Tampilkan postingan dengan label Catatan Calon Dokter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Calon Dokter. Tampilkan semua postingan

Akankah Lebih Baik Dari Tahun Sebelumnya?

akankah ramadhan kali ini lebih baik dari tahun sebelumnya???
ada kesedihan yang menyerumungi sanubari,,,
ketika menyadari banyak kesempatan yang terlewatkan di ramadhan kemarin

akankah ramadhan kali ini lebih baik dari tahun sebelumnya???
ada kegembiraan penawar pilu
ketika mensyukuri akan nikmat umur disampaikan d ramadhan kali ini,,,

akankah ramadhan kali ini lebih baik dari tahun sebelumnya???
ada keoptimisan dalam diri
mengukur kesalahan tahun lalu sebagai lompatan tuk prestasi di ramadhan tahun ini,,

akankah ramadhan kali ini lebih baik dari tahun sebelumnya???
ada kepesimisan menemani optimis diri
membayangkan waktu ramadhan yang berlalu sebagai koas di stase obgyn,,,

akankah ramadhan kali ini lebih baik dari tahun sebelumnya???
wahai diri, suluhkan api semangat itu!!!
menjadikan ramadhan kali ini lebih indah...


mengukir keindahan momentum ramadhan 
bersama keluarga besar bangsal obstetri & ginekologi 


samarinda, 26 Juni 2011
pukul 02.00 dini hari



Aufa, Sungguh Beruntungnya Dirimu…(Kisah Kamar Bedah No.7)


Dia seperti Rimbun pohon kebijaksanaan,
Yang selalu naungi dunia kecil milikku
Sebarkan wangi kedamaian
tak henti memberiku semangat menapaki hidup
Dia, menjelma telaga teduh sepanjang waktu,
Tempatku bertambat, bermain dan bermimpi
Riak airnya membiakkan banyak kebahagiaan
Menemani segala bentuk hari yang ku lalui

Aku tak pernah mendapatinya kering,
Meski musim tidak terhitung berganti
Aku tak pernah melihatnya tumbang
Walau gelombang yang mendera bertubi-tubi

Dia tetap tersenyum menjumpaiku
Dia tetap membagi aku dengan kecupan sayang
Bunda, aku menyebutmu demikian
(anonym)

***

Inspirasi:
Disuatu pagi , di Salah  Satu Kamar Bedah Sebuah Rumah sakit
Hari ini Allah swt kembali menunjukkan padaku tentang cinta sejati saat mendampingi seorang ibu menjalani operasi Caesar atas indikasi G1 primi tua (hamil pertama usia tua). “Apa anak saya baik-baik saja dokter?’ Itulah pertanyaan yang pertama kali ditanyakan sesaat tangisan bayinya terdengar. “Tenanglah ibu, bayi ibu sehat dan gagah sekali seperti ayahnya. Baru saja suami ibu membacakan azan di telinganya.” Jawabku sambil tersenyum.
Ku bisikkan pada bayi mungil tersebut, “Aufa Muhammad Irfan, jadilah anak kebanggaan agama dan orang tuamu. Kamu beruntung sekali mendapatkan ibu sekuat ibumu.”

Pernah Ada masa-masa (Bersama di Asy-syifaa)

Leadership Training Asy-Syifaa at Ponpes Rohmatullah Samarinda 2006

Pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah kita
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi, dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

di satu titik lalu sejenak kita berhenti menyadari
mungin hati kita telah terkecualikan dari ikatan diatas iman
bahkan saling nasehat pun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai , tapi masing-masing habis dimakan api

kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati
pada amal salih yang menjulang bercabang-cabang
pada akhlak yang manis, lembut dan wangi
hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata
yang dengannya
kebenaran terbaca dan bercahaya


"kaifa haluq sawdariq???"^^
lama sekali kita tidak saling menyapa dalam kehangatan persaudaraan,,mungkikah kalian lupa padaku???aku rasa tidak, hanya saja kalian pasti sibuk, hingga sejenak kalian lupa ,,,saat ini aku mengetok hati kalian agar kalian ingat,menyapaku dalam kata dan doa...seperti dulu, seperti masa-masa itu
,,,UHIBBUKIFILLAH,

Nasihat Untukmu Para Pendidik: Ku ingin sepertimu Guru!!!


Hari ini hujan sangat deras mengguyur kota ini hingga banjir yang senantiasa menjadi tamu tahunan mengenangi beberapa ruas jalan.  Dengan malas, ku bulatkan tekad untuk melewati banjir tersebut dengan berjalan kaki. Motor terpaksa ku titipkan ke pemilik warnet, tempat ku bernaung dari tadi. Hujan kali ini benar-benar sangat deras. Sesekali kilatan petir dan suara gemuruh langit menggelegar.

“Apa gak tunggu banjirnya reda saja, nduk?” Tanya si mbah, orang tua pemilik warnet.
“Gak mbah, saya jalan kaki saja. Gak terlalu jauh koq. Saya titip motor dulu ya mbah. Abis Magrib, saya ambil. “ jawab ku ketika sedang bersiap memakai jaket dan mengambil helm.
“Oh gitu, hati-hati nduk.” Pesan si mbah kepadaku.
“Nggih mbah, assalamualaikum.” Ku pun berlalu meninggalkan warnet dan si mbah.

Selama melewati banjir, ku berjalan sangat hati-hati. Takut tergelincir. Kaos kaki putih yang ku kenakan sekarang berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Begitu sampai dirumah, segera ku cuci kaki beserta kaos kaki yang ku kenakan dan langsung ku jemur.

Sebuah pengalaman serupa mengarungi banjir yang jauh lebih tinggi pernah ku alami beberapa tahun lalu. Saking derasnya banjir tersebut, membuat sandal ku sempat hanyut walau akhirnya ku berhasil mendapatkannya kembali (semau ini tidak lepas dari bantuan dan kesigapan teman-teman yang saat itu berjalan di belakangku^__^). Waktu itu, kami baru saja usai mengikuti kelas bahasa Arab di sebuah masjid yang tidak jauh dari tempat tinggalku.

Kisah diatas hanyalah sebuah kisah yang menginspirasi tulisan ini. Tulisan yang mengenangkanku pada sosok guru bahasa Arab kami. (Semoga Allah senantiasa merahmati beliau. Allahumma amin). Sekilas anda melihatnya, mungkin anda tidak akan menyangka beliau adalah seorang yang fasih bahasa Arab. Penampilannya sangat sederhana saat mengajar. Selain  plastik putih yang selalu melingkar di pergelangan tangan beliau, tempat untuk menaruh buku-buku serta kopiah hitam yang menutupi sebagian rambut beliau yang telah memutih, maka tidak ada kemewahan yang melekat pada diri beliau. Kesederhanaannya itulah yang membakar semangat kami para muridnya untuk setia hadir di kelas bahasa Arab tersebut setiap hari Rabu dan Ahad sore. Timbul rasa malu luar biasa pada diri ini jika mendapati guru tersebut telah duduk manis menunggu kedatangan kami.
Di usianya yang sangat tua dengan jalan sedikit membungkuk serta rambut yang telah memutih tidak sedikitpun mengurangi semangat (ghiroh) beliau untuk menempuh perjalanan kiloan meter dari pinggiran kota hanya untuk membagi ilmunya kepada kami. Beliau tidak pernah meminta kami untuk membayar iuran bulanan meski beliau seringkali harus menyisihkan uang pribadi sebagai ongkos angkot (nama angkutan umum di kota ini) untuk sampai ke masjid ini. Sesekali anak lelaki beliau menghantar atau menjemput beliau. Entah apa yang memotivasi beliau sedemikian kuatnya hingga sedikitpun beliau tidak pernah lelah mengajar kami dan tidak pernah mengeluh sedikitpun. Pernah suatu ketika, kami berinisiatif untuk mengumpulkan iuran bulanan, namun beliau menolaknya dengan mengatakan “uangnya dipakai untuk keperluan kuliah saja”. Subhanallah, kata-kata itu begitu sangat tulus keluar dari mulut beliau. Beliau menyayangi kami seperti cucunya. Beliau benar-benar memperlakukan kami seperti seorang kakek ketika mengajari cucunya karena kebiasaan beliau menyuguhkan permen yang telah dipersiapkan di kantung bajunya saat pelajaran berlangsung. Awalnya kami merasa “kikuk’ diperlakukan sedemikian istimewa oleh sang guru, namun akhirnya kami terbiasa dengan hal tersebut. Inilah yang terkadang menjadi guyonan diantara kami di akhir kalimat SMS ketika mengingatkan jadwal kelas bahasa Arab esok harinya, “Jangan telat ya, ntar gak diberikan permen ukhti!!!”

