Yang selalu naungi dunia kecil milikku
Sebarkan wangi kedamaian
tak henti memberiku semangat menapaki hidup
Dia, menjelma telaga teduh sepanjang waktu,
Tempatku bertambat, bermain dan bermimpi
Riak airnya membiakkan banyak kebahagiaan
Menemani segala bentuk hari yang ku lalui
Aku tak pernah mendapatinya kering,
Meski musim tidak terhitung berganti
Aku tak pernah melihatnya tumbang
Walau gelombang yang mendera bertubi-tubi
Dia tetap tersenyum menjumpaiku
Dia tetap membagi aku dengan kecupan sayang
Bunda, aku menyebutmu demikian (anonym)
***
Inspirasi:
Disuatu
pagi , di Salah Satu Kamar Bedah Sebuah
Rumah sakit
Hari ini
Allah swt kembali menunjukkan padaku tentang cinta sejati saat mendampingi
seorang ibu menjalani operasi Caesar atas indikasi G1 primi tua (hamil pertama
usia tua). “Apa anak saya baik-baik saja dokter?’ Itulah pertanyaan yang
pertama kali ditanyakan sesaat tangisan bayinya terdengar. “Tenanglah ibu, bayi
ibu sehat dan gagah sekali seperti ayahnya. Baru saja suami ibu membacakan azan
di telinganya.” Jawabku sambil tersenyum.
Ku
bisikkan pada bayi mungil tersebut, “Aufa Muhammad Irfan, jadilah anak
kebanggaan agama dan orang tuamu. Kamu beruntung sekali mendapatkan ibu sekuat
ibumu.”
Leadership Training Asy-Syifaa at Ponpes Rohmatullah Samarinda 2006
Pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu
Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah kita
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi, dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai
di satu titik lalu sejenak kita berhenti menyadari
mungin hati kita telah terkecualikan dari ikatan diatas iman
bahkan saling nasehat pun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai , tapi masing-masing habis dimakan api
kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati
pada amal salih yang menjulang bercabang-cabang
pada akhlak yang manis, lembut dan wangi
hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata
yang dengannya kebenaran terbaca dan bercahaya
"kaifa haluq sawdariq???"^^ lama
sekali kita tidak saling menyapa dalam kehangatan
persaudaraan,,mungkikah kalian lupa padaku???aku rasa tidak, hanya saja
kalian pasti sibuk, hingga sejenak kalian lupa ,,,saat ini aku mengetok hati kalian agar kalian ingat,menyapaku dalam kata dan doa...seperti dulu, seperti masa-masa itu
,,,UHIBBUKIFILLAH,
Hari ini hujan sangat deras mengguyur
kota ini hingga banjir yang senantiasa menjadi tamu tahunan mengenangi beberapa
ruas jalan. Dengan malas, ku bulatkan
tekad untuk melewati banjir tersebut dengan berjalan kaki. Motor terpaksa ku
titipkan ke pemilik warnet, tempat ku bernaung dari tadi. Hujan kali ini
benar-benar sangat deras. Sesekali kilatan petir dan suara gemuruh langit
menggelegar.
“Apa
gak tunggu banjirnya reda saja, nduk?” Tanya si mbah, orang tua pemilik
warnet.
“Gak
mbah, saya jalan kaki saja. Gak terlalu jauh koq. Saya titip motor dulu ya
mbah. Abis Magrib, saya ambil. “ jawab ku ketika sedang bersiap memakai
jaket dan mengambil helm.
“Oh
gitu, hati-hati nduk.” Pesan si mbah kepadaku.
“Nggih
mbah, assalamualaikum.” Ku pun berlalu meninggalkan warnet dan si mbah.
Selama melewati banjir, ku berjalan
sangat hati-hati. Takut tergelincir. Kaos kaki putih yang ku kenakan sekarang
berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Begitu sampai dirumah, segera ku cuci
kaki beserta kaos kaki yang ku kenakan dan langsung ku jemur.
Sebuah pengalaman serupa mengarungi
banjir yang jauh lebih tinggi pernah ku alami beberapa tahun lalu. Saking
derasnya banjir tersebut, membuat sandal ku sempat hanyut walau akhirnya ku berhasil
mendapatkannya kembali (semau ini tidak lepas dari bantuan dan kesigapan
teman-teman yang saat itu berjalan di belakangku^__^). Waktu itu, kami baru
saja usai mengikuti kelas bahasa Arab di sebuah masjid yang tidak jauh dari tempat
tinggalku.
Kisah diatas hanyalah sebuah kisah yang
menginspirasi tulisan ini. Tulisan yang mengenangkanku pada sosok guru bahasa
Arab kami. (Semoga Allah senantiasa
merahmati beliau. Allahumma amin). Sekilas anda melihatnya, mungkin anda
tidak akan menyangka beliau adalah seorang yang fasih bahasa Arab.
Penampilannya sangat sederhana saat mengajar. Selain plastik putih yang selalu melingkar di
pergelangan tangan beliau, tempat untuk menaruh buku-buku serta kopiah hitam
yang menutupi sebagian rambut beliau yang telah memutih, maka tidak ada
kemewahan yang melekat pada diri beliau. Kesederhanaannya itulah yang membakar
semangat kami para muridnya untuk setia hadir di kelas bahasa Arab tersebut
setiap hari Rabu dan Ahad sore. Timbul rasa malu luar biasa pada diri ini jika
mendapati guru tersebut telah duduk manis menunggu kedatangan kami.
Di usianya yang sangat tua dengan jalan
sedikit membungkuk serta rambut yang telah memutih tidak sedikitpun mengurangi
semangat (ghiroh) beliau untuk
menempuh perjalanan kiloan meter dari pinggiran kota hanya untuk membagi
ilmunya kepada kami. Beliau tidak pernah meminta kami untuk membayar iuran
bulanan meski beliau seringkali harus menyisihkan uang pribadi sebagai ongkos angkot (nama angkutan umum di kota ini)
untuk sampai ke masjid ini. Sesekali anak lelaki beliau menghantar atau
menjemput beliau. Entah apa yang memotivasi beliau sedemikian kuatnya hingga
sedikitpun beliau tidak pernah lelah mengajar kami dan tidak pernah mengeluh
sedikitpun. Pernah suatu ketika, kami berinisiatif untuk mengumpulkan iuran
bulanan, namun beliau menolaknya dengan mengatakan “uangnya dipakai untuk keperluan kuliah saja”. Subhanallah,
kata-kata itu begitu sangat tulus keluar dari mulut beliau. Beliau menyayangi
kami seperti cucunya. Beliau benar-benar memperlakukan kami seperti seorang
kakek ketika mengajari cucunya karena kebiasaan beliau menyuguhkan permen yang
telah dipersiapkan di kantung bajunya saat pelajaran berlangsung. Awalnya kami
merasa “kikuk’ diperlakukan sedemikian istimewa oleh sang guru, namun akhirnya
kami terbiasa dengan hal tersebut. Inilah yang terkadang menjadi guyonan
diantara kami di akhir kalimat SMS ketika mengingatkan jadwal kelas bahasa Arab
esok harinya, “Jangan telat ya, ntar gak
diberikan permen ukhti!!!”
Maha besar Allah yang telah
mempertemukan ku dan teman-teman dengan seorang guru sejati yang mengajarkan
banyak hal. Hari ini kutemukan jawaban yang pernah ku tanyakan sendiri dalam
diri. Apa yang memotivasi beliau sehingga begitu tulus mengajari kami. Inilah jawabnya,
sepertinya beliau benar-benar memahami hadist Rasullullah saw “Apabila anak
adam meninggal dunia, maka putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara:
shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh/ah. “ (HR. Muslim,
Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad & Nasai).
Tidak hanya itu, sepertinya Guru saya
tersebut mengetahui benar nasihat dari ulama besar Imam Syafii dan
mengamalkannya. Pernah suatu ketika, Imam Syafii diminta untuk memberikan
sebuah nasihat kepada Abu Abdus Shomad, seorang guru yang mendidik anak-anak
khalifah Harun Ar-Rasyid. Imam Syafii lalu berkata kepada Abu Abdus Shomad:
“Hendaklah hal yang pertama dimulai dalam mendidik adalah memperbaiki dirimu.
Mata-mata mereka bergantung pada matamu. Dan kebaikan mereka adalah kebaikan
apa yang engkau lakukan. Keburukan bagi mereka adalah sesuatu yang engkau
benci. Ajarkanlah mereka kitabullah, Janganlah engkau memaksakan mereka
sehingga mereka bosan. Dan janganlah engkau meninggalkan mereka dari Al-Quran
lalu mereka akan meninggalkannya. Kemudian ceritakan pada mereka dari
hadist-hadist yang mulia dan pepatah nasehat. Dan janganlah kau ajarkan mereka
suatu ilmu kemudian pindah pada ilmu yang lain sehingga mereka memahaminya.
Maka sesungguhnya perkataan yang
bertumpuk-tumpuk dalam pendengaran akan menyusahkan pemahaman. “ (Mauqif
Fii Az Zuhd wa Roqoiq: 70)
Tidaklah berlebihan jika ku berasumsi
bahwa gaya seorang guru saat mengajar sangatlah berpengaruh terhadap semangat
atau tidaknya anak didiknya dalam belajar. Menjadi malas atau bahkan takut.
Keteladanan seorang pendidik, bahkan bisa menyihir anak didiknya sehingga mereka bercita ingin
menjadi seperti guru tersebut. Seperti suatu ketika, seorang guru TK bertanya kepada anak-anak didiknya, “Apa
cita-cita kalian ketika besar?”. Dengan polos, anak-anak tersebut menjawab
“Ingin menjadi seperti ibu guru!!!”.
*kepada
guruku,
Ilmumu ibarat
telaga yang tiada pernah kering memberikan manfaat
Kehadiranmu senantiasa
memberikan kehangatan kepada anak didikmu
Hanya sebuah
doa yang bisa ku ucapkan: “smoga Allah memberikan balasan syurga atas
kebaikan-kebaikanmu
Alkisah,
Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok
mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan
oleh para siswanya.
Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata:
"Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran
galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.
Lalu ia
juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan
dengan hati- hati batu-batu itu kedalam toples.
Ketika batu itu memenuhi
toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke
dalamnya, dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"
Semua siswanya
serentak menjawab, "Sudah!"
Kemudian dia berkata, "Benarkah?"
Dia
lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan
kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya,
sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu
itu.
Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini
sudah penuh?"
Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!",
salah satu dari siswanya menjawab.
"Bagus!" jawabnya.
Kembali dia
meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan
pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-
ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.
Sekali lagi dia bertanya,
"Apakah toples ini sudah penuh?"
"Belum!" serentak para siswanya menjawab
sekali lagi dia berkata, "Bagus!"
Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai
menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung
atas.
Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan
bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"
Seorang siswanya yg
antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu
berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"
"Bukan!",
jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita
bahwa :
JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU
TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES
TERSEBUT.
"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu,
suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu,
mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam
hidupmu.
Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut
sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk
memperhatikannya.
Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam
prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil,
kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam
hidupmu".
***
Wah, pekan depan rumah sakit ini akan kedatangan wajah-wajah baru
para dokter muda. Selamat buat teman-teman sejawat yang akan berjuang
bersama menyelami dunia klinik. Akan ada hal-hal baru yang akan ditemui
disini sehingga butuh waktu untuk bisa beradaptasi. Seperti yang kalian lihat, dunia coass jauh lebih sibuk dibandingkan saat preklinik, jadi tantangan terbesar dan utama yang akan kita hadapi adalah WAKTU. Manfaatkanlah waktu dan aturlah ia agar ia tidak terisi dengan hal-hal kecil apalagi yang sia-sia....
Selamat datang di dunia koass yang super sibuk, katanya... Berpikir positiflah karena dengan begitu berarti kita akan lebih banyak dihabiskan dengan kesibukan yang penuh pembelajaran didalamnya. Belajar tuk menjadi orang yang bertanggung jawab (dokter) yang penuh bersyukur dan disiplin. Insya Allah!!!
ku heran pada anggapan sebagian orang, tentang terjalnya dunia koass dan sulitnya mempertahankan keistiqomahan didalamnya. karena hingga detik ini ku merasakan betapa Allah swt mengajarkan banyak hal disini. pelajaran tuk selalu bersyukur dalam setiap kondisi keadaan terutama atas nikmat sehat dan waktu luang. pelajaran tuk senantiasa mengembalikan segala sesuatu kepada Allah swt saja diujung usaha manusia pelajaran tuk selalu menuntut ilmu pelajaran sabar dan berlapang dada pelajaran tuk senantiasa ikhlas dalam tiap aktivitas...
begitu banyak pelajaran yang bisa didapatkan disini yang mentarbiyah diri ini menjadi lebih baik. lantas mengapa begitu banyak kefuturan disini????
Seorang dosen bertanya di depan kelas, "Tuliskan apa yang takuti ketika Koas. Tuliskan sebanyak-banyaknya?" Saat itu ku menuliskan hal pertama yang paling kutakuti adalah ku takut tidak bisa membagi waktu sehingga kesibukan koas mbuatku tidak bisa hadir liqo pekanan. Selanjutnya yang paling kutakuti adalah ketika ku selalu ijin untuk tidak mengisi halaqoh dan bertemu dengan adik-adik binaan tiap pekan.
Dilain kesempatan, begitu banyak sekali orang-orang yang menginspirasi untuk menghilangkan ketakutan itu.
Kata orang bijak, "engkau akan menjadi seperti yang engkau pikirkan". sehingga saat itu ku hujamkan dalam hati, ku pasti bisa melewatinya dengan keistiqomahan.
Kata Murobbi, "dibalik sebuah perjuangan akan selalu ada pengorbanan. Bersungguhlah dalam pengorbanan itu. maka engkau akan mendapatkan hasil yang baik. Bertahanlah disaat sebagian besar lemah. Karena disaat itu, boleh jadi engkau terlihat sendiri, namun tidaklah demikian. Akan ada Allah swt senantiasa menghibur hatimu dan orang beriman yang selalu mendoakanmu baik dengan sepengetahuanmu maupun dalam diamnya."
Kata seorang akhwat, " Jadilah dokter muda muslimah yang luar biasa. yang tetap bisa produktif ketika koas". atau perkataan akhwat lainnya, " Ayo kita harus bisa menjaga istiqomah karena pada saat itulah tanpa kita sadari bisa jadi kita menjadi inspirasi bagi orang lain untuk menjaga keistiqomahannya."
Bismillah ku tuliskan ini bukan berarti saat ini ku lemah. sungguh tidak demikian. semua ini kulakukan tidak lain untuk menguatkan pijakanku sebelum ku memasuki dunia koas. sebuah kekuatan yang kuambil dari kekuatan kata bernama "istiqomah".
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
(Q.s At-Tin:4)
Ayat ini mengantarkanku pada penghayatan yang mendalam ketika ku mendapati diriku sedang berdiri disini sebagai mahasiswa kedokteran. Belajar di kedokteran sungguh merupakan kenikmatan yang luar biasa
karena disinilah bermula perjalanan ruhiyah yang menjadi titik tolak
terhadap perubahan besar terhadap diri ini.
Semester demi semester ku lewati dengan banyak cerita didalamnya. Sarat pengalaman dan pembelajaran didalamnya. Tiap cerita dengan segala warnanya berasosiasi menjadi kisah yang begitu berharga yang mengantarkan pada ketakjuban luar biasa terhadap kebesaran Allah.
Ku masih ingat saat memasuki masa orientasi kampus. Ku dan seluruh mahasiswa baru lainnya di "latih" baik fisik dan mental. Hingga saat ini, pengalaman yang tak terlupakan ketika kami harus memasuki kamar mayat satu persatu, mencari sedotan kecil yang diletakkan disekitar kadaver (jenazah manusia yang telah diawetkan dengan zat formalin). Terdapat lima hingga enam kadaver saat itu dengan bentuk yang sudah tidak karuan lagi. Hanya berbekal lilin ditengah ruangan yang begitu sangat gelap, kami harus mengumpulkan sisa-sisa energi tuk menghalau rasa takut yang demikian tinggi dalam pertualangan yang begitu sangat menegangkan dan sungguh mendebarkan!!!
Tahun-tahun pertama perkuliahan. Rasa takjub terhadap kebesaran Allah begitu besar ketika ku melewati masa-masa praktikum anatomi. Para dosen selalu mengingatkan kami tuk menghargai dan memperlakukan kadaver tersebut dengan sebaik-baiknya karena dari merekalah, kami mendapatkan ilmu yang begitu banyak. Ketakjuban tersebut semakin sempurna ketika ku mendapatkan pelajaran fisiologi yang membuka pikiranku betapa sangat indah nan sempurna ciptaan-Nya. Ternyata tubuh manusia merupakan suatu sistem yang maha dahsyat dengan dinamisasi dan harmonisasi yang berjalan menuruti titah Sang Khalik.
Tahun-tahun terakhir perkuliahan. Saat mempelajari ilmu-ilmu klinik dan kemudian melalui masa preklinik juga merupakan saat-saat berharga bagiku. Ku mulai belajar bagaimana Allah yang Maha Cerdas memberikan clue-clue tertentu terhadap setiap penyakit sehingga memberikan celah bagi manusia (dalam hal ini dokter) untuk menentukan terapi yang tepat dalam batasan iktihar manusia. Jeda waktu beberapa bulan bersentuhan dengan pasien dan keluarganya saat preklinik memberikan arti tersendiri bagiku.
Kini, waktu telah mengantarkanku pada babak baru dalam perjalanan hidupku. Amanah itu tersemat dipundak ketika jas putih yang ku kenakan bertuliskan "Dokter Muda". Moga amanah baru ini mampu terjalankan dengan baik untuk terus mendekatkan diri pada Allah dengan mentafakuri kebesaran-Nya lewat ciptaan sempurna-Nya bernama manusia.
Dibalik gelar dokter muda, tentunya terdapat perjuangan panjang seorang calon dokter untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang didapat selama dibangku kuliah untuk mendiagnosa dan mengelolh pasien dengan penyakit tertentu. Mengamalkan janji yang diucapkan dengan penuh tanggungjawab dan cinta terhadap profesi ini. Tentu akan banyak kisah menarik yang akan mewarnai perjuangan ini. Dengan basmalah, smoga langkah ini menjadi ringan dan tetap tegar melewatinya.