kesedihan
moga Allah menghimpun kita kembali dalam Jannah-Nya
Ana Uhibbukum fillah.

Hadiah Ramadhan


 Dengan sedikit tergesa-gesa, ku langkahkan kaki menuju rumah Mbak Ratih yang berada beberapa meter dari kontrakanku. Terlihat Mbak Ratih sedang berada di teras rumah mengawasi si kecil, Suci yang sedang asyik bermain.

“Assalamualaykum. Mbak, apa adik saya menitipkan kunci rumah?’ Tanyaku sambil duduk diteras Mbak Ratih tanpa dipersilahkan.

“Waalaykumussalam. Baru selesai jaga Mbak Nis?” Tanya mbak Ratih sambil masuk kedalam rumah, lalu keluar kembali menyerahkan kunci rumah milik ku.

“Iya Mbak.” jawabku singkat.

“Sepertinya lelah sekali.” Tanya Mbak Ratih kembali.

“Hari ini cukup banyak kerjaan di Rumah Sakit. Banyak pasien.” Jawabku sambil mengamati si kecil Suci yang sedang bermain.

“Dari tadi, Dewi gak keliatan? Kemana Mbak? (Dewi, anak pertama Mbak Ratih usianya 2,5 tahun, selisih 1,5 tahun dengan Suci adiknya).

“Oh, lagi jalan dengan ayahnya.”

Meski baru beberapa bulan pindah ke kontrakan ini, namun keakraban dengan tetangga disekitar kontarakan, Alhamdulilah berlangsung cukup cepat. Tidak jauh berbeda dengan kontrakan sebelumnya. Tetangga disini sangat ramah terutama Mbak Ratih sekeluarga. Hubungan diantara kami bisa dibilang sangat dekat. Beliau sudah menganggapku seperti saudara sendiri. Demikian sebaliknya. Untuk itulah, disela waktu senggang dirumah, ku seringkali bermain ke rumah beliau, walau sekadar bermain dengan Dewi atau Suci yang sudah ku anggap seperti adik sendiri.

“Pasti berat ya mengurusi pasien sedemikian banyak dengan kondisi puasa, apalagi saya liat mbak Nisa jarang sekali istirahat?” Tanya mbak Ratih kembali.

Dengan bahasa sederhana ku jelaskan bahwa sebagai muslim tidaklah merasa berat menjalankan puasa. Karena dengan puasa akan lebih dapat mensucikan jiwa dan memberi kesempatan beristirahat bagi tubuh.

Mbak Ratih hanya mengangguk-angguk tanda setuju. Sesekali dari mulutnya keluar kata, "Ooo, begitu."

Setelah dirasakan cukup lama duduk, ku segera bangkit dari kursi. “Ntar lagi berbuka. Ku pulang dulu ya Mbak. Terima kasih kuncinya.”

“Uda beli bukaan belum?” Tanya Mbak Ratih.

“Belum. Tadi buru-buru jadi belum beli. Nanti saja sekalian keluar sebelum Tarawih.” Jawabku berlalu meninggalkan rumah Mbak Ratih.

Tiba dirumah, ku nyalakan semua lampu dan TV menyetel saluran lokal lalu bergegas mandi. Setelah itu, ku siapkan iftor (makanan untuk berbuka) seadanya. Segelas teh hangat sudah cukup. Berada di depan TV menunggu waktu berbuka. Hanya seorang diri.  Adikku yang juga sedang koas, hari ini sedang jaga sehingga berbuka puasa di Rumah Sakit. Sedang kedua adikku yang lain, sedang menghabiskan liburan semester di kampung halaman. Pasti kedua adikku sedang menikmati saat-saat indah berkumpul bersama keluarga disana. Tiba-tiba muncul kerinduan dengan keluarga dan keinginan mencicipi sup buatan Ummi.

Sesaat kemudian terdengar pintu rumah diketuk.

“Iya, sebentar.” Ku raih pintu dan membukanya. Ternyata Mbak Ratih bersama Dewi.

“Masuk Mbak.” Ku persilahkan masuk namun Mbak Ratih menolak.

“Gak disini saja. Ini buat berbuka puasa. Dibeli ama Ayah Dewi pas jalan tadi.”

Sebuah nampan berisi satu mangkuk dan piring yang tertutup serta sebungkus es buah.

“Terima kasih Mbak.”

Mbak Ratih hanya tersenyum dan berpamitan pulang. Namun tidak dengan Dewi yang memilih menemaniku berbuka puasa. Sedari tadi, begitu pintu di buka, ia berlari masuk ke rumah dan tidak ingin pulang.

Ku buka penutup mangkuk dan piring tersebut. Ternyata semangkuk sup dan beberapa gorengan. Subhanallah, Allah yang Maha Mengetahui keinginan hamba-Nya. Meski hanya terbersit sekian detik di hati, ingin menikmati sup, dengan mudah dikabulkan dengan-Nya. Baru saja, diri ini membayangkan kenikmatan berbuka dengan keluarga, Allah yang Maha Pengasih tidak membiarkan diri ini berbuka puasa sendiri melainkan ditemani si malaikat kecil, Dewi.

Tiba-tiba teringat salah satu firman Allah yang berbunyi: " ... dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya akan mencukupkan keperluannya..." (QS 65:3)

Bisa mengenali dan memiliki keluarga baru disini merupakan salah satu hadiah terindah ramadhan tahun ini. Ramadhan Kariim penuh berkah, rahmah dan maghfirah

Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya.

Beginilah Islam mengajarkan mencari pasangan hidup…

 “Saya ingin dicarikan orang tua saja!!!”. Begitulah pendapat seorang teman dari diskusi yang saya terlibat didalamnya beberapa waktu lalu. Ada beberapa pandangan yang dikemukakan dan pada akhirnya diskusi ditutup dengan menghargai pendapat dari semua yang hadir saat itu. Berbicara masalah jodoh, mungkin topik ini selalu menjadi salah satu topik perbincangan di tengah pemuda atau pemudi. Dan boleh saja, sering ditanyakan kepada diri kita. Ketika bertemu orang yang lebih tua misalnya, atau ketika bertemu dengan teman lama, maka harus dipersiapkan jawaban sebaik-baiknya ketika ditanyakan kapan akan menikah.
Dalam mencari pendamping hidup, jika kita tidak cerdas menyikapinya, maka boleh saja kitapun salah dalam mengambil langkah. Seperti yang pernah disampaikan oleh salah seorang sahabat yang menceritakan kesedihannya melihat tingkah laku seorang akhwat yang dulunya aktif dakwah kini futur ketika ujian cinta datang menghampirinya. Sahabat  itu tidak menyangka akhwat tersebut yang dulunya sangat semangat dan rela mengorbankan apa saja demi kepentingan da’wah kini rela melakukan apa saja demi menyenangkan hati lelaki yang sangat didambakannya menjadi pendamping hidupnya kelak. Semoga kejadian ini mampu menjadi pelajaran bagi kita semua.

Lalu, bagaimana sebenarnya cara mencari/memilih pasangan hidup sesuai syariat dan diajarkan Rasulullah SAW? Dalam buku “15 Cara & Langkah Mendapatkan Jodoh” ,  Drs. M. Thalib memberikan penjelasan.

Pertama, Mengusulkan kepada Orang Tua

"Salah seorang di antara kedua wanita itu berkata, 'Ya Bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (kepada kita) karena sesungguhnya orang yang paling baik engkau ambil untuk bekerja (kepada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (Al-Qashash: 26).

Ayat di atas mengisahkan dua putri Nabi Syuaib yang ditolong Musa saat memberi minum domba gembalannya di sebuah telaga. Telaga tersebut saat itu dipenuhi penggembala laki-laki yang menggiring dombanya untuk diberi minum. Setelah menerima pertolongan Musa, salah seorang putrid Nabi Syuaib mendapat kesan mendalam terhadapnya. Setiba di hadapan ayahnya dia menceritakan kejadian tersebut. Nabi Syuaib lalu meminta agar laki-laki yang menolongnya itu dipanggil. Setelah Musa menghadap Nabi Syuaib, salah seorang putrinya mengusulkan agar ayahnya mempekerjakan pemuda ini karena seorang yang kuat lagi jujur.

Nabi Syuaib memahami keinginan putrinya yang tersembunyi di balik usulnya. Sebagai seorang ayah yang bijaksana dan halus dalam memahami perasaan putrinya, Nabi Syuaib menyetujui usul putrinya. Beliau kemudian menawarkan kepada Musa untuk bekerja di tempatnya dengan imbalan dinikahkan dengan putrinya yang tertarik kepadanya. Akhirnya Musa menyetujui tawaran Nabi Syuaib untuk bekerja selama delapan tahun dan sesudah itu dia akan menjadi suami putri Nabi Syuaib yang menginginkannya.

Langkah yang ditempuh putri Nabi Syuaib ini merupakan langkah tepat untuk berkompromi dengan orang tuanya. Dengan langkah tersebut, keinginannya untuk mendapatkan laki-laki idamannya terpenuhi dan kehendak orang tua juga terlaksana karena calon yang diajukannya benar-benar sesuai dengan persyaratan agama.

Masyarakat dan syariat Islam memandang bahwa mengusulkan jodoh kepada orang tua sebagaimana yang dilakukan putrid Nabi Syuaib bukanlah langkah tercela. Langkah ini telah ditempuh oleh keluarga terhormat (keluarga Nabi Syuaib) sebagaimana diuraikan oleh Allah di dalam Alquran. Hal ini dimaksudkan memberi pelajaran bagi umat Islam bahwa mereka dapat menempuh langkah ini untuk mendapatkan jodoh. Anak perempuan yang menginginkan seorang laki-laki dapat mengusulkan kepada orang tuanya agar meminta lelaki yang bersangkutan menjadi suaminya. Demikian halnya anak laki-laki, ia bisa mengusulkan calon istri kepada orang tuanya.

Langkah mengusulkan jodoh kepada orang tua mencerminkan bahwa seorang anak tetap menghargai turut campurnya orang tua dalam memilihkan jodoh untuk dirinya. Langkah ini mengisyaratkan adanya hak anak untuk menentukan calon suami atau calon istrinya tanpa mengesampingkan orang tua. Dengan langkah ini, titik temu antara kepentingan orang tua dan anak dalam memilih jodoh dapat diperoleh. Adanya kemerdekaan atau kebebasan anak dan orang tua dalam menyatakan keinginan dan pendapatnya menghasilkan kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak. Hal ini memberi pelajaran kepada segenap orang tua muslim bahwa pendapat dan penilaian putra-putrinya dalam memilih jodoh harus dihargai.

Dalam mengusulkan jodoh kepada orang tuanya, anak harus memiliki persamaan pedoman dengan orang tua agar tercapai keinginannya. Keduanya harus ikhlas dan memiliki kesungguhan untuk mematuhi ketentuan agama untuk menghindari munculnya perselisihan yang menimbulkan permusuhan antara orang tua dan anak dalam usaha mendapatkan jodoh.

Sebaliknya, terhadap calon yang diusulkan anak, orang tua hendaknya melakukan pengenalan dan penelitian tentang akhlak dan kualitas keislamannya. Bila calon yang diajukan memenuhi syarat yang digariskan agama, tidak ada alasan bagi mereka untuk mempersulit atau menolaknya.

Ringkasnya, perempuan atau laki-laki, yang tidak menginginkan terjadinya konflik dengan orang tuanya saat memilih jodoh, dapat menempuh langkah seperti yang dilakukan oleh putri Nabi Syuaib

Kedua, Memilih Sendiri atau Menanti Pinangan

Abdurrahman bin Auf berkata kepada Ummu Hakim binti Qarizh, "Maukah kamu menyerahkan urusanmu kepadaku?" Ia menjawab, "Baiklah." Ia berkata, "Kalau begitu, baiklah kamu saya nikahi." (HR Bukhari).

"… dan tidak berdosa kamu meminang wanita-wanita itu dengan sendirian atau kamu menyembunyikan (keinginan menikahi mereka) dalam hatimu …." (Al-Baqarah: 235).

Hadis di atas menerangkan bahwa Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Rasulullah saw. datang kepada Ummu Hakim, salah seorang perempuan sahabat Nabi saw. Kepada perempuan itu Abdurrahman bin Auf meminta untuk menyerahkan urusan mencari calon suami dan pernikahannya kepada dirinya. Ummu Hakim kemudian menyerahkan hal itu kepada Abdurrahman bin Auf. Abdurrahman pun mengatakan kepada Ummu Hakim bahwa dia sendiri yang menikahinya.

Hadis di atas menjelaskan bahwa Abdurrahman memilih sendiri Ummu Hakim sebagai istrinya dan tidak dijodohkan atau dipilihkan orang lain.

Seseorang yang ingin menikah dibenarkan oleh Islam mencari sendiri calonnya, bahkan boleh menikahkan dirinya sendiri kepada perempuan yang dinikahinya, seperti yang dilakukan oleh sahabat Abdurrahman bin Auf. Pernikahan seperti ini sah karena perbuatan Abdurrahman tidak pernah disalahkan oleh para sahabat atau Nabi saw.

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa seorang perempuan yang ingin menikah boleh berlaku pasif untuk mendapatkan jodohnya. Ia menanti pinangan seorang laki-laki yang datang bermaksud menjadikan dirinya sebagai istri.

Seorang perempuan yang menanti pinangan haruslah tetap menjaga ketentuan agama mengenai sifat laki-laki yang baik menjadi suami. Ini bertujuan supaya kelak ia tidak terjerumus ke dalam kehidupan rumah tangga yang merugikan dirinya. Ia tidak seharusnya tergesa-gesa menerima pinangan sebelum melakukan penelitian dengan baik dan melakukan istikharah serta minta pertimbangan kepada orang-orang yang jujur. Selain itu, dalam masa penantian, ia perlu berdoa dan melakukan ibadah sunah, seperti puasa Dawud, bersedekah, dan salat hajat agar diberi kemudahan oleh Allah dalam mendapatkan jodoh.

Islam membenarkan seseorang memilih sendiri calon suami atau calon istrinya. Cara ini sudah berjalan berabad-abad dan tetap dipertahankan oleh Islam sebagai tatanan yang benar. Sebaliknya, wanita dibenarkan menanti pinangan dari seorang laki-laki. Oleh karena itu, tidaklah tercela seorang perempuan bersikap pasif dalam mencari jodoh, karena hal tersebut juga tidak terlarang oleh Islam.

Ketiga, Menerima Pilihan Orang Tua

Dari Aisyah, ia berkata, "Telah datang seorang perempuan kepada Rasulullah saw., lalu berkata, 'Ya Rasulullah, ayah saya telah menikahkan saya dengan keponakannya agar dapat meringankan beban dirinya.' Maka, beliau menyerahkan urusan ini kepadanya. Perempuan itu lalu berkata, 'Saya benarkan apa yang dilakukan ayah saya, tetapi saya ingin agar kaum perempuan tahu bahwa para bapak tidak mempunyai hak sedikit pun dalam urusan ini'." (HR Ahmad).

Hadis di atas mengisahkan seorang ayah yang menjodohkan putrinya dengan lelaki pilihannya. Perempuan tersebut kemudian mengadukan kejadian itu kepada Rasulullah saw. Beliau akhirnya menyerahkan penyelesaian masalah itu kepadanya. Ia ternyata bersedia menerima lelaki pilihan orang tuanya untuk dijadikan suami. Tetapi, di hadapan orang banyak dia ingin menyatakan bahwa menjodohkan anak--seperti yang terjadi pada dirinya--bukan hak mutlak orang tua. Artinya, jika anak menolak, orang tua tidak boleh memaksa. Sikap ini dibenarkan oleh Rasulullah saw.

Kasus yang terdapat dalam hadis di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa salah satu langkah mendapatkan jodoh ialah menerima pilihan orang tua. Pernikahan seorang perempuan atau laki-laki dengan pasangan yang dipilihkan orang tuanya sah menurut Islam. Oleh karena itu, seorang perempuan atau laki-laki yang dipilihkan jodohnya oleh orang tua tidak perlu merasa hak-haknya diabaikan. Islam mengakui bahwa setiap orang bebas mendapatkan jodoh yang diinginkannya. Akan tetapi, ternyata yang bersangkutan tidak mampu mendapatkannya, sedangkan orang tua dapat mengusahakan, Islam membenarkan anak menerima pilihan orang tuanya.

Anak, perempuan atau laki-laki, yang dipilihkan jodohnya oleh orang tua hendaklah menanggapi secara baik. Jika calon tersebut memenuhi criteria dan syarat yang digariskan Islam, hendaklah ia lebih mengutamakan pilihan orang tua daripada menantikan yang tidak pasti. Pada awalnya mungkin sekali anak tidak tertarik kepada pilihan orang tua, namun ia bisa mengamati kelebihan calon pasangannya sebagai daya tariknya. Banyak anak, perempuan maupun laki-laki, lebih mementingkan pilihannya sendiri hanya karena pilihan orang tua sepintas dipandang kurang cocok di hatinya, bukan karena yang bersangkutan tidak memenuhi criteria dan syarat yang digariskan oleh Islam. Akibatnya, calon yang diharapkannya tidak kunjung muncul sehingga sangat terlambat baginya untuk berumah tangga.

Oleh karena itu, seseorang bisa mendapatkan jodoh dengan menerima pilihan orang tua. Selama calon yang diajukan oleh orang tua memenuhi criteria yang digariskan oleh Islam, anak sebaiknya mempertimbangkan pilihan tersebut dengan baik. Insya Allah, langkah ini akan membawa berkah baginya sehingga terhindar dari keterlambatan berumah tangga atau melajang seumur hidup.

Keempat, Menerima Tawaran

Dari Alqamah bin Qais , ia berkata, Saya pernah bersama Abdullah bin Mas'ud di Mina, lal ia pergi menyendiri bersama Utsman, kemudian aku duduk bersamanya, lalu Utsman berkata kepadanya, "Maukah engkau saya nikahkan dengan seorang budak perempuan yang masih gadis, supaya kelak dapat mengingatkan engkau mengenai beberapa peristiwa yang telah lalu?" Tatkala Utsman mengetahui bahwa Abdullah tidak mempunyai keinginan terhadap perempuan itu, ia lalu memberi isyarat dengan tangannya kepadaku, lalu aku datang kepadanya, kemudian ia berkata, "Kalau engkau memang mau menikahinya, sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda, 'Wahai para pemuda, siapa di antara kamu yang sanggup untuk menikah, hendaklah ia menikah, karena pernikahan itu lebih dekat memelihara pandangan dan memelihara kemaluan. Akan tetapi, barang siapa belum sanggup, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu merupakan pengebirian bagi dirinya'." (HR Ibnu Majah).

Hadis di atas mengisahkan salah seorang sahabat Rasulullah saw., Alqamah, yang ditawari Abdullah bin Mas'ud untuk menikah dengan seorang perempuan yang semula ditawarkan Utsman kepada Abdullah. Karena tidak berminat, Abdullah bin Mas'ud mengalihkannya kepada Alqamah.

Kisah tersebut memberi gambaran kepada kita bahwa menerima tawaran calon suami atau calon istri dari seseorang bukanlah tindakan yang tercela. Syariat Islam membenarkan langkah tersebut. Langkah ini boleh dilakukan setelah mendapat persetujuan dari orang yang ditawarkan atau tanpa sepengetahuannya. Bila upaya ini dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang ditawarkan, orang tersebut mempunyai hak untuk menolak atau menerima.

Di lingkungan kaum muslim pada masa sahabat, langkah ini tidak dianggap sebagai tindakan yang merendahkan martabat. Oleh karena itu, seseorang tidak perlu merasa direndahkan bila ada tawaran dari seseorang untuk menjadi istri atau suami sesama kaum muslim yang menaruh simpati kepadanya. Bahkan, mereka seharusnya berterima kasih atas tindakan tersebut. Mereka seharusnya menyadari bahwa hal ini menunjukkan adanya solidaritas dan rasa persaudaraan yang tinggi dalam masyarakatnya, sehingga masyarakat tidak membiarkan orang-orang yang sangat ingin hidup berumah tangga, melajang, yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerusakan di masyarakat.

Bila seorang laki-laki atau perempuan ditawari oleh orang lain untuk menikah dengan orang yang ditawarkan kepadanya, hendaklah dia memperhatikan akhlak, ketaatan ibadah, kejujuran, dan keikhlasan orang yang menawarinya. Ia tidak seharusnya mempercayai begitu saja orang yang menawarkan seseorang kepadanya untuk menjadi calon pasangannya, karena belum tentu yang bersangkutan mempunyai tujuan baik dan dapat dipertanggungjawabkan perbuatannya. Boleh jadi orang yang memberi tawaran ini bermaksud hanya menutup rasa malu dirinya atau bertujuan menyengsarakan orang yang ditawari. Jadi, hendaklah ia benar-benar meneliti dengan saksama akhlak dan pribadi orang yang memberi tawaran dan juga calon yang ditawarkan.

Tegasnya, muslim atau muslimah yang ditawari seseorang untuk dijadikan istri atau suami, baik oleh teman, kerabat, maupun majikannya, hendaklah menyambut baik tawaran tersebut dan tidak menganggap sebagai penghinaan. Sekali lagi, Islam tidak menganggap hina hal tersebut, terbukti dilakukan dalam kehidupan kaum muslim pada masa para sahabat Nabi saw. Mereka adalah masyarakat muslim terbaik yang mendapat jaminan dari Allah untuk menjadi ahli surga.

Kelima, Minta Dicarikan

Rasulullah saw. bersabda kepada Ukaf bin Wida'ah al-Hilali, "Apakah engkau telah beristri, wahai Ukaf?" Ia menjawab, "Belum." Beliau bersabda, "Tidakkah engkau mempunyai budak perempuan?" Ia menjawab, "Tidak."
Beliau bersabda, "Bukankah engkau sehat lagi berkemampuan?"Ia menjawab, "Ya, alhamdulillah." Rasulullah saw. bersabda, "Kalau begitu, engkau termasuk teman setan, karena engkau mungkin termasuk pendeta nasrani. Hal itu berarti engkau masuk dalam golongan mereka, atau mungkin engkau termasuk golongan kami sehingga hendaklah kamu berbuat seperti yang menjadi kebiasaan kami, sedangkan kebiasaan kami adalah beristri. Orang yang paling durhaka di antara kamu adalah orang yang membujang; orang mati yang paling hina di antara kamu adalah orang yang membujang. Sungguh celakalah kamu, wahai Ukaf. Menikahlah!" Ukaf lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak akan mau menikah sebelum engkau yang menikahkan aku dengan orang yang engkau sukai." Rasulullah saw. bersabda, "Kalau begitu, dengan nama Allah dan dengan berkah-Nya, aku nikahkan engkau dengan Kultsum al-Humairi." (HR Ibnu Atsir dan Ibnu Hajar).

Hadis tersebut mengisahkan kasus Ukaf, seorang pemuda yang tergolong cukup namun belum beristri, bahkan berniat membujang. Oleh Rasulullah, Ukaf ditegur dan diperintahkan untuk menikah. Beliau menyatakan bahwa membujang bertentangan dengan anjuran Islam. Setelah mendapat teguran dari Rasulullah, Ukaf kemudian mengatakan bahwa dia tidak akan menikah sebelum Rasulullah sendiri yang memilihkan jodoh untuknya. Hal ini mengisyaratkan bahwa Ukaf meminta pertolongan kepada Rasulullah untuk mencarikan istri bagi dirinya.

Dari kasus di atas kita memperoleh pelajaran bahwa bila seorang laki-laki atau perempuan tidak dapat mencari sendiri calon istri atau calon suaminya, ia dapat meminta bantuan orang lain untuk mencarikan jodohnya. Ukaf--dalam kasus ini--berterus terang meminta kepada Rasulullah untuk mencarikan jodoh baginya. Beliau kemudian mengabulkan permintaannya sehingga Ukaf akhirnya mendapatkan jodoh.

Seseorang mengalami kesulitan atau tidak mampu mencari jodoh sendiri seperti yang dialami Ukaf kemungkinan disebabkan beberapa hal.
1.      Ia merasa minder meminang perempuan karena pendidikannya rendah, miskin, atau wajahnya yang kurang tampan. Salah satu dari sebab-sebab ini membuatnya tidak berani meminta seorang perempuan untuk menjadi istrinya. Orang seperti ini dapat meminta bantuan orang ketiga yang dipercayainya untuk mencarikan jodoh baginya.
2.      Ia takut melamar perempuan untuk dijadikan istri karena perbedaan lingkungan budaya atau tradisi. Perbedaan tradisi atau budaya dikhawatirkan akan menjadi kendala dalam menciptakan pergaulan suami istri secara harmonis. Oleh karena itu, yang bersangkutan tidak berani melamar walaupun perempuan itu sangat dicintainya. Hal ini dapat diatasi dengan meminta orang ketiga untuk mencarikan jodoh yang mau menerima keadaan dirinya dan bersedia menyesuaikan diri dengan tradisi dan budayanya.
3.      Ia tidak punya kesempatan untuk memilih jodoh yang benar-benar baik karena sibuk bekerja. Bila hal ini yang menjadi penyebabnya, dia dapat meminta jasa orang ketiga untuk mencarikan jodoh yang diingkarinya. Cara ini memungkinkan dirinya mendapatkan orang yang hendak dijadikan istri atau suami tanpa membuang waktu kerjanya.
Alasan apa pun yang dikemukakan seseorang yang merasa dirinya sulit mendapatkan jodoh, sebenarnya dapat diatasi dengan langkah tersebut. Muslim atau muslimah tidak perlu merasa malu atau rendah diri meminta tolong kepada orang ketiga untuk mencarikan jodoh karena langkah ini telah dilakukan oleh sahabat Rasulullah, yaitu Ukaf. Sebagaimana Ukaf meminta Rasulullah mencarikan jodoh untuknya, siapa pun dapat melakukan hal yang sama, kapan dan di mana saja. Orang-orang yang dimintai tolong tersebut umumnya akan mengabulkan permintaan yang bersangkutan dengan gembira dan sukarela.
Orang ketiga yang dimintai mencarikan jodoh hendaklah yang dapat dipercaya. Mereka ini harus kita pilih yang akhlaknya baik, amanah, dan tahu persis siapa yang pantas menjadi calon bagi orang yang meminta jasa baiknya, serta memiliki pengaruh dalam lingkungannya sehingga yang diminta menjadi istri atau suami akan mempercayainya. Selain itu, dia harus orang yang cermat dalam engamati kepribadian orang lain agar terhindar dari kecerobohan, misalnya mempercayai orang yang tidak baik akhlak atau ketaatannya dalam beragama. Dia hendaknya juga memiliki pengalaman mencarikan jodoh bagi orang lain.
Biro-biro jodoh yang banyak bermunculan di tengah masyarakat sekarang ini belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kualitas kejujuran, kecermatan, akhlak, dan agamanya. Oleh karena itu, kita perlu meneliti biro-biro seperti ini terlebih dahulu, apakah akhlak dan agama pengurus dan orang yang ditawarkannya baik atau tidak. Kita sebaiknya tidak mudah percaya kepada propaganda mereka sebelum mengetahui betul bagaimana kualitas keislaman dan akhlaknya.
Ringkasnya, seorang laki-laki atau perempuan yang merasa sulit mencari jodohnya hendaklah tidak segan-segan meminta tolong kepada orang lain untuk mencarikannya. Insya Allah, dengan perantaraan orang lain, ia akan mendapatkan jodoh yang menjadi harapannya.
Allahu a’lam.