Maha besar Allah yang telah mempertemukan ku dan teman-teman dengan seorang guru sejati yang mengajarkan banyak hal. Hari ini kutemukan jawaban yang pernah ku tanyakan sendiri dalam diri. Apa yang memotivasi beliau sehingga begitu tulus mengajari kami. Inilah jawabnya, sepertinya beliau benar-benar memahami hadist Rasullullah saw “Apabila anak adam meninggal dunia, maka putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh/ah. “ (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad & Nasai).

Tidak hanya itu, sepertinya Guru saya tersebut mengetahui benar nasihat dari ulama besar Imam Syafii dan mengamalkannya. Pernah suatu ketika, Imam Syafii diminta untuk memberikan sebuah nasihat kepada Abu Abdus Shomad, seorang guru yang mendidik anak-anak khalifah Harun Ar-Rasyid. Imam Syafii lalu berkata kepada Abu Abdus Shomad: “Hendaklah hal yang pertama dimulai dalam mendidik adalah memperbaiki dirimu. Mata-mata mereka bergantung pada matamu. Dan kebaikan mereka adalah kebaikan apa yang engkau lakukan. Keburukan bagi mereka adalah sesuatu yang engkau benci. Ajarkanlah mereka kitabullah, Janganlah engkau memaksakan mereka sehingga mereka bosan. Dan janganlah engkau meninggalkan mereka dari Al-Quran lalu mereka akan meninggalkannya. Kemudian ceritakan pada mereka dari hadist-hadist yang mulia dan pepatah nasehat. Dan janganlah kau ajarkan mereka suatu ilmu kemudian pindah pada ilmu yang lain sehingga mereka memahaminya. Maka sesungguhnya perkataan yang  bertumpuk-tumpuk dalam pendengaran akan menyusahkan pemahaman. “ (Mauqif Fii Az Zuhd wa Roqoiq: 70)

Tidaklah berlebihan jika ku berasumsi bahwa gaya seorang guru saat mengajar sangatlah berpengaruh terhadap semangat atau tidaknya anak didiknya dalam belajar. Menjadi malas atau bahkan takut. Keteladanan seorang pendidik, bahkan bisa menyihir  anak didiknya sehingga mereka bercita ingin menjadi seperti guru tersebut. Seperti suatu ketika, seorang guru  TK bertanya kepada anak-anak didiknya, “Apa cita-cita kalian ketika besar?”. Dengan polos, anak-anak tersebut menjawab “Ingin menjadi seperti ibu guru!!!”.

*kepada guruku, 
Ilmumu ibarat telaga yang tiada pernah kering memberikan manfaat
Kehadiranmu senantiasa memberikan kehangatan kepada anak didikmu
Hanya sebuah doa yang bisa ku ucapkan: “smoga Allah memberikan balasan syurga atas kebaikan-kebaikanmu
Ingin ku katakan, ku ingin menjadi seperti mu!!!

Samarinda, 24 April 2011
Pukul. 22.25 wita








Selamat Datang di Dunia Coass Yang Super Sibuk, Katanya...

Alkisah,
Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.

Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati- hati batu-batu itu kedalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"

Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"

Kemudian dia berkata, "Benarkah?"

Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.

"Bagus!" jawabnya.

Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang- ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"

"Belum!" serentak para siswanya menjawab sekali lagi dia berkata, "Bagus!"

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.

Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"

"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :

JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.

Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.

Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".
***

Wah, pekan depan rumah sakit ini akan kedatangan wajah-wajah baru para dokter muda. Selamat buat teman-teman sejawat yang akan berjuang bersama menyelami dunia klinik.  Akan ada hal-hal baru yang akan ditemui disini sehingga butuh waktu untuk bisa beradaptasi. Seperti yang kalian lihat, dunia coass jauh lebih sibuk dibandingkan saat preklinik, jadi tantangan terbesar dan utama yang akan kita hadapi adalah WAKTU. Manfaatkanlah waktu dan aturlah ia agar ia tidak terisi dengan hal-hal kecil apalagi yang sia-sia....


Selamat datang di dunia koass yang super sibuk, katanya...
Berpikir positiflah karena dengan begitu berarti kita akan lebih banyak dihabiskan dengan kesibukan yang penuh pembelajaran didalamnya. Belajar tuk menjadi orang yang bertanggung jawab (dokter) yang penuh bersyukur dan disiplin. Insya Allah!!!



klise

ku heran pada anggapan sebagian orang, tentang terjalnya dunia koass dan sulitnya mempertahankan keistiqomahan didalamnya. karena hingga detik ini ku merasakan betapa Allah swt mengajarkan banyak hal disini. 
pelajaran tuk selalu bersyukur dalam setiap kondisi keadaan terutama atas nikmat sehat dan waktu luang.
pelajaran tuk senantiasa mengembalikan segala sesuatu kepada Allah swt saja diujung usaha manusia
pelajaran tuk selalu menuntut ilmu
pelajaran sabar dan berlapang dada
pelajaran tuk senantiasa ikhlas dalam tiap aktivitas...

begitu banyak pelajaran yang bisa didapatkan disini yang mentarbiyah diri ini menjadi lebih baik.
lantas mengapa begitu banyak kefuturan disini????

Istiqomah di dunia koas, pasti bisa!!!

Seorang dosen bertanya di depan kelas, "Tuliskan apa yang takuti ketika Koas. Tuliskan sebanyak-banyaknya?" Saat itu ku menuliskan hal pertama yang paling kutakuti adalah ku takut tidak bisa membagi waktu sehingga kesibukan koas mbuatku tidak bisa hadir liqo pekanan. Selanjutnya yang paling kutakuti adalah ketika ku selalu ijin untuk tidak mengisi halaqoh dan bertemu dengan adik-adik binaan tiap pekan.


Dilain kesempatan, begitu banyak sekali orang-orang yang menginspirasi untuk menghilangkan ketakutan itu.
Kata orang bijak, "engkau akan menjadi seperti yang engkau pikirkan". sehingga saat itu ku hujamkan dalam hati, ku pasti bisa melewatinya dengan keistiqomahan. 

Kata Murobbi, "dibalik sebuah perjuangan akan selalu ada pengorbanan.  Bersungguhlah dalam pengorbanan itu. maka engkau akan mendapatkan hasil yang baik. Bertahanlah disaat sebagian besar lemah. Karena disaat itu, boleh jadi engkau terlihat sendiri, namun tidaklah demikian. Akan ada Allah swt senantiasa menghibur hatimu dan orang beriman yang selalu mendoakanmu baik dengan sepengetahuanmu maupun dalam diamnya." 

Kata seorang akhwat, " Jadilah dokter muda muslimah yang luar biasa. yang tetap bisa produktif ketika koas". atau perkataan akhwat lainnya, " Ayo kita harus bisa menjaga istiqomah karena pada saat itulah tanpa kita sadari bisa jadi kita menjadi inspirasi bagi orang lain untuk menjaga keistiqomahannya."


Bismillah ku tuliskan ini bukan berarti saat ini ku lemah. sungguh tidak demikian. semua ini kulakukan tidak lain untuk menguatkan pijakanku sebelum ku memasuki dunia koas. sebuah kekuatan yang kuambil dari kekuatan kata bernama "istiqomah".








Dibalik Gelar Dokter Muda...


Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya 
(Q.s At-Tin:4)

Ayat ini mengantarkanku pada penghayatan yang mendalam ketika ku mendapati diriku sedang berdiri disini sebagai mahasiswa kedokteran. Belajar di kedokteran sungguh merupakan kenikmatan yang luar biasa karena disinilah bermula perjalanan ruhiyah yang menjadi titik tolak terhadap perubahan besar terhadap diri ini.

Semester demi semester ku lewati dengan banyak cerita didalamnya. Sarat pengalaman dan pembelajaran didalamnya. Tiap cerita dengan segala warnanya berasosiasi menjadi kisah yang begitu berharga yang mengantarkan pada ketakjuban luar biasa terhadap kebesaran Allah.

Ku masih ingat saat memasuki masa orientasi kampus. Ku dan seluruh mahasiswa baru lainnya di "latih" baik fisik dan mental. Hingga saat ini, pengalaman yang tak terlupakan ketika kami harus memasuki kamar mayat satu persatu, mencari sedotan kecil yang diletakkan disekitar kadaver (jenazah manusia yang telah diawetkan dengan zat formalin). Terdapat lima hingga enam kadaver saat itu dengan bentuk yang sudah tidak karuan lagi. Hanya berbekal lilin ditengah ruangan yang begitu sangat gelap, kami harus mengumpulkan sisa-sisa energi tuk menghalau rasa takut yang demikian tinggi dalam pertualangan yang begitu sangat menegangkan dan sungguh mendebarkan!!!

Tahun-tahun pertama perkuliahan. Rasa takjub terhadap kebesaran Allah begitu besar ketika ku melewati masa-masa praktikum anatomi. Para dosen selalu mengingatkan kami tuk menghargai dan memperlakukan kadaver tersebut dengan sebaik-baiknya karena dari merekalah, kami mendapatkan ilmu yang begitu banyak. Ketakjuban tersebut semakin sempurna ketika ku mendapatkan pelajaran fisiologi yang membuka pikiranku betapa sangat indah nan sempurna ciptaan-Nya. Ternyata tubuh manusia merupakan suatu sistem yang maha dahsyat dengan dinamisasi dan harmonisasi yang berjalan menuruti titah Sang Khalik.

Tahun-tahun terakhir perkuliahan. Saat mempelajari ilmu-ilmu klinik dan kemudian melalui masa preklinik juga merupakan saat-saat berharga bagiku. Ku mulai belajar bagaimana Allah yang Maha Cerdas memberikan clue-clue tertentu terhadap setiap penyakit sehingga memberikan celah bagi manusia (dalam hal ini dokter) untuk menentukan terapi yang tepat dalam batasan iktihar manusia. Jeda waktu beberapa bulan bersentuhan dengan pasien dan keluarganya saat preklinik memberikan arti tersendiri bagiku.

Kini, waktu telah mengantarkanku pada babak baru dalam perjalanan hidupku. Amanah itu tersemat dipundak ketika jas putih yang ku kenakan bertuliskan "Dokter Muda". Moga amanah baru ini mampu terjalankan dengan baik untuk terus mendekatkan diri pada Allah dengan mentafakuri kebesaran-Nya lewat ciptaan sempurna-Nya bernama manusia.

Dibalik gelar dokter muda, tentunya terdapat perjuangan panjang seorang calon dokter untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang didapat selama dibangku kuliah untuk mendiagnosa dan mengelolh pasien dengan penyakit tertentu. Mengamalkan janji yang diucapkan dengan penuh tanggungjawab dan cinta terhadap profesi ini. Tentu akan banyak kisah menarik yang akan mewarnai perjuangan ini. Dengan basmalah, smoga langkah ini menjadi ringan dan tetap tegar melewatinya.