Sepenggal Kisah Dari Mesir: Surat Mohammed El Beltaji Untuk Putrinya
Mesir meninggalkan duka mendalam bagi seluruh umat muslim. Ribuan rakyat tak bersenjata di serang oleh pasukan militer dengan senjata lengkap. Hari rabu 14 Agustus 2013 di Medan Rab'ah dibanjiri darah para syuhada. Salah satu diantaranya adalah Asmaa Mohamed El Beltaji berusia 17 tahun. Beliau adalah putri satu-satunya Mohammed El Beltaji,
seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin. Semoga Allah swt merahmati beliau.
Beberapa hari sepeninggalnya, sang ayah pun menuliskan surat yang ditujukan untuknya. Surat yang menyatakan kedukaan, kebanggaan dan keyakinan yang kokoh akan janji Allah swt. Surat yang sangat menggugah bagi siapa saja yang membacanya karena menyentuh relung jiwa terdalam karena setiap kata yang tertulis seolah mengungkapkan nyanyian hati sang ayah. air mata ini pun tak terbendung saat membaca surat tersebut sebagaimana di bawah ini...
Putriku tercinta dan guruku
yang mulia.. Asma al-Beltaji, aku tidak mengucapkan selamat tinggal padamu,
tapi kukatakan bahwa besok kita akan bertemu lagi.
Kau tidak pernah dijajah oleh perkara sia-sia yang menyibukkan para remaja se
usiamu. Meskipun pendidikan tidak mampu memenuhi aspirasi dan ketertarikanmu,
kau selalu yang terbaik di kelas.
Aku tidak punya cukup waktu untuk membersamaimu dalam hidup singkat ini,
terutama karena waktuku tidak memungkinkan untuk menikmati kebersamaan
denganmu. Terakhir kali kita duduk bersama di Rabaa Al Adawiya kau berkata
padaku, "Bahkan ketika Ayah bersama kami, Ayah tetap sibuk" dan
kukatakan "Tampaknya bahwa kehidupan ini tidak akan cukup untuk menikmati
setiap kebersamaan kita, jadi aku berdoa kepada Tuhan agar kita menikmatinya
kelak di surga."
Dua malam sebelum kau dibunuh, aku melihatmu dalam mimpiku dengan gaun pengantin putih dan kau terlihat begitu cantik. Ketika kau berbaring disampingku aku bertanya, "Apakah ini malam pernikahanmu?" kau menjawab, "Waktunya adalah di sore hari Ayah, bukan malam". Ketika mereka bilang kau dibunuh pada Rabu sore aku mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir. Kau memperkuat keyakinanku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada pada kebathilan.
Aku merasa sangat terluka karena tidak berada di perpisahan terakhirmu dan tidak melihatmu untuk terakhir kalinya, tidak mencium keningmu, dan memilki kehormatan untuk memimpin shalat jenazahmu. Aku bersumpah demi Allah sayang, aku tidak takut kehilangan nyawaku atau penjara yang tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang kau telah berkorban nyawa ntuknya, untuk menyelesaikan revolusi, untuk menang dan mencapai tujuannya.
Jiwamu telah dimuliakan dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru tajam telah membelah dadamu. Yang menurutku luar biasa dan penuh dengan kebersihan jiwa. Aku yakin bahwa kau jujur kepada Allah dan Dia telah memilihmu di antara kami, memberimu kehormatan dengan pengorbanan.
Akhirnya, putriku tercinta dan guruku yang mulia... aku tidak mengucapkan selamat tinggal, tapi aku mengucapkan sampai jumpa kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di surga, dimana keinginan kita untuk menikmati kebersamaan kita akan menjadi kenyataan.
Dua malam sebelum kau dibunuh, aku melihatmu dalam mimpiku dengan gaun pengantin putih dan kau terlihat begitu cantik. Ketika kau berbaring disampingku aku bertanya, "Apakah ini malam pernikahanmu?" kau menjawab, "Waktunya adalah di sore hari Ayah, bukan malam". Ketika mereka bilang kau dibunuh pada Rabu sore aku mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir. Kau memperkuat keyakinanku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada pada kebathilan.
Aku merasa sangat terluka karena tidak berada di perpisahan terakhirmu dan tidak melihatmu untuk terakhir kalinya, tidak mencium keningmu, dan memilki kehormatan untuk memimpin shalat jenazahmu. Aku bersumpah demi Allah sayang, aku tidak takut kehilangan nyawaku atau penjara yang tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang kau telah berkorban nyawa ntuknya, untuk menyelesaikan revolusi, untuk menang dan mencapai tujuannya.
Jiwamu telah dimuliakan dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru tajam telah membelah dadamu. Yang menurutku luar biasa dan penuh dengan kebersihan jiwa. Aku yakin bahwa kau jujur kepada Allah dan Dia telah memilihmu di antara kami, memberimu kehormatan dengan pengorbanan.
Akhirnya, putriku tercinta dan guruku yang mulia... aku tidak mengucapkan selamat tinggal, tapi aku mengucapkan sampai jumpa kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di surga, dimana keinginan kita untuk menikmati kebersamaan kita akan menjadi kenyataan.
Teriring doa untuk keduanya, semoga Allah swt memuliakan keduanya ust.Mohammed El Beltaji dan putrinya Asmaa Mohamed El Beltaji dan mempertemukan keduanya kembali di surga yang dijanjikan-Nya. Amin
"Beda Dari Yang Lain"
Dalam perjalanan pulang dari salah satu Toko Tekstil di Samarinda.
Saya: "Abi, tadi beli apa?"
Suami: " Beli Peci."
Saya: " Harganya berapa"
KAGET!!!
Itulah yang saya rasakan ketika suami menyebutkan harganya. Apalagi saat mendengarkan alasan yang diutarakannya.
Suami: "Iya, Abi tertarik milih peci itu karena peci itu beda dari yang lain karena harganya paling mahal"
TERDIAM SEJUTA RASA!!!
Itulah yang saya rasakan ketika suami melanjutkan pembicaraan.
Suami: "Iya, sama saat memilih Umi menjadi istri Abi karena Umi beda dari yang lain."
#Ehmm... selalu kehabisan kata saat di hadapannya.
Mengenang Saat Pertemuan Di KUA
Pagi hari semilir angin meniup dedaunan
butir-butir kecil air hujan membasahi bumi
dan lembar demi lembar kelopak daun yang mulai berguguran
membias indah menyimpan berjuta senyuman
Di balik kaca jendela
Ku duduk terdiam termenung
Ku tatap jauh melintas angkasa yang menyirat rahasia Tuhan
sesekali ku menghembus nafas panjang
Batinku mengadu pada pemilikNya :
"Rabbi, permudahkanlah urusan Hamba untuk melengkapi separuh dienMu. Bimbinglah hamba tuk bisa melalui saat-saat pertemuan dengannya. Lelaki yang Engkau pilih tuk menjadi tambatan hati."
Yah... Hari itu tepatnya tgl 12 Maret 2012 seseorang kan datang menyatakan keseriusannya menikahi diriku... Segaris senyum terukir di wajah disaat mengenang masa-masa di SMA dulu. Saat mengenali dan berinteraksi dengannya. Tidak ada getaran-getaran itu hadir.. Setelah waktu berlalu begitu panjang, kini takdir justru mempertemukan kami kembali, tidak sebagai reuni teman lama, melainkan sebagai bukti komitmen kami tuk mengarungi hidup bersama dalam ikatan pernikahan.
Ternyata takdir adalah hal muthlak yang akan terjadi... Persoalannya hanya atas Izin dari Allah swt tentunya.. Dia lah Rabb yang telah menulis dalam lembaran lembaran takdir (lauh mahfuz) bahwa kelak aku dan "dia" akan hidup bersama.. Mengarungi bahtera cinta seperti saat ini.. Padahal waktu itu aku tak pernah menyangka aku akan menikah saat masih kuliah, dan bersama dengan si "dia" yang telah bertahun tahun tak jumpa, tanpa komunikasi, bukan teman akrab, apalagi pacar (istilah kaum marginal)..
"Tarbiyah" mungkin ini kata yang tepat yang dijadikan oleh Allah swt sebagai asbab pertemuan kami... Di jalan cinta inilah kami bertemu di salah satu stasenya, yah stase "membina rumah tangga Islami"... Tidak dapat dipungkiri bahkan memang demikianlah adanya... Saudara_saudara kami di jalan "tarbiyah" lah yang telah banyak mengurusi pernikahan kami... Mulai dari ta'aruf, khitbah, sampai walimahtul ursy... Semoga Allah swt mwngistiqomahkan kami dalam jama'atuddakwah ini... Jalan cinta para manusia yang mengharapkan ampunan dan pertemuan dengan Allah swt..
Hal yang lumrah bagi kami dalam lingkungan "tarbiyah" untuk melakukan proses ta'aruf terhadap calon pasangan.. Sebelum kami datang ke KUA kami melalui lingkungan "tarbiyah" telah mengenal biografi satu sama lain dengan saling bertukar data yang kami sebut proposal pernikahan.. Hehe kaya' propsal kegiatan aja...
Yang namanya proposal bisa diterima atau di tolak! Karena menikah bagi kami bukan hanya soal cinta, melainkan visi hidup dengan seluruh karakternya... Sehingga pernikahan itu bukan hanya penyatuan fisik tapi juga penyatuan jiwa, penyatuan fikroh, penyatuan 2 keluarga besar... Itulah sebabnya sejak awal dan akhir proses ini kami melibatkan lingkungan "tarbiyah"... Yah jalan cinta yang melengkapi hidup kami dengan bekal untuk mendapatkan keridhoan Allah swt di dunia dan akhirat nanti insyaAllah...
Kami akhirnya akan bertemu di KUA,
Saat itu hari pun tertatih-tatih merambat siang
mentari mulai menggeser di antara awan-awan mendung
camar-camar riang bernyanyi menghias lelangit yang mulai menerang.
"Ayo Nak, kita berangkat sekarang.
Ucapan Abi membangunkanku dari lamunan.
Ku tatap sosok lelaki hebat itu, wajahnya senyum sumeringah sambil sesekali tangannya merapikan bajunya. Abi benar-benar rupawan siap bertemu calon besan dan "Dia".
Ku tidak ubahnya Nisa kecil yang membuntuti abi dari belakang. Langkahku lemah gontai, tak kuat Menginjak bumi. Bulir-bulir keringat dingin mulai bermunculan satu persatu. Jantungku berdebar sangat kencang. Tak pernah ku secemas ini. "Ya Rabb, seperti apa warna pertemuan nanti? Berikanlah ketenangan pada hamba..."
Akhirnya,
tibalah ku di KUA. Jantungku terus berdegup kencang. Wajahku pucat pasi. Ku terus berjalan mengikuti abi memasuki bangunan mungil itu.
namun...
langkahku tiba-tiba terhenti
melihat sosok bayangan lelaki di salah satu sudut ruangan.
"Apakah itu "dia" ?..
tanyaku dalam hati
dan langkahku pun ku teruskan hingga mendekati sebuah meja panjang dan dua kursi dihadapannya.
"Assalamualaykum, silakan duduk ukhti."
Sapa lelaki yang ku lihat tadi. Ternyata beliau adalah ustad. Burhan, anggota DPRD Nunukan dari fraksi PKS yang ikut mendampingi pertemuan kami saat itu.
"Akh Yakub solat dulu. Sebentar lagi kemari. Calon pengantin kita tegang sekali." (Celoteh ust. Burhan)
Beliau mencoba mencairkan suasana.
Ku paksakan diri untuk tersenyum. Entah seperti apa hasilnya. Lantas kemudian, Sekilas ku pandangi kursi yang tak jauh dari tempatku duduk, ada sebuah jaket yang bertuliskan KAMMI. Hatiku berdesir. Ku tahu jaket itu pasti miliknya. Ku tundukkan pandanganku dalam-dalam.
Seolah mengetahui kegalauanku, Sang Ustad kemudian mengajukan beberapa pertanyaan seputar perkuliahan, aktivitas dakwah di samarinda, dan kondisi mahasiswa Nunukan yang aktif tarbiyah. Terlihat sekali keinginan besar beliau agar mahasiswa Nunukan kembali membangun kota ini. Obrolan kami terputus saat terdengar seseorang mengucapkan salam dari arah pintu masuk. Ku mengenal suara itu. Suara yang tak asing di telingaku. Yah, itu "dia" yang menawarkan cinta suci kepadaku beberapa waktu lalu dalam sebuah proposal pernikahan..
Kepalaku terasa berat, sehingga ku tak sanggup lagi menegadahkan wajahku. Sekujur tubuhku serasa membeku. Hatiku diselimuti cemas, bahagia, malu, semua bercampur menjadi satu. Tak pernah ku rasakan getaran Cinta Seperti saat ini. Beberapa saat kemudian, kami secara bergantian di wawancara oleh petugas KUA. Setelah itu melapor ke Kantor Kecamatan. Semuanya kami lakukan ditemani orang tua masing-masing, Ustad serta seorang seorang ummahat. Dari awal hingga akhir pertemuan kami, tidak ada sapaan, tidak ada obrolan di antara kami. Bahkan hingga perpisahan itu tiba, tidak ada keberanian sedikitpun untuk melihat wajahnya. Meskipun demikian, pertemuan singkat itu membuat hatiku dipenuhi cinta akan dirinya, lelaki pilihan Allah untukku yang kini menjadi suamiku.
Matahari kini beranjak meninggalkan peraduannya,
Rembulan siap menyinari dengan kelembutannya,
Camar-Camar itu kembali bernyanyi di ranting pepohonan
menghias indah sore di detik_detik menanti hari pernikahanku...
Refleksi Mengenang Saat Itu...
Oleh: Andi Yakub Abdullah
Ku langkahkan kaki dengan penuh keyakinan.. Melewati darat dan laut menuju sebuah bangunan kecil bernama Kantor Urusan Agama (KUA) di pulau perbatasan Indonesia bagian utara (Sebatik)
Teringat sebuah syair yang melantun indah di hati di sepanjang perjalanan
"Sabarlah menunggu janji Allah kan pasti hadir tuk datang menjemput hatimu..
Sabarlah menanti usahlah ragu kasih kan datang sesuai dengan iman di hati.."
Bulan maret tanggal 12 tahun 2012, sekitar pukul 09.00 pagi ku telah tiba di desa Tanjung Aru. Tepatnya di KUA kec. Sebatik, hati yang gugup dan bahagia bercampur ditemani gerimis pagi yang seolah mendukung suasana batinku waktu itu.
Betapa tidak, ku tidak sedang kebetulan lewat di KUA, atau sekedar menemani orang untuk suatu urusan disana.., melainkan aku sedang menunggu seorang wanita yang sebentar lagi akan mengikat janji hidup bersama denganku.
Yah aku lah yang sedang berurusan dengan KUA, untuk mendaftar mengurus pembuatan buku nikah..., sudah menjadi peraturan di negeri ini (Indonesia), agar calon suami dan istri dipertemukan untuk di wawancarai mengenai kesiapan dan keseriusannya untuk menikah.
Karena ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, maka rasa gugup itu pasti ada. Maklum ini pertama kalinya juga dalam hidupku ingin mengatakan cinta pada seorang wanita... "Katakan cinta versi Islami"... Disaksikan kedua pihak (orang tua dan calon mertua) dan tentu juga petugas KUA). Rasa gugup itu juga semakin bertambah begitu tahu bahwa calon mertua dan "dia" sedang menuju ke KUA. Untuk menenangkan diri, ku tunaikan shalat sunnah di masjid terdekat.
Sejenak ku duduk di dalam masjid usai shalat sambil menghela napas mempersiapkan mental untuk bertemu dengan "dia" dan orang tuanya. Tiba-tiba hp ku berdering, isyarat panggilan agar aku segera ke KUA sekarang... Huf.. Ya Rabb inilah saatnya. Ya.. Aku akan segera bertemu dengan "dia".
"Dia" yang sebenarnya telah ku kenal beberapa tahun yang lalu. Tepatnya saat kami masih berseragam putih abu-abu, "dia" yang dulunya bukan siapa-siapa bagiku.. Dan aku juga bukan siapa-siapa baginya. Mungkin banyak yang salah mengira. Bahwa kami telah lama menjalin komunikasi alias pacaran. Padahal itu tidak pernah terjadi dalam kisah kami.
Saat SMA "dia" siswi yang berprestasi. Sementara diriku hanya siswa yang biasa saja. Kami hanya kenal seperti teman-teman pada umumnya. "Dia" kala itu adalah siswi yang full dengan aktifitas akademik dan selalu menjadi utusan dalam lomba ilmiah mewakili sekolah dalam event lokal dan nasional sehingga antara "dia" dan diriku ada jarak yang membuat kami tidak mungkin bisa menjadi sangat dekat apalagi berpacaran ( istilah anak galau saat ini).
Setelah lulus "dia" melanjutkan studi di FK UNMUL (Samarinda), dan diriku ke makassar. Setelah 5 tahun kemudian kami di proses (khitbah/lamaran). "Dia" dan keluarganya menerima.
Dan setelah masa yang panjang itu kami bertemu di KUA kec. Sebatik. Saat pertama kali kami bertemu kami tidak saling menyapa, tidak saling memandang, apalagi berjabat tangan. Pertemuan pagi itu sangat kaku tapi membuat hati mencapai puncak ketenangannya.
Ya bagi kami... Saat pertemuan di KUA belum ada kehalalan dari Allah swt untuk kami berdua... Kami di wawancarai pun orang perorang (bergantian)...
Saya tergelitik saat petugas KUA mengajukan pertanyaan
KUA: sejak kapan kalian kenal?
Saya: sekitar 5 thn yang lalu...
KUA: Oh sudah lama yah... Jadi selama itu kalian menjalin hubungan?
Saya: Tidak
KUA: Loh kok bisa?
Saya: Yah aku di makassar dan "dia" di samarinda..
KUA: hubungan jarak jauh?
Saya: tidak
KUA: loh kok bisa yah?
Saya: hmmm... Percayalah (dalam hati)
Pada saat pertanyaan mengenai hobi
KUA: apa hobi anda?
Saya: menulis dan membaca
KUA: wah sama dong dengan calonnya (dia)? (Sebelum saya diwawancarai "dia" lebih dahulu telah diwawancarai)
Saya: (tersenyum)
KUA: udah janjian yah?
Saya: hmmm... Mulai! (dalam hati)
Setelah kami di screening di KUA, kami pun berangkat menuju kantor Camat sebatik induk, bersama orang tua masing-masing tentunya. Sebagai warga negara yang baik kami pun melapor.
Di perjalanan ku melihatnya dari kejauhan.. Sulit untuk melihatnya.. Karena dia hanya menunduk dan/ menoleh kearah yang berlawanan. "Ciri khas akhwat pergerakan"...
Sampai akhirnya saat aku naik ke mobil.. Barulah aku dapat melihatnya dibalik kaca mobil (chie curi_curi pandang eeei) hehehe... Ada hadistnya loh tentang anjuran melihat calon pendamping... Hiks hiks hiks...
Setelah melihatnya ehm... Ehm.. Subehanalloh.. Ya robb... Kini terbukti hipotesis aktivis dakwah bahwa mencari pendamping hidup itu tidak mesti pacaran dulu... Buktinya para aktivis dakwah.. Mereka pada akhirnya menemukan takdirnya... Bertemu dengan kekasih hati pada saat yang tepat...
Demikianlah bahwa aku telah ditakdirkan bertemu dengan "dia"... Yang saat ini telah menjadi istriku... Berjanji di hadapan Allah swt untuk sehidup semati... Bekerja sama untuk memperoleh keridhoanNya...dan berharap kelak di akhirat nanti kami bersama lagi... Membangun cinta dalam naungan cinta kasih Nya..
Ku langkahkan kaki dengan penuh keyakinan.. Melewati darat dan laut menuju sebuah bangunan kecil bernama Kantor Urusan Agama (KUA) di pulau perbatasan Indonesia bagian utara (Sebatik)
Teringat sebuah syair yang melantun indah di hati di sepanjang perjalanan
"Sabarlah menunggu janji Allah kan pasti hadir tuk datang menjemput hatimu..
Sabarlah menanti usahlah ragu kasih kan datang sesuai dengan iman di hati.."
Bulan maret tanggal 12 tahun 2012, sekitar pukul 09.00 pagi ku telah tiba di desa Tanjung Aru. Tepatnya di KUA kec. Sebatik, hati yang gugup dan bahagia bercampur ditemani gerimis pagi yang seolah mendukung suasana batinku waktu itu.
Betapa tidak, ku tidak sedang kebetulan lewat di KUA, atau sekedar menemani orang untuk suatu urusan disana.., melainkan aku sedang menunggu seorang wanita yang sebentar lagi akan mengikat janji hidup bersama denganku.
Yah aku lah yang sedang berurusan dengan KUA, untuk mendaftar mengurus pembuatan buku nikah..., sudah menjadi peraturan di negeri ini (Indonesia), agar calon suami dan istri dipertemukan untuk di wawancarai mengenai kesiapan dan keseriusannya untuk menikah.
Karena ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, maka rasa gugup itu pasti ada. Maklum ini pertama kalinya juga dalam hidupku ingin mengatakan cinta pada seorang wanita... "Katakan cinta versi Islami"... Disaksikan kedua pihak (orang tua dan calon mertua) dan tentu juga petugas KUA). Rasa gugup itu juga semakin bertambah begitu tahu bahwa calon mertua dan "dia" sedang menuju ke KUA. Untuk menenangkan diri, ku tunaikan shalat sunnah di masjid terdekat.
Sejenak ku duduk di dalam masjid usai shalat sambil menghela napas mempersiapkan mental untuk bertemu dengan "dia" dan orang tuanya. Tiba-tiba hp ku berdering, isyarat panggilan agar aku segera ke KUA sekarang... Huf.. Ya Rabb inilah saatnya. Ya.. Aku akan segera bertemu dengan "dia".
"Dia" yang sebenarnya telah ku kenal beberapa tahun yang lalu. Tepatnya saat kami masih berseragam putih abu-abu, "dia" yang dulunya bukan siapa-siapa bagiku.. Dan aku juga bukan siapa-siapa baginya. Mungkin banyak yang salah mengira. Bahwa kami telah lama menjalin komunikasi alias pacaran. Padahal itu tidak pernah terjadi dalam kisah kami.
Saat SMA "dia" siswi yang berprestasi. Sementara diriku hanya siswa yang biasa saja. Kami hanya kenal seperti teman-teman pada umumnya. "Dia" kala itu adalah siswi yang full dengan aktifitas akademik dan selalu menjadi utusan dalam lomba ilmiah mewakili sekolah dalam event lokal dan nasional sehingga antara "dia" dan diriku ada jarak yang membuat kami tidak mungkin bisa menjadi sangat dekat apalagi berpacaran ( istilah anak galau saat ini).
Setelah lulus "dia" melanjutkan studi di FK UNMUL (Samarinda), dan diriku ke makassar. Setelah 5 tahun kemudian kami di proses (khitbah/lamaran). "Dia" dan keluarganya menerima.
Dan setelah masa yang panjang itu kami bertemu di KUA kec. Sebatik. Saat pertama kali kami bertemu kami tidak saling menyapa, tidak saling memandang, apalagi berjabat tangan. Pertemuan pagi itu sangat kaku tapi membuat hati mencapai puncak ketenangannya.
Ya bagi kami... Saat pertemuan di KUA belum ada kehalalan dari Allah swt untuk kami berdua... Kami di wawancarai pun orang perorang (bergantian)...
Saya tergelitik saat petugas KUA mengajukan pertanyaan
KUA: sejak kapan kalian kenal?
Saya: sekitar 5 thn yang lalu...
KUA: Oh sudah lama yah... Jadi selama itu kalian menjalin hubungan?
Saya: Tidak
KUA: Loh kok bisa?
Saya: Yah aku di makassar dan "dia" di samarinda..
KUA: hubungan jarak jauh?
Saya: tidak
KUA: loh kok bisa yah?
Saya: hmmm... Percayalah (dalam hati)
Pada saat pertanyaan mengenai hobi
KUA: apa hobi anda?
Saya: menulis dan membaca
KUA: wah sama dong dengan calonnya (dia)? (Sebelum saya diwawancarai "dia" lebih dahulu telah diwawancarai)
Saya: (tersenyum)
KUA: udah janjian yah?
Saya: hmmm... Mulai! (dalam hati)
Setelah kami di screening di KUA, kami pun berangkat menuju kantor Camat sebatik induk, bersama orang tua masing-masing tentunya. Sebagai warga negara yang baik kami pun melapor.
Di perjalanan ku melihatnya dari kejauhan.. Sulit untuk melihatnya.. Karena dia hanya menunduk dan/ menoleh kearah yang berlawanan. "Ciri khas akhwat pergerakan"...
Sampai akhirnya saat aku naik ke mobil.. Barulah aku dapat melihatnya dibalik kaca mobil (chie curi_curi pandang eeei) hehehe... Ada hadistnya loh tentang anjuran melihat calon pendamping... Hiks hiks hiks...
Setelah melihatnya ehm... Ehm.. Subehanalloh.. Ya robb... Kini terbukti hipotesis aktivis dakwah bahwa mencari pendamping hidup itu tidak mesti pacaran dulu... Buktinya para aktivis dakwah.. Mereka pada akhirnya menemukan takdirnya... Bertemu dengan kekasih hati pada saat yang tepat...
Demikianlah bahwa aku telah ditakdirkan bertemu dengan "dia"... Yang saat ini telah menjadi istriku... Berjanji di hadapan Allah swt untuk sehidup semati... Bekerja sama untuk memperoleh keridhoanNya...dan berharap kelak di akhirat nanti kami bersama lagi... Membangun cinta dalam naungan cinta kasih Nya..
Refleksi UKDI: Indahnya Tawakkal setelah Iktihar Optimal
Alhamdulilah, Ujian CBT UKDI telah dilalui. Perantauan di kota surabaya sebentar lagi berakhir. Kini saatnya kembali ke kota tercinta untuk mempersiapkan OSCE pekan mendatang. Ku terduduk di salah satu sudut bandara terbersih di Indonesia, bandara juanda. Ku Terdiam ditengah keramaian, mencoba menyusun kepingan peristiwa selama berada di kota ini lalu membentuknya menjadi puzzle tarbiyah kehidupanku.
Mulai dari diskusi kelompok setiap hari, bertemu dengan teman-teman yang saling menguatkan di tengah hedonisme dan sekularisme hingga pada pelaksaanaan ujian kemarin. Semua peristiwa tersebut memberikan kesan mendalam akan pentingnya menjaga ketakwaan diri dimanapun berada meski berada di zona ketidaknyaman.
Dari Abu Dzarr ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadaku: “Bertakwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergauililah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).
Setelah ujian kemarin, kini semua peserta UKDI sedang galau gelisah menunggu hasil yang akan diumumkan bulan depan. Perlu sifat tawakkal total, menyerahkan secara ikhlas betul untuk ‘diselesaikan’ Allah swt. Dengan itu maka hati akan menjadi tentram dan sabar.
Tawakal merupakan perpaduan yang indah antara kepasrahan diri dengan ikhtiar/usaha yang optimal. Setelah kita ikhitiar dengan optimal, maka seharusnya kita bertawakal atas segala hasil yang kitaa kan dapatkan. Manusia hanya dituntut berusaha,bekerja atau berproses sedangkan hasil sesuai sunnatullah dan ketentuan Allah berlaku.
Dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan bahwa Amr bin Umayah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah!, Apakah aku ikat dahulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah”. (Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368)
Menanti selama sebulan kedepan, Tawakal memang bukan perkara mudah, tidak hanya perbuatan bibir saja tetapi ini Amalan Hati. Setidaknya ada TIGA langkah yang harus dilakukan untuk dapat bertawakal dengan sebenar-benarnya.
Pertama, Harapan Keyakinan itu HANYA pada Allah.
Mengantungkan harapan hanya kepada Allah semata, dengan mengikhlaskan dan meluruskan niat amalan hanya kepada Dzat yang maha menepati harapan. Keyakinan ini hendaknya dilakukan di awal, selama ujian, dan setelah ujian ukdi kemarin.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. Al Ikhlas: 2)
Kedua, selalu BERSYUKUR dan SABAR
Kita memang tidak pernah bisa mendapatkan setiap hal yang kita inginkan, namun kita akan selalu bisa mensyukuri setiap hal yang kita dapatkan. Dengan bersyukur, kita telah menjadi pribadi yang bermental positif, karena yakin bahwa Allah pasti memberi hal yang terbaik.
Bukankah Allah teramat sayang kepada hamba-hambaNya?
dan bukankah ia pasti kan memberikan segala yang terbaik untuk hamba-hambaNya?
Dan bukankah kita yakin bahwa Allah maha menepati janji?
Dengan bersyukur, kita bisa melihat kebaikan dari segala sesuatu. Karena bisa jadi, hal yang menurut kita mengecewakan merupakan suatu hal yang terbaik untuk kita. Dan belum tentu, apa yang kita harapkan, merupakan hal yang baik bagi kita. Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.
Jika hal yang menimpa diri kita berupa musibah kesusahan yang akhirnya akan menggoreskan kekecewaan dalam diri, maka sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk bersabar.
Dari Shuhaib Ar-Rumiy RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh mengagumkan urusannya orang mukmin itu, semua urusannya menjadi kebaikan untuknya, dan tidak didapati yang demikian itu kecuali pada orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan ia bershabar, maka yang demikian itu pun menjadi kebaikan baginya”. [HR. Muslim]
Sabar bukan berarti hal yang pasif saja, sabar juga bersifat proaktif. Karena sabar terdiri dari tiga hal, sabar dalam menghadapi MUSIBAH, sabar dalam mengerjakan KEBAIKAN, dan sabar dalam menahan diri dari mengerjakan perbuatan MAKSIAT. Jangan pernah menangisi nasi yang telah menjadi bubur, namun berilah ia bumbu, kecap, kacang, dan kerupuk, agar bisa menjadi bubur yang lezat. Dan sungguh, kesabaran hanya akan menambahkan pahala kebaikan pada diri kita.
”Seorang hamba yang ditimpa musibah, lalu mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, llahumma’jurni fi mushibati wa ahlif li khairan minha (sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita dikembalikan. Ya Allah, berilah aku ganjaran dalam musibahku ini dan berilah ganti kepadaku dengan yang lebih baik darinya), niscaya Allah akan memberi ganjaran padanya dalam musibahnya dan akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya.” (HR Muslim).
Ketiga, Selalu Mengadakan Perbaikan (Muhasabah)
Manusia adalah ciptaan Allah paling sempurna dari makhluk lain. Tetapi manusia juga ditakdirkan berpotensi melakukan kesalahan. Baik karena ketidaktahuan atau dosa kesengajaan. Seorang Muslim yang bertaqwa akan selalu introspeksi yang intinya adalah mengganti keburukan yang telah lampau dan menambah kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Hasyr [59]:18).
Allah berikan nikmat tidak sesuai harapan, bisajadi karena kurang maksimal dalam usaha atau sebagai bentuk ujian peringatan Allah. Allah berikan nikmat yang sesuai harapan atau berlebih, maka Allah menunggu apa yang akan dilakukan dengan hasil itu.
" Ya Allah, yang maha mendengarkan doa setiap hambaNya. Ampunilah dosa kami yang selama ini sering bermaksiat kepada Engkau. Ampunilah dosa orang tua kami yang selama ini mengasihi kami, serta ampunilah dosa guru-guru kami yang telah memberikan ilmunya untuk kami. Hari ini kami berkumpul dan mengikuti ujian UKDI ini dalam rangka mengamalkan sedikit dari ilmuMu yang maha Luas. Lapangkanlah hati-hati kami hingga kami mudah mengerjakannya, bukakanlah pintu-pintu ilmu di pikiran kami dalam menyelesaikannya. Ya Allah, Engkau telah menyaksikan usaha-usaha kami dan kami bertawakkal kepada Engkau , kiranya Engkau mengabulkan doa kami dan memberikan kelulusan di UKDI kami. Amin"
Apa Kesalahan Kita di Ramadhan Lalu??
Kehilangan itu baru terasa setelah kita membutuhkannya..
Yah mungkin inilah yg menjadi catatan muhasabah ramadhan lalu.
Kini..dalam hitungan jam kedepan, Ramadhan kembali menyapa.
Semoga kita semua dberi kesempatan umur
Dan hati yang khusyuk meraih berkah di ramadhan kali ini.
Saudaraku,
Menyadari jatah hidup yang sangat singkat ini,
Semestinya Ramadhan dengan keutamaannya yang melimpah kita maknai
Sebagai barang mahal yang mahal tak ternilai.
Harinya, siangnya, malamnya, mungkin berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Mataharinya terbit dari timur lalu tenggelam di ufuk barat.
Tidak saudaraku,ada berjuta kemuliaan di dalamnya.
Ada penghargaan berbeda atas tiap amal di dalamnya.
'Berpuasalah di hari yang sangat panas tuk menghadapi panjangnya Yaumul Mahsyar.
Shalatlah dua rakaat di gulita malam tuk mengingat alam kubur!'
Begitulah jawaban Abu Dzar ra. ketika bertauziyah tentangg bekal hidup perjalanan hidup.
Saudaraku,
Ramadhan adalah kesempatan yang tidak datang tiap saat.
Dan ketika datangpun tidak menunggu kesiapan dan keluangan waktu.
Maka kita harus meluangkan waktu dan menyiapkan diri menyambutnya,
Beramal didalamnya sebanyak-banyaknya agar ketika berlalu
Tidak timbul penyesalan yang mendalam karena kelalaian kita sendiri.
Saudaraku
Perhatikanlah apa yang dilakukan Imam Malik Rahimahullah ketika meyambut Ramadhan.
Ia menutup kitab-kitabnya, tidak berfatwa dan tidak melayani diskusi dengan orang lain.
Ia hanya mengambil Al-Qur'an dan berkata 'Bulan ini adalah bulan Ramadhan, bulannya Al-Qur'an.'
Ia lalu menuju ke masjid dan menetap di dalamnya,
memperbanyak shalat, tilawah dan dzikir sampai bulan Ramadhan berlalu.
Bagaimana dengan kita?
Semoga ramadhan kali ini mampu kita lewati sebaik-baiknya
Agar tidak menyesal karena kehilangan kesempatan yang sangat berharga.
Apa kesalahan kita di Ramadhan tahun lalu?
Semoga tidak terulang di Ramadhan kali ini...amin
Allahu a'lam Bishowab
Yah mungkin inilah yg menjadi catatan muhasabah ramadhan lalu.
Kini..dalam hitungan jam kedepan, Ramadhan kembali menyapa.
Semoga kita semua dberi kesempatan umur
Dan hati yang khusyuk meraih berkah di ramadhan kali ini.
Saudaraku,
Menyadari jatah hidup yang sangat singkat ini,
Semestinya Ramadhan dengan keutamaannya yang melimpah kita maknai
Sebagai barang mahal yang mahal tak ternilai.
Harinya, siangnya, malamnya, mungkin berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Mataharinya terbit dari timur lalu tenggelam di ufuk barat.
Tidak saudaraku,ada berjuta kemuliaan di dalamnya.
Ada penghargaan berbeda atas tiap amal di dalamnya.
'Berpuasalah di hari yang sangat panas tuk menghadapi panjangnya Yaumul Mahsyar.
Shalatlah dua rakaat di gulita malam tuk mengingat alam kubur!'
Begitulah jawaban Abu Dzar ra. ketika bertauziyah tentangg bekal hidup perjalanan hidup.
Saudaraku,
Ramadhan adalah kesempatan yang tidak datang tiap saat.
Dan ketika datangpun tidak menunggu kesiapan dan keluangan waktu.
Maka kita harus meluangkan waktu dan menyiapkan diri menyambutnya,
Beramal didalamnya sebanyak-banyaknya agar ketika berlalu
Tidak timbul penyesalan yang mendalam karena kelalaian kita sendiri.
Saudaraku
Perhatikanlah apa yang dilakukan Imam Malik Rahimahullah ketika meyambut Ramadhan.
Ia menutup kitab-kitabnya, tidak berfatwa dan tidak melayani diskusi dengan orang lain.
Ia hanya mengambil Al-Qur'an dan berkata 'Bulan ini adalah bulan Ramadhan, bulannya Al-Qur'an.'
Ia lalu menuju ke masjid dan menetap di dalamnya,
memperbanyak shalat, tilawah dan dzikir sampai bulan Ramadhan berlalu.
Bagaimana dengan kita?
Semoga ramadhan kali ini mampu kita lewati sebaik-baiknya
Agar tidak menyesal karena kehilangan kesempatan yang sangat berharga.
Apa kesalahan kita di Ramadhan tahun lalu?
Semoga tidak terulang di Ramadhan kali ini...amin
Allahu a'lam Bishowab
Diari Hati Istri
Suamiku, ijinkanku kali ini menuliskan sebagian kisah Kita dalam catatan harianku sebagai bagian dari tarbiyah kehidupanku.
Kemarin pagi... kepadaku, engkau mengeluhkan sakit kepala dan demam. Seluruh persendianmu terasa sakit. Namun engkau memilih tetap berangkat kerja. Ada sebuah agenda RS yang harus dipersiapkan olehmu bersama panitia lain.
Sorenya engkau pulang. Ku mendapati wajahmu terlihat sangat lelah. Seluruh badanmu terasa hangat. Kembali engkau mengeluhkan seluruh persendianmu terasa sakit. Sehingga engkau lebih memilih istirahat sejenak walau saat itu lapar menggelayuti. Engkau memintaku tuk terus disisimu menemani.
"Hari ini ana banyak mengingat kematian."
Engkau mengawali pembicaraan. Engkau pun kemudian menceritakan pengalaman dan kesanmu setelah mengunjungi ayah salah seorang teman yang sedang sakit. "Ana masih ingat ketika beliau masih sehat.Tubuh yang kemarin terlihat gagah, bekerja keras dan kuat mengangkat kayu-kayu serta suaranya yang nyaring masih tergambar jelas. Kini beliau sedang terbaring sakit tak berdaya. Tubuhnya semakin kurus dan perutnya cekung. Tidak ada yang bisa dilakukan walau hanya tuk membuka mulut atau memiringkan badan kekiri/kanan." Ku terdiam mendengarkanmu dengan seksama.
Engkaupun kembali melanjutkan, "Sayang, cepat atau lambat kematian akan datang pada diri kita. Tidak sharusnya kita terlalu berat memikirkan dunia yang sebentar akan kita tinggalkan. Jika ada masalah atau ujian, kita tidak berlarut didalamnya. Melainkan menjalaninya sebagai suatu kepastian dalam kehidupan. Kita seharusnya lebih memikirkan amalan baik dan dosa yang kita perbuat. Mempersiapkan kematian itu dengan kebaikan-kebaikan kita."
Ku lihat wajahmu. Tatapanmu lurus kedepan, seolah jauh menerawang ke langit sana. " Ya Rabbi, sembuhkanlah suamiku. Jadikanlah ia sebagai pelebur dosa-dosanya dan Engkau ijabah sgala doa-doanya" Ku berdoa dalam hati.
"Sayang, jika di kemudian hari diantara kita ada yang terpukau dengan kemilau dunia, maka salah satu diantara kita harus saling mengingatkan tentang kematian." Kataku padanya.
***
Maha suci Engkau Allahu Rabbi, yang telah menganugerahkan kepada kami pasangan hidup yang membuat kami semakin mencintaiMu, menjadikan hati kami dipenuhi rasa syukur atas karunia besar ini serta menguatkan pijakan langkah kaki kami menuju Engkau.
Jadikanlah ketentraman dan kecenderungan hati kami terhadap pasangan kami semata-mata berasal dari Engkau. Dengan ridhoMu, cinta itu tumbuh mekar mewangi hingga ke syurga. Amin ya Allah.
Kawan
Kawan,
Mari berjalan bergandeng tangan
Perjalanan ini masih panjang
Gunung,lembah dan sahara menghadang
Jauh lebih mudah kita hadapi
Jika kita tidak sendiri
Kawan,
Mari kita mulai membaca
Mengeja semesta
Menata Alif Ba Ta cinta
Mencari-cari Sang Pencipta
Kawan,
Bersama tiap rinai doa
Ada namamu diiringi pinta
Semoga kita tetap bersama
Meski dimana kita berada
Dan semoga Allah di hatimu,di hatiku
Dalam tiap waktu...
Ya Allah
Ya Allah,
Ku berdoa untuk seorang pria yang menjadi bagian dari hidupku.
Seorang pria yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu,
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu
Seseorang yang memiliki sebuah hati yang sungguh mencintaiMu dan dekat dengan Engkau dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya dan ia mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.
Ya Allah,
Ku berdoa untuk seorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku.
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tapi juga selalu menasehatiku ketika ku berbuat salah.
Seorang pria yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku disisinya
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.
Ya Allah,
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku
Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu
Berikanlah aku tangan sehingga ku selalu mampu berdoa untuknya,
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melhat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya,
Berikanlah aku lisan yang penuh kata-kata bijaksana yang mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi
Dan bilamana akhirnya kami menghadapMu
Aku berharap kami dapat bertemu dan mengatakan 'Betapa maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna
Ku berdoa untuk seorang pria yang menjadi bagian dari hidupku.
Seorang pria yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu,
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu
Seseorang yang memiliki sebuah hati yang sungguh mencintaiMu dan dekat dengan Engkau dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya dan ia mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.
Ya Allah,
Ku berdoa untuk seorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku.
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tapi juga selalu menasehatiku ketika ku berbuat salah.
Seorang pria yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku disisinya
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.
Ya Allah,
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku
Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu
Berikanlah aku tangan sehingga ku selalu mampu berdoa untuknya,
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melhat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya,
Berikanlah aku lisan yang penuh kata-kata bijaksana yang mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi
Dan bilamana akhirnya kami menghadapMu
Aku berharap kami dapat bertemu dan mengatakan 'Betapa maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna
Hanya Dirimu Tuk Hidupku Hari Ini, Esok Dan Selamanya
![]() |
Ku melihat ada
bayangan seorang wanita mengenakan jilbab berbalut gaun putih di balik cermin
tersebut. “Apakah wanita itu aku?” Batinku mencoba menyakinkan diriku sendiri
akan hari istimewa ini. Hari dimana ku akan memasuki dunia baru bernama rumah
tangga bersama lelaki yang akan ku cintai sepenuh hati. Suamiku.
Tiada keraguan
di hati ketika ia menyampaikan maksud ingin mengkhitbahku. Ku tepis keheranan
orang-orang yang menanyakan tentang bagaimana cara ku mengenalnya dan bagaimana
cinta itu bisa hadir tanpa pacaran dan komunikasi. Ku menjawabnya bahwa
cinta/kecenderungan itu hadir dalam hati manusia bukanlah ditentukan oleh
seringnya interaksi/tatap muka namun karena kecocokan jiwa, tempat cinta akan
ditanam dan tumbuh. Dan Allah-lah yang Maha Kuasa menanamkan dan menumbuhkan
cinta.
“Kok melamun aja dari tadi?” Seorang akhwat
menegurku. Ku hanya bisa tersenyum tanpa berkata apapun. Seolah akhwat tersebut
memahami kegundahan hatiku dan mencoba menenangkanku. Saat-saat seperti ini
kehadiran seorang teman sangat ku butuhkan. Ku bersyukur panitia walimah
mengerti hal tersebut dan mengutus dua orang akhwat untuk mendampingiku di
kamar hingga proses akad selesai. “Sebentar lagi rombongan ikhwan tiba!” Kata
akhwat yang berbeda. Mendengar hal itu, jantungku berdebar sangat kencang.
Pikiranku tidak menentu. Ada cemas, bahagia, semua bercampur menjadi satu.
“Selesai akad, apa mau sholat dulu ukhti?”
Tanya salah seorang akhwat. Ku hanya menganggukkan kepala tanpa bisa berkata
apa-apa. Akhwat tersebut mengerti dengan isyarat tersebut dan beranjak dari
kursi duduknya kemudian menghamparkan dua sajadah di salah satu sudut kamar.
Untuk ku dan dia. Hatiku berdesir.
Beberapa menit
kemudian suasana di luar kamar terdengar sangat ramai. Sepertinya rombongan
ikhwan telah tiba dan memasuki ruang tamu yang tepat berada di samping kamarku.
Perasaanku semakin tak menentu. Dari balik dinding kamar, ku mendengar suara
seorang ikhwan membacakan serangkaian acara akad. Beberapa saat kemudian,
suasana menjadi hening. Terdengar lantunan ayat al-Quran mengalun indah
dibacakan oleh seorang ikhwan. Suasana semakin berjalan hikmat, ketika tausiyah
nikah disampaikan.
Rasulullah pernah bersabda, "Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)
Hatiku gerimis.
Kini tiba
saatnya. Disaksikan Allah swt. dan puluhan pasang mata, ijab Kabul itu di
ikrarkan olehnya. Janji telah terucap dan telah dicatat oleh malaikatNya. Kini
terungkaplah rahasia lauhul mahfudz selama ini tentang hadirnya pendamping
hidup. Kini telah ada seorang pemimpin atas diriku untuk ku taati sebagai
bagian pengabdian pada Rabb ku. Kini ada
sebuah hati yang harus ku jaga sepenuh hati karena keridhoannya menjadi kunci syurga.
Ya Allah, Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Ya Allah, Ya Tuhan ku yang maha mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini Ke tepian yang sejahtera dan
abadi..
Amin ya Robb…
Bulir-bulir
airmata bahagia kini berderai mengiringi rasa syukur tak terhingga atas nikmat-Nya
yang tercurahkan hari ini. Berakhirlah sudah penantian panjang tentang
hadirnya. Ku memasuki kehidupan baru menjalani peran sebagai seorang istri dan
kelak sebagai seorang ibu bagi anak-anak kami. Indahnya bunga di taman takkan pernah
bisa menyaingi keindahan cinta kami yang dibangun atas kecintaan pada Allah. Allah-lah
yang menciptakan hati, jiwa dan raganya demikian rupa sehingga aku begitu
mencintainya. Dan atas dasar cinta Allah pulalah ia pun mencintaiku. Kami
sama-sama menyadari hanya dengan cinta karena Allah, cinta ini akan terus
berbunga dan mewangi selamanya.
Suamiku,
Hanya dirimu
yang ku inginkan
Mencerahkan
hariku di kala mendung
Menyinari
malamku di kala pekat
Suamiku,
Hanya
engkaulah yang kuharapkan
Untuk hidupku
hari ini, esok dan selamanya
Hingga kedua
kaki kita menapaki syurgaNya
Hadiah Cinta Darinya
“Hmm, Ana mau setangkai mawar!!” Jawab
saya.
Yah..Saya
menginginkan kado istimewa dari suami saya. Sesuatu yang mewakili perasaan
cintanya terhadap saya. Setangkai mawar merah. Selama ini saya tidak pernah
menerima hadiah bunga dan kali ini saya menginginkan sesuatu yang romantis.
Tidak sabar saya
menanti kiriman bunga darinya.
Namun, beberapa
hari sebelum hari H, suami saya menelpon dan meminta maaf karena tidak bisa
memenuhi permintaan tersebut. Ternyata di kota kecil tempat suami saya bekerja,
tidak ada toko bunga dan sulit untuk mencarinya diluar kota lalu selanjutnya
mengirimkan ke kota ini. Walau ada rasa kecewa namun saya tidak ingin membuat
suami saya berkecil hati. Saya menyadari pernikahan kami adalah kado terindah
dari Ilahi menjelang usia saya yang kini menginjak 24 tahun.
“Seringkali yang
kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan
mengharapkan wujud tertentu.” Ini adalah salah satu pelajaran yang pernah saya
dapatkan dalam proses memahami arti cinta sesungguhnya.
Sebagaimana
dalam sebuah kisah tentang seorang istri yang meminta cerai dari suaminya
karena merasa sang suami sangat kaku dan tidak mampu menciptakan suasana yang
romantis dalam pernikahan mereka telah menghancurkan semua harapan akan cinta
yang ideal yang diinginkannya.
Pada suatu hari, istri tersebut memberanikan diri untuk mengatakan keputusannya kepada suami, bahwa ia menginginkan perceraian. Suaminya terdiam dan termenung. kemudian kembali menanyakan apa yang dapat ia lakukan untuk merubah keputusan sang istri.
Dalam kekecewaan kian mendalam, sang istri pun menjawab dengan memberikan pertanyaan kepada suaminya. Seandainya, sang istri menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan mereka berdua tahu jika suaminya memanjat gunung itu, suaminya akan mati. Apakah sang suami akan melakukannya untuk dirinya. Setelah mendengar pertanyaan tersebut, Suaminya kembali termenung dan akhirnya berjanji akan memberikan jawabannya besok.
Keesokan paginya, Sang istri mendapati
suaminya sudah tidak ada dirumah dan hanya menemukan selembar kertas dibawah sebuah gelas
yang berisi susu hangat yang bertuliskan...
"Sayang, saya tidak akan
mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan
alasannya."
Meski hati sang
istri hancur setelah membaca kalimat pertama. Namun Ia terus melanjutkan
membaca surat tersebut.
"Kamu bisa mengetik di
komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di
depan monitor, saya harus memberikan jari-jari saya supaya bisa membantumu dan
memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar
rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan
membukakan pintu untukmu ketika pulang.Kamu suka jalan-jalan ke luar kota
tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus
menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. Kamu
selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan saya
harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam
di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan harus membelikan
sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk
menceritakan hal-hal lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap komputermu,
membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata
saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan
kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu
menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan
warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu. Tetapi
sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak
sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu,
ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu
sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup
bagimu. aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang
dapat membahagiakanmu.Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca
jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku
untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang
sedang berdiri disana menunggu jawabanmu.Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku
masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu.
Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.
Setelah membaca surat tersebut, sang istri akhirnya menyadari kekeliruannya dan sambil menangis, ia segera berlari membuka pintu dan melihat suaminya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Akhirnya istri tersebut pun tahu, tidak ada orang yang pernah mencintainya lebih dari suaminya.
Demikianlah
cinta. Kadangkala pasangan hidup kita menyatakan cintanya tidak dalam wujud
yang kita harapkan sehingga rasa cinta di hatipun kian hari kian berkurang. Namun
sesungguhnya cinta itu hadir dalam wujud tidak kita bayangkan sebelumnya.
Seperti kejutan hadiah cinta di ulang tahun saya. Kartu ucapan sederhana yang
dibuat susah payah dan hafalan surat Al-Mulk yang dikebutnya selama beberapa
hari untuk saya. Dia mencintai saya dengan caranya sendiri yang membuat saya menjadi wanita paling bahagia.
Dedicated for my Husband 'Andi Yakub Abdullah' & Saudari muslimah bernama Istri dimanapun anda berada.
Moga Bermanfaat.
Dedicated for my Husband 'Andi Yakub Abdullah' & Saudari muslimah bernama Istri dimanapun anda berada.
Moga Bermanfaat.
Refleksi Pernikahan#2: Surat Cintaku Yang Pertama
Suamiku,
Ia yang telah menciptakan kita dari satu
jiwa yang awalnya tidak memiliki nama
Menyempurnakan bentukmu lalu
menciptakanku dari rusuk kirimu
Setelah sebelumnya, Ia telah
menuliskannya di kitab Lauhl Mahfudz
Kemudian semua menjadi ghaib, tersimpan
rapi di langit sana
Suamiku,
Dalam kehidupan dunia, seperti diriku,
engkaupun menjadi rahasia
Yang belum terungkap hingga waktunya
Kita lalui jalan kita masing-masing
Larut dalam aktivitas perbaikan dan
perubahan
Hingga kemudian kita dipertemukan dalam
sebuah skenario indah-Nya
Suamiku,
Seorang pernah bertanya padaku tentang
dirimu,
Dan bagaimana cara pertemuan itu?
Kala itu ku katakan, dirimu adalah takdir
yang telah ditetapkan-Nya
Merupakan karunia terbaik atas keshalihan
diri
Dan diantara banyak pilihan
pertemuan kita
Ku memilih untuk bertemu denganmu di
jalan terindah bernama jalan dakwah!
Suamiku,
Seorang pernah bertanya padaku, bagaimana
ku bisa “berani” mempertaruhkan
Separuh dien ini untukmu yang asing dalam
kehidupanku?
Kala itu ku katakan, lewat
munajat-munajatku,
Shaum sunnah, serta petuah dari orang-orang
shalih-lah,
Ku harapkan kemantapan hati itu akan hadir
Bahwa dirimu adalah orang tepat yang akan mendatangkan
Kebaikan segala urusan dunia-akhiratku
Suamiku,
Sungguh dakwah ini telah mengajarkanku
makna kehidupan dan cinta sejati
Ku sangat mencintai jalan ini dan ingin
terus berada didalamnya
Sehingga dalam doaku, ku selalu memohon
pada-Nya atas kehadiran seseorang
Yang akan menjadi teman meniti jalan
juang ini.
Seseorang yang menjadikan dakwah bagian
dari hidupnya
Yang mencintai Allah dan Rasul-Nya diatas
segalanya
Dan Allah yang maha Mengabulkan doa,
menghadirkanmu sebagai jawaban atas doa itu
Suamiku,
Kepada-Nya semata kita memohon agar ku
bisa menjadi amanah terindahmu
Sebagai sebaik-baik amanah, Sebagai
sebaik-baik harta dunia bagi seorang mukmin
Kepada-Nya semata kita memohon agar
engkau bisa menjadi qawam dalam keluarga
Sebagai sebaik-baik imam yang akan
menghantarkan keluarga kita ke gerbang syurga
Kepada-Nya semata kita berdoa agar sejarah
peradaban itu lahir dari rumah kita
Sebagai sebaik-baik keluarga yang diberkahi
keturunan penerus dakwah Ilallah
Mereka akan kita didik agar takut kepada
Rabb-Nya serta bangga terhadap Dien ini
Sebagai sebaik-sebaik risalah yang
mendatangkan rahmat bagi seluruh alam
Suamiku,
Kita menyadari akan banyak ujian yang
pasti kita temui dalam menggapai mimpi indah itu
Dalam sujud-sujud kita, kita mohonkan pada-Nya
kekuatan serta keteguhan iman
Dalam pergaulan, kita hadirkan budaya
saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran
Dengan begitu, moga rumah tangga inilah
yang menjadi kendaraan kita
Menuju negeri akhirat-Nya yang kekal
***
Dedicated For My Husband, Andi Yakub
Abdullah
“Membentuk keluarga barokah dunia
akhirat” Itulah citamu dan citaku. Itulah visi kita!!!
Suamiku, Mari kita lukis “peradaban dan cita kelangitan”
berawal dari sini.
Dari rumah kita!!!
Belajar dari Pesona Khadijah binti Khuwailid ra...
Wahai Muslimah…Mengapa kita harus mencari panutan yang lain,
Kalau di hadapan kita ada sosok yang paling baik,
dan Mulia Ibu bagi orang Mukminin…
Istri yang setia lagi Taat…
Sebagai penentram hati sang suami…
dan sebaik-baik teladan bagi kaum wanita…
Simaklah sabda Rasulullah :
"Sebaik-baik wanita ialah Maryam binti Imran. Sebaik-baik wanita ialah Khadijah binti Khuwailid. (HR Muslim dari Ali bin Abu Thalib radiyallahu 'anhu).
"Dan sebaik -baik wanita dalam masanya adalah Khadijah”
“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tidak mau memberi bantuan, dan Allah Subhanahu wa ta’ala memberiku anak darinya ketika Dia tidak memberiku anak dari wanita lain”
Dialah Khadijah binti Khuwailid istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama. Ia lahir pada tahun 68 sebelum Hijrah. Hidup dan tumbuh serta berkembang dalam suasana keluarga yang terhormat dan terpandang, berakhlak mulia, terpuji, berkemauan tinggi, serta mempunyai akal yang suci, sehingga pada zaman jahiliyah diberi gelar “Ath-Thahirah”.
Khadijah adalah wanita kaya yang hidup dari usaha perniagaan. Dan untuk menjalankan perniagaannya itu ia memiliki beberapa tenaga laki-laki, diantaranya adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebelum beliau menjadi suaminya).
Sebenarnya Khadijah adalah wanita janda yang telah menikah dua kali. Pertama ia menikah dengan Zurarah At-Tamimi dan yang kedua menikah dengan Atid bin Abid Al-Makhzumi. Dan masing-masing wafat dengan meninggalkan seorang putera.
Pada masa jandanya, banyak tokoh Quraisy yang ingin mempersuntingnya. Namun ia selalu menolaknya. Dibalik semua itu, Allah memang telah mempersiapkan Khadijah binti khuwailid untuk menjadi pendamping Rasul-Nya yang terakhir, yakni Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk pembela dan penolong risalah yang beliau sampaikan.
Pada usianya yang ke empat puluh, beliau menikah dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada waktu itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam belum diangkat menjadi rasul dan baru berusia 25 tahun.
Perbedaan usia tidaklah menimbulkan permasalahan bagi rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu membentuk rumah tangga dengannya tidak mempunyai isteri yang lainnya.
Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikaruniai beberapa putera oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Qosim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fathimah. Namun putera beliau yang laki-laki meninggal dunia sebelum dewasa.
Suatu hari Khadijah mendapatkan suaminya pulang dalam keadaan gemetaran. Terpancar dari raut wajahnya kekhawatiran dan ketakutan yang sangat besar.
“Selimuti aku!…., Selimuti aku!…, “ seru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada isterinya. Demi melihat kondisi yang seperti itu, tidaklah membuat Khodijah menjadi panik. Kemudian diselimuti dan dicoba untuk menenangkan perasaan suaminya. Rasul pun segera menceritakan pada istrinya, kini tanpa disadarinya, tahulah ia bahwa suaminya adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan tenang dan lemah lembut, Khadijah berkata : ”Wahai putera pamanku, Demi Allah, dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sesungguhnya engkau termasuk orang yang selalu menyambung tali persaudaraan, berkata benar, setia memikul beban, menghormati dan suka menolong orang lain”. Tutur kata manis dari sang istri menjadikan beliau lebih percaya diri dan tenang. Khadijah, …sungguh mulia akhlaqmu.
Diawal permulaan Islam, peranan Khadijah tidaklah sedikit. Dengan setia ia menemani suaminya dalam menyampaikan Risalah yang diemban oleh beliau dari Rabb Subhanahu wa Ta’ala. Wanita pertama yang beriman kepada Allah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya menuju jalan Rabb-Nya. Dia yang membantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengibarkan bendera Islam. bersama Rasulullah sebagai angkatan pertama. Dengan penuh semangat, Khadijah turut berjihad dan berjuang, mengorbankan harta, jiwa, dan berani menentang kejahilan kaumnya.
Khadijah seorang yang senantiasa menentramkan dan menghibur Rasul disaat kaumnya mendustakan risalah yang dibawa. Seorang pendorong utama bagi Rasul untuk selalu giat berda’wah, bersemangat dan tidak pantang menyerah. Ia juga selalu berusaha meringankan beban berat di pundak Rasul. Perhatikan pujian Rasul terhadap Khadijah :
“Dia (Khadijah) beriman kepadaku disaat orang-orang mengingkari. Ia membenarkanku disaat orang mendustakan. Dan ia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tiada mau”. (HR. Ahmad, Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Ba’ar)
Kebijakan, kesetiaan dan berbagai kebaikan Khadijah tidak pernah lepas dari ingatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sampai Khadijah meninggal. Ia benar-benar seorang istri yang mendapat tempat tersendiri di dalam hati Rasulullah shallallalhu ‘alaihi wa sallam. Betapa kasih beliau kepada Khadijah, dapat kita simak dari ucapan ‘Aisyah . “Belum pernah aku cemburu terhadap istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebut-nyