Tampilkan postingan dengan label Catatan Seorang Istri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Seorang Istri. Tampilkan semua postingan

Happy Milad Suamiku...

Semoga engkau menonton video ini.

"Beda Dari Yang Lain"



Dalam perjalanan pulang dari salah satu Toko Tekstil di Samarinda.
Saya: "Abi, tadi beli apa?"
Suami: " Beli Peci."
Saya: " Harganya berapa"

KAGET!!!
Itulah yang saya rasakan ketika suami menyebutkan harganya. Apalagi saat mendengarkan alasan yang diutarakannya.
Suami: "Iya, Abi tertarik milih peci itu karena peci itu beda dari yang lain karena harganya paling mahal"

TERDIAM SEJUTA RASA!!!
Itulah yang saya rasakan ketika suami melanjutkan pembicaraan.
Suami: "Iya, sama saat memilih Umi menjadi istri Abi karena Umi beda dari yang lain."

#Ehmm... selalu kehabisan kata saat di hadapannya.

Mengenang Saat Pertemuan Di KUA


Pagi hari semilir angin meniup dedaunan
butir-butir kecil air hujan membasahi bumi
dan lembar demi lembar kelopak daun yang mulai berguguran
membias indah menyimpan berjuta senyuman

Di balik kaca jendela
Ku duduk terdiam termenung
Ku tatap jauh melintas angkasa yang menyirat rahasia Tuhan
sesekali ku menghembus nafas panjang
Batinku mengadu pada pemilikNya :
"Rabbi, permudahkanlah urusan Hamba untuk melengkapi separuh dienMu. Bimbinglah hamba tuk bisa melalui saat-saat pertemuan dengannya. Lelaki yang Engkau pilih tuk menjadi tambatan hati."

Yah... Hari itu tepatnya tgl 12 Maret 2012 seseorang kan datang menyatakan keseriusannya menikahi diriku... Segaris senyum terukir di wajah disaat mengenang masa-masa di SMA dulu. Saat mengenali dan berinteraksi dengannya. Tidak ada getaran-getaran itu hadir.. Setelah waktu berlalu begitu panjang, kini takdir justru mempertemukan kami kembali, tidak sebagai reuni teman lama, melainkan sebagai bukti komitmen kami tuk mengarungi hidup bersama dalam ikatan pernikahan.

Ternyata takdir adalah hal muthlak yang akan terjadi... Persoalannya hanya atas Izin dari Allah swt tentunya.. Dia lah Rabb yang telah menulis dalam lembaran lembaran takdir (lauh mahfuz) bahwa kelak aku dan "dia" akan hidup bersama.. Mengarungi bahtera cinta seperti saat ini.. Padahal waktu itu aku tak pernah menyangka aku akan menikah saat masih kuliah, dan bersama dengan si "dia" yang telah bertahun tahun tak jumpa, tanpa komunikasi, bukan teman akrab, apalagi pacar (istilah kaum marginal)..

"Tarbiyah" mungkin ini kata yang tepat yang dijadikan oleh Allah swt sebagai asbab pertemuan kami... Di jalan cinta inilah kami bertemu di salah satu stasenya, yah stase "membina rumah tangga Islami"... Tidak dapat dipungkiri bahkan memang demikianlah adanya... Saudara_saudara kami di jalan "tarbiyah" lah yang telah banyak mengurusi pernikahan kami... Mulai dari ta'aruf, khitbah, sampai walimahtul ursy... Semoga Allah swt mwngistiqomahkan kami dalam jama'atuddakwah ini... Jalan cinta para manusia yang mengharapkan ampunan dan pertemuan dengan Allah swt..

Hal yang lumrah bagi kami dalam lingkungan "tarbiyah" untuk melakukan proses ta'aruf terhadap calon pasangan.. Sebelum kami datang ke KUA kami melalui lingkungan "tarbiyah" telah mengenal biografi satu sama lain dengan saling bertukar data yang kami sebut proposal pernikahan.. Hehe kaya' propsal kegiatan aja...

Yang namanya proposal bisa diterima atau di tolak! Karena menikah bagi kami bukan hanya soal cinta, melainkan visi hidup dengan seluruh karakternya... Sehingga pernikahan itu bukan hanya penyatuan fisik tapi juga penyatuan jiwa, penyatuan fikroh, penyatuan 2 keluarga besar... Itulah sebabnya sejak awal dan akhir proses ini kami melibatkan lingkungan "tarbiyah"... Yah jalan cinta yang melengkapi hidup kami dengan bekal untuk mendapatkan keridhoan Allah swt di dunia dan akhirat nanti insyaAllah...

Kami akhirnya akan bertemu di KUA,

Saat itu hari pun tertatih-tatih merambat siang
mentari mulai menggeser di antara awan-awan mendung
camar-camar riang bernyanyi menghias lelangit yang mulai menerang.

"Ayo Nak, kita berangkat sekarang.
Ucapan Abi membangunkanku dari lamunan.
Ku tatap sosok lelaki hebat itu, wajahnya senyum sumeringah sambil sesekali tangannya merapikan bajunya. Abi benar-benar rupawan siap bertemu calon besan dan "Dia".

Ku tidak ubahnya Nisa kecil yang membuntuti abi dari belakang. Langkahku lemah gontai, tak kuat Menginjak bumi. Bulir-bulir keringat dingin mulai bermunculan satu persatu. Jantungku berdebar sangat kencang. Tak pernah ku secemas ini. "Ya Rabb, seperti apa warna pertemuan nanti? Berikanlah ketenangan pada hamba..."

Akhirnya,
tibalah ku di KUA. Jantungku terus berdegup kencang. Wajahku pucat pasi. Ku terus berjalan mengikuti abi memasuki bangunan mungil itu.
namun...
langkahku tiba-tiba terhenti
melihat sosok bayangan lelaki di salah satu sudut ruangan.
"Apakah itu "dia" ?..
tanyaku dalam hati
dan langkahku pun ku teruskan hingga mendekati sebuah meja panjang dan dua kursi dihadapannya.

"Assalamualaykum, silakan duduk ukhti."
Sapa lelaki yang ku lihat tadi. Ternyata beliau adalah ustad. Burhan, anggota DPRD Nunukan dari fraksi PKS yang ikut mendampingi pertemuan kami saat itu.

"Akh Yakub solat dulu. Sebentar lagi kemari. Calon pengantin kita tegang sekali." (Celoteh ust. Burhan)
Beliau mencoba mencairkan suasana.
Ku paksakan diri untuk tersenyum. Entah seperti apa hasilnya. Lantas kemudian, Sekilas ku pandangi kursi yang tak jauh dari tempatku duduk, ada sebuah jaket yang bertuliskan KAMMI. Hatiku berdesir. Ku tahu jaket itu pasti miliknya. Ku tundukkan pandanganku dalam-dalam.

Seolah mengetahui kegalauanku, Sang Ustad kemudian mengajukan beberapa pertanyaan seputar perkuliahan, aktivitas dakwah di samarinda, dan kondisi mahasiswa Nunukan yang aktif tarbiyah. Terlihat sekali keinginan besar beliau agar mahasiswa Nunukan kembali membangun kota ini. Obrolan kami terputus saat terdengar seseorang mengucapkan salam dari arah pintu masuk. Ku mengenal suara itu. Suara yang tak asing di telingaku. Yah, itu "dia" yang menawarkan cinta suci kepadaku beberapa waktu lalu dalam sebuah proposal pernikahan..

Kepalaku terasa berat, sehingga ku tak sanggup lagi menegadahkan wajahku. Sekujur tubuhku serasa membeku. Hatiku diselimuti cemas, bahagia, malu, semua bercampur menjadi satu. Tak pernah ku rasakan getaran Cinta Seperti saat ini. Beberapa saat kemudian, kami secara bergantian di wawancara oleh petugas KUA. Setelah itu melapor ke Kantor Kecamatan. Semuanya kami lakukan ditemani orang tua masing-masing, Ustad serta seorang seorang ummahat. Dari awal hingga akhir pertemuan kami, tidak ada sapaan, tidak ada obrolan di antara kami. Bahkan hingga perpisahan itu tiba, tidak ada keberanian sedikitpun untuk melihat wajahnya. Meskipun demikian, pertemuan singkat itu membuat hatiku dipenuhi cinta akan dirinya, lelaki pilihan Allah untukku yang kini menjadi suamiku.

Matahari kini beranjak meninggalkan peraduannya,
Rembulan siap menyinari dengan kelembutannya,
Camar-Camar itu kembali bernyanyi di ranting pepohonan
menghias indah sore di detik_detik menanti hari pernikahanku...

Refleksi Mengenang Saat Itu...

Oleh: Andi Yakub Abdullah

Ku langkahkan kaki dengan penuh keyakinan.. Melewati darat dan laut menuju sebuah bangunan kecil bernama Kantor Urusan Agama (KUA) di pulau perbatasan Indonesia bagian utara (Sebatik)

Teringat sebuah syair yang melantun indah di hati di sepanjang perjalanan
"Sabarlah menunggu janji Allah kan pasti hadir tuk datang menjemput hatimu..
Sabarlah menanti usahlah ragu kasih kan datang sesuai dengan iman di hati.."

Bulan maret tanggal 12 tahun 2012, sekitar pukul 09.00 pagi ku telah tiba di desa Tanjung Aru. Tepatnya di KUA kec. Sebatik, hati yang gugup dan bahagia bercampur ditemani gerimis pagi yang seolah mendukung suasana batinku waktu itu.

Betapa tidak, ku tidak sedang kebetulan lewat di KUA, atau sekedar menemani orang untuk suatu urusan disana.., melainkan aku sedang menunggu seorang wanita yang sebentar lagi akan mengikat janji hidup bersama denganku.

Yah aku lah yang sedang berurusan dengan KUA, untuk mendaftar mengurus pembuatan buku nikah..., sudah menjadi peraturan di negeri ini (Indonesia), agar calon suami dan istri dipertemukan untuk di wawancarai mengenai kesiapan dan keseriusannya untuk menikah.

Karena ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, maka rasa gugup itu pasti ada. Maklum ini pertama kalinya juga dalam hidupku ingin mengatakan cinta pada seorang wanita... "Katakan cinta versi Islami"... Disaksikan kedua pihak (orang tua dan calon mertua) dan tentu juga petugas KUA). Rasa gugup itu juga semakin bertambah begitu tahu bahwa calon mertua dan "dia" sedang menuju ke KUA. Untuk menenangkan diri, ku tunaikan shalat sunnah di masjid terdekat.

Sejenak ku duduk di dalam masjid usai shalat sambil menghela napas mempersiapkan mental untuk bertemu dengan "dia" dan orang tuanya. Tiba-tiba hp ku berdering, isyarat panggilan agar aku segera ke KUA sekarang... Huf.. Ya Rabb inilah saatnya. Ya.. Aku akan segera bertemu dengan "dia".

"Dia" yang sebenarnya telah ku kenal beberapa tahun yang lalu. Tepatnya saat kami masih berseragam putih abu-abu, "dia" yang dulunya bukan siapa-siapa bagiku.. Dan aku juga bukan siapa-siapa baginya. Mungkin banyak yang salah mengira. Bahwa kami telah lama menjalin komunikasi alias pacaran. Padahal itu tidak pernah terjadi dalam kisah kami.

Saat SMA "dia" siswi yang berprestasi. Sementara diriku hanya siswa yang biasa saja. Kami hanya kenal seperti teman-teman pada umumnya. "Dia" kala itu adalah siswi yang full dengan aktifitas akademik dan selalu menjadi utusan dalam lomba ilmiah mewakili sekolah dalam event lokal dan nasional sehingga antara "dia" dan diriku ada jarak yang membuat kami tidak mungkin bisa menjadi sangat dekat apalagi berpacaran ( istilah anak galau saat ini).

Setelah lulus "dia" melanjutkan studi di FK UNMUL (Samarinda), dan diriku ke makassar. Setelah 5 tahun kemudian kami di proses (khitbah/lamaran). "Dia" dan keluarganya menerima.

Dan setelah masa yang panjang itu kami bertemu di KUA kec. Sebatik. Saat pertama kali kami bertemu kami tidak saling menyapa, tidak saling memandang, apalagi berjabat tangan. Pertemuan pagi itu sangat kaku tapi membuat hati mencapai puncak ketenangannya.

Ya bagi kami... Saat pertemuan di KUA belum ada kehalalan dari Allah swt untuk kami berdua... Kami di wawancarai pun orang perorang (bergantian)...
Saya tergelitik saat petugas KUA mengajukan pertanyaan
KUA: sejak kapan kalian kenal?
Saya: sekitar 5 thn yang lalu...
KUA: Oh sudah lama yah... Jadi selama itu kalian menjalin hubungan?
Saya: Tidak
KUA: Loh kok bisa?
Saya: Yah aku di makassar dan "dia" di samarinda..
KUA: hubungan jarak jauh?
Saya: tidak
KUA: loh kok bisa yah?
Saya: hmmm... Percayalah (dalam hati)

Pada saat pertanyaan mengenai hobi
KUA: apa hobi anda?
Saya: menulis dan membaca
KUA: wah sama dong dengan calonnya (dia)? (Sebelum saya diwawancarai "dia" lebih dahulu telah diwawancarai)
Saya: (tersenyum)
KUA: udah janjian yah?
Saya: hmmm... Mulai! (dalam hati)

Setelah kami di screening di KUA, kami pun berangkat menuju kantor Camat sebatik induk, bersama orang tua masing-masing tentunya. Sebagai warga negara yang baik kami pun melapor.

Di perjalanan ku melihatnya dari kejauhan.. Sulit untuk melihatnya.. Karena dia hanya menunduk dan/ menoleh kearah yang berlawanan. "Ciri khas akhwat pergerakan"...

Sampai akhirnya saat aku naik ke mobil.. Barulah aku dapat melihatnya dibalik kaca mobil (chie curi_curi pandang eeei) hehehe... Ada hadistnya loh tentang anjuran melihat calon pendamping... Hiks hiks hiks...

Setelah melihatnya ehm... Ehm.. Subehanalloh.. Ya robb... Kini terbukti hipotesis aktivis dakwah bahwa mencari pendamping hidup itu tidak mesti pacaran dulu... Buktinya para aktivis dakwah.. Mereka pada akhirnya menemukan takdirnya... Bertemu dengan kekasih hati pada saat yang tepat...

Demikianlah bahwa aku telah ditakdirkan bertemu dengan "dia"... Yang saat ini telah menjadi istriku... Berjanji di hadapan Allah swt untuk sehidup semati... Bekerja sama untuk memperoleh keridhoanNya...dan berharap kelak di akhirat nanti kami bersama lagi... Membangun cinta dalam naungan cinta kasih Nya.. 

Diari Hati Istri

Suamiku, ijinkanku kali ini menuliskan sebagian kisah Kita dalam catatan harianku sebagai bagian dari tarbiyah kehidupanku.

Kemarin pagi... kepadaku, engkau mengeluhkan sakit kepala dan demam. Seluruh persendianmu terasa sakit. Namun engkau memilih tetap berangkat kerja. Ada sebuah agenda RS yang harus dipersiapkan olehmu bersama panitia lain.

Sorenya engkau pulang. Ku mendapati wajahmu terlihat sangat lelah. Seluruh badanmu terasa hangat. Kembali engkau mengeluhkan seluruh persendianmu terasa sakit. Sehingga engkau lebih memilih istirahat sejenak walau saat itu lapar menggelayuti. Engkau memintaku tuk terus disisimu menemani.

"Hari ini ana banyak mengingat kematian."
Engkau mengawali pembicaraan. Engkau pun kemudian menceritakan pengalaman dan kesanmu setelah mengunjungi ayah salah seorang teman yang sedang sakit. "Ana masih ingat ketika beliau masih sehat.Tubuh yang kemarin terlihat gagah, bekerja keras dan kuat mengangkat kayu-kayu serta suaranya yang nyaring masih tergambar jelas. Kini beliau sedang terbaring sakit tak berdaya. Tubuhnya semakin kurus dan perutnya cekung. Tidak ada yang bisa dilakukan walau hanya tuk membuka mulut atau memiringkan badan kekiri/kanan." Ku terdiam mendengarkanmu dengan seksama.

Engkaupun kembali melanjutkan, "Sayang, cepat atau lambat kematian akan datang pada diri kita. Tidak sharusnya kita terlalu berat memikirkan dunia yang sebentar akan kita tinggalkan. Jika ada masalah atau ujian, kita tidak berlarut didalamnya. Melainkan menjalaninya sebagai suatu kepastian dalam kehidupan. Kita seharusnya lebih memikirkan amalan baik dan dosa yang kita perbuat. Mempersiapkan kematian itu dengan kebaikan-kebaikan kita."

Ku lihat wajahmu. Tatapanmu lurus kedepan, seolah jauh menerawang ke langit sana. " Ya Rabbi, sembuhkanlah suamiku. Jadikanlah ia sebagai pelebur dosa-dosanya dan Engkau ijabah sgala doa-doanya" Ku berdoa dalam hati.

"Sayang, jika di kemudian hari diantara kita ada yang terpukau dengan kemilau dunia, maka salah satu diantara kita harus saling mengingatkan tentang kematian." Kataku padanya.
***

Maha suci Engkau Allahu Rabbi, yang telah menganugerahkan kepada kami pasangan hidup yang membuat kami semakin mencintaiMu, menjadikan hati kami dipenuhi rasa syukur atas karunia besar ini serta menguatkan pijakan langkah kaki kami menuju Engkau.

 Jadikanlah ketentraman dan kecenderungan hati kami terhadap pasangan kami semata-mata berasal dari Engkau. Dengan ridhoMu, cinta itu tumbuh mekar mewangi hingga ke syurga. Amin ya Allah.

Ya Allah

Ya Allah,
Ku berdoa untuk seorang pria yang menjadi bagian dari hidupku.
Seorang pria yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu,
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu
Seseorang yang memiliki sebuah hati yang sungguh mencintaiMu dan dekat dengan Engkau dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya dan ia mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.

Ya Allah,
Ku berdoa untuk seorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku.
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tapi juga selalu menasehatiku ketika ku berbuat salah.
Seorang pria yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku disisinya
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

Ya Allah,
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku
Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu
Berikanlah aku tangan sehingga ku selalu mampu berdoa untuknya,
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melhat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya,
Berikanlah aku lisan yang penuh kata-kata bijaksana yang mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi
Dan bilamana akhirnya kami menghadapMu
Aku berharap kami dapat bertemu dan mengatakan 'Betapa maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna

Hanya Dirimu Tuk Hidupku Hari Ini, Esok Dan Selamanya




Ku pandangi ruangan kamarku. Untaian kain berwarna kuning dan hijau selang seling terlipat lalu kemudian menjuntai hingga ke lantai kamar menutupi seluruh dinding kamar. Jalinan kain tersebut kemudian membentuk bunga besar di atap kamar. Beberapa rangkaian bunga warna-warni dengan jalinan pita menghiasi sudut-sudut kamar. Ku duduk di tepi ranjang. Seprainya telah diganti dengan seprai baru yang dibeli Ummi khusus dipakai di hari ini. Warnanya entah disengaja atau tidak, senada dengan warna dinding kamarku. Di hadapanku, terdapat sebuah lemari dengan cermin yang cukup besar.

Ku melihat ada bayangan seorang wanita mengenakan jilbab berbalut gaun putih di balik cermin tersebut. “Apakah wanita itu aku?” Batinku mencoba menyakinkan diriku sendiri akan hari istimewa ini. Hari dimana ku akan memasuki dunia baru bernama rumah tangga bersama lelaki yang akan ku cintai sepenuh hati. Suamiku.

Tiada keraguan di hati ketika ia menyampaikan maksud ingin mengkhitbahku. Ku tepis keheranan orang-orang yang menanyakan tentang bagaimana cara ku mengenalnya dan bagaimana cinta itu bisa hadir tanpa pacaran dan komunikasi. Ku menjawabnya bahwa cinta/kecenderungan itu hadir dalam hati manusia bukanlah ditentukan oleh seringnya interaksi/tatap muka namun karena kecocokan jiwa, tempat cinta akan ditanam dan tumbuh. Dan Allah-lah yang Maha Kuasa menanamkan dan menumbuhkan cinta.

 “Kok melamun aja dari tadi?” Seorang akhwat menegurku. Ku hanya bisa tersenyum tanpa berkata apapun. Seolah akhwat tersebut memahami kegundahan hatiku dan mencoba menenangkanku. Saat-saat seperti ini kehadiran seorang teman sangat ku butuhkan. Ku bersyukur panitia walimah mengerti hal tersebut dan mengutus dua orang akhwat untuk mendampingiku di kamar hingga proses akad selesai. “Sebentar lagi rombongan ikhwan tiba!” Kata akhwat yang berbeda. Mendengar hal itu, jantungku berdebar sangat kencang. Pikiranku tidak menentu. Ada cemas, bahagia, semua bercampur menjadi satu.

 “Selesai akad, apa mau sholat dulu ukhti?” Tanya salah seorang akhwat. Ku hanya menganggukkan kepala tanpa bisa berkata apa-apa. Akhwat tersebut mengerti dengan isyarat tersebut dan beranjak dari kursi duduknya kemudian menghamparkan dua sajadah di salah satu sudut kamar. Untuk ku dan dia. Hatiku berdesir.

Beberapa menit kemudian suasana di luar kamar terdengar sangat ramai. Sepertinya rombongan ikhwan telah tiba dan memasuki ruang tamu yang tepat berada di samping kamarku. Perasaanku semakin tak menentu. Dari balik dinding kamar, ku mendengar suara seorang ikhwan membacakan serangkaian acara akad. Beberapa saat kemudian, suasana menjadi hening. Terdengar lantunan ayat al-Quran mengalun indah dibacakan oleh seorang ikhwan. Suasana semakin berjalan hikmat, ketika tausiyah nikah disampaikan.

Rasulullah pernah bersabda, "Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)

Hatiku gerimis.

Kini tiba saatnya. Disaksikan Allah swt. dan puluhan pasang mata, ijab Kabul itu di ikrarkan olehnya. Janji telah terucap dan telah dicatat oleh malaikatNya. Kini terungkaplah rahasia lauhul mahfudz selama ini tentang hadirnya pendamping hidup. Kini telah ada seorang pemimpin atas diriku untuk ku taati sebagai bagian pengabdian pada Rabb ku.  Kini ada sebuah hati yang harus ku jaga sepenuh hati karena keridhoannya menjadi kunci syurga.

Ya Allah, Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Ya Allah, Ya Tuhan ku yang maha mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini Ke tepian yang sejahtera dan abadi..
Amin ya Robb…


Bulir-bulir airmata bahagia kini berderai mengiringi rasa syukur tak terhingga atas nikmat-Nya yang tercurahkan hari ini. Berakhirlah sudah penantian panjang tentang hadirnya. Ku memasuki kehidupan baru menjalani peran sebagai seorang istri dan kelak sebagai seorang ibu bagi anak-anak kami. Indahnya bunga di taman takkan pernah bisa menyaingi keindahan cinta kami yang dibangun atas kecintaan pada Allah. Allah-lah yang menciptakan hati, jiwa dan raganya demikian rupa sehingga aku begitu mencintainya. Dan atas dasar cinta Allah pulalah ia pun mencintaiku. Kami sama-sama menyadari hanya dengan cinta karena Allah, cinta ini akan terus berbunga dan mewangi selamanya.

Suamiku,
Hanya dirimu yang ku inginkan
Mencerahkan hariku di kala mendung
Menyinari malamku di kala pekat
Suamiku,
Hanya engkaulah yang kuharapkan
Untuk hidupku hari ini, esok dan selamanya
Hingga kedua kaki kita menapaki syurgaNya

Hadiah Cinta Darinya


“Sayang, mau kado ulang tahun apa? Tanya Suami saya di balik telepon.
“Hmm, Ana mau setangkai mawar!!” Jawab saya.

Yah..Saya menginginkan kado istimewa dari suami saya. Sesuatu yang mewakili perasaan cintanya terhadap saya. Setangkai mawar merah. Selama ini saya tidak pernah menerima hadiah bunga dan kali ini saya menginginkan sesuatu yang romantis.

Tidak sabar saya menanti kiriman bunga darinya.

Namun, beberapa hari sebelum hari H, suami saya menelpon dan meminta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. Ternyata di kota kecil tempat suami saya bekerja, tidak ada toko bunga dan sulit untuk mencarinya diluar kota lalu selanjutnya mengirimkan ke kota ini. Walau ada rasa kecewa namun saya tidak ingin membuat suami saya berkecil hati. Saya menyadari pernikahan kami adalah kado terindah dari Ilahi menjelang usia saya yang kini menginjak 24 tahun.

“Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.” Ini adalah salah satu pelajaran yang pernah saya dapatkan dalam proses memahami arti cinta sesungguhnya.

Sebagaimana dalam sebuah kisah tentang seorang istri yang meminta cerai dari suaminya karena merasa sang suami sangat kaku dan tidak mampu menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan mereka telah menghancurkan semua harapan akan cinta yang ideal yang diinginkannya.

Pada suatu hari, istri tersebut memberanikan diri untuk mengatakan keputusannya kepada suami, bahwa ia menginginkan perceraian. Suaminya terdiam dan termenung.  kemudian kembali menanyakan apa yang dapat ia lakukan untuk merubah keputusan sang istri.

Dalam kekecewaan kian mendalam, sang istri pun menjawab dengan memberikan pertanyaan kepada suaminya. Seandainya, sang istri menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan mereka berdua tahu jika suaminya memanjat gunung itu, suaminya akan mati. Apakah sang suami akan melakukannya untuk dirinya. Setelah mendengar pertanyaan tersebut, Suaminya kembali termenung dan akhirnya berjanji akan memberikan jawabannya besok.

 Keesokan paginya, Sang istri mendapati suaminya sudah tidak ada dirumah dan hanya  menemukan selembar kertas dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan...
"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Meski hati sang istri hancur setelah membaca kalimat pertama. Namun Ia terus melanjutkan membaca surat tersebut.

"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu. Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu.Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.

Setelah membaca surat tersebut, sang istri akhirnya menyadari kekeliruannya dan sambil menangis, ia segera berlari membuka pintu dan melihat suaminya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Akhirnya istri tersebut pun tahu, tidak ada orang yang pernah mencintainya lebih dari suaminya.

Demikianlah cinta. Kadangkala pasangan hidup kita menyatakan cintanya tidak dalam wujud yang kita harapkan sehingga rasa cinta di hatipun kian hari kian berkurang. Namun sesungguhnya cinta itu hadir dalam wujud tidak kita bayangkan sebelumnya. Seperti kejutan hadiah cinta di ulang tahun saya. Kartu ucapan sederhana yang dibuat susah payah dan hafalan surat Al-Mulk yang dikebutnya selama beberapa hari untuk saya. Dia mencintai saya dengan caranya sendiri yang membuat saya menjadi wanita paling bahagia.

Dedicated for my Husband 'Andi Yakub Abdullah' & Saudari muslimah bernama Istri dimanapun anda berada.
Moga Bermanfaat.

Refleksi Pernikahan#2: Surat Cintaku Yang Pertama

Suamiku,
Telah tampak kebesaran Ilahi pada diri kita
Ia yang telah menciptakan kita dari satu jiwa yang awalnya tidak memiliki nama
Menyempurnakan bentukmu lalu menciptakanku dari rusuk kirimu
Setelah sebelumnya, Ia telah menuliskannya di kitab Lauhl Mahfudz
Kemudian semua menjadi ghaib, tersimpan rapi di langit sana

Suamiku,                   
Dalam kehidupan dunia, seperti diriku, engkaupun menjadi rahasia
Yang belum terungkap hingga waktunya
Kita lalui jalan kita masing-masing
Larut dalam aktivitas perbaikan dan perubahan
Hingga kemudian kita dipertemukan dalam sebuah skenario indah-Nya
Suamiku,
Seorang pernah bertanya padaku tentang dirimu,
Dan bagaimana cara pertemuan itu?
Kala itu ku katakan, dirimu adalah takdir yang telah ditetapkan-Nya
Merupakan karunia terbaik atas keshalihan diri
Dan diantara banyak pilihan pertemuan kita
Ku memilih untuk bertemu denganmu di jalan terindah bernama jalan dakwah!

Suamiku,
Seorang pernah bertanya padaku, bagaimana ku bisa “berani” mempertaruhkan
Separuh dien ini untukmu yang asing dalam kehidupanku?
Kala itu ku katakan, lewat munajat-munajatku,
Shaum sunnah, serta petuah dari orang-orang shalih-lah,
Ku harapkan kemantapan hati itu akan hadir
Bahwa dirimu adalah orang tepat yang  akan mendatangkan
Kebaikan segala urusan dunia-akhiratku

Suamiku,
Sungguh dakwah ini telah mengajarkanku makna kehidupan dan cinta sejati
Ku sangat mencintai jalan ini dan ingin terus berada didalamnya
Sehingga dalam doaku, ku selalu memohon pada-Nya atas kehadiran seseorang
Yang akan menjadi teman meniti jalan juang ini.
Seseorang yang menjadikan dakwah bagian dari hidupnya
Yang mencintai Allah dan Rasul-Nya diatas segalanya
Dan Allah yang maha Mengabulkan doa, menghadirkanmu sebagai jawaban atas doa itu

Suamiku,
Kepada-Nya semata kita memohon agar ku bisa menjadi amanah terindahmu
Sebagai sebaik-baik amanah, Sebagai sebaik-baik harta dunia bagi seorang mukmin
Kepada-Nya semata kita memohon agar engkau bisa menjadi qawam dalam keluarga
Sebagai sebaik-baik imam yang akan menghantarkan keluarga kita ke gerbang syurga
Kepada-Nya semata kita berdoa agar sejarah peradaban itu lahir dari rumah kita
Sebagai sebaik-baik keluarga yang diberkahi keturunan penerus dakwah Ilallah
Mereka akan kita didik agar takut kepada Rabb-Nya serta bangga terhadap Dien ini
Sebagai sebaik-sebaik risalah yang mendatangkan rahmat bagi seluruh alam

Suamiku,
Kita menyadari akan banyak ujian yang pasti kita temui dalam menggapai mimpi indah itu
Dalam sujud-sujud kita, kita mohonkan pada-Nya kekuatan serta keteguhan iman
Dalam pergaulan, kita hadirkan budaya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran
Dengan begitu, moga rumah tangga inilah yang menjadi kendaraan kita
Menuju negeri akhirat-Nya yang kekal
***
Bumi Cinta, 2012
Dedicated For My Husband, Andi Yakub Abdullah
“Membentuk keluarga barokah dunia akhirat” Itulah citamu dan citaku. Itulah visi kita!!!
Suamiku, Mari kita lukis “peradaban dan cita kelangitan” berawal dari sini.
Dari rumah kita!!!

Refleksi Pernikahan #1 : Amanah Terakhir Ayah

Ia seperti karang kokoh,
Yang tak pernah goyah walau gelombang mendera bertubi-tubi
Ia bak mentari sepanjang waktu,
yang tak pernah bosan menyinari walau awan mendung datang menyelimuti
Pancarkan energi ketegaran
dalam lukisan wajahnya yang jarang menangis
Sebarkan cahaya kebahagiaan
dalam  senyuman setiap menjumpaiku
Ayah, yang selalu menemani segala bentuk hari milikku



23 tahun sudah. Ayah penuhi kewajiban membesarkanku dalam samudera kasih yang tak bertepi. Sudah selama itukah aku menjadi bebanmu? Menjadi amanah titipan Ilahi yang engkau jaga dengan sepenuh hati.  Rasanya baru kemarin aku belajar memanggil namamu dan belajar mengejanya “a.y.a.h”.  Rasanya baru kemarin aku belajar merangkak tertatih-tatih menujumu.  Sudah selama itu pula ku hidup dalam limpahan syukur tiada terkira pada-Nya atas kehadiran ayah mengisi hari-hariku. Engkau hadir memberi kehangatan, kedamaian dan perlindungan dalam syurga rumah milik kita.

Pernah suatu ketika. Ayah mengatakan padaku bahwa kebersamaan kita tidak akan selamanya ketika kelak ku telah dewasa dan menikah. Ketika datang seorang pria melamar putri kecil ayah. Dan saat-saat itulah merupakan tugas terakhir dan terberat bagi ayah. Memastikan tanggung jawab yang selama ini ayah emban diberikan kepada orang yang tepat. Seseorang yang ayah ridho terhadap agama dan akhlaknya. Memastikan ia seorang yang memiliki hati yang bijak. Yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku. Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasehatiku ketika ku berbuat salah. Sehingga dengan begitu, putri ayah bisa berbakti padanya dengan sepenuh hati. Dan jika saat itu telah tiba, maka sampailah sudah tugas terakhir seorang ayah kepada putrinya, menikahkan.

Saat itu kini tiba. Ayah, ku tahu betapa beratnya hatimu melepaskan putri kecil ayah. Ku pandangi kedua sudut mata ayah. Disana, ada genangan air mata yang membawa berjuta harapan dan doa untuk ku. Engkau hadirkan pesona ketegaran dibalik getaran suara ayah ketika menuntunnya mengikrarkan Ijab Kabul. Engkau hadirkan ketentraman, mengusir segala kegundahan yang mengelayuti jiwa dengan nasihat-nasihat pernikahan yang engkau bisikkan padaku.
“Nak, inginkah ayah sampaikan sebuah kabar gembira padamu yang setelah ini engkau tidak akan bersedih hati? Ada syurga hijau menanti yang bisa engkau masuki dari pintu mana saja yang engkau sukai, kini kuncinya ada pada ridho suamimu. ”

Hari ini, ku tuliskan sebuah ungkapan cinta dalam tulisan sederhana untuk ayah tersayang yang sangat mencintaiku. Tak terhitung kasih dan pengorbanan yang selalu ayah persembahkan sepanjang hidupku namun masih sedikit bakti ku berikan kepadamu.

Telah datang kereta yang menjemput putri ayah pergi bersamanya
Dan aku pun berlalu dengan membawa secercah asa
Ayah lihatkah rinduku pada syurga yang bisa dimasuki dari pintu mana saja yang disuka
Ayah lihatkah janji Allah sebagai balasan ketaatan menjemput setiap kemilau ridhonya
Jika saatnya tiba,
Kita akan kembali bersua
Dalam hijaunya surga, dalam berbagai karunia
Dalam ketenangan dan kedamaian jiwa
Disana kita akan kembali merendah cinta
Hapuslah lara, iringkanlah doa kebahagiaan bagi kami mengarungi bahtera rumah tangga
***
Bumi Cinta, 2012

 Dedicated For My Dad, Muhammad Idris Shaleh 
terima kasih telah mengantarku ke gerbang pernikahan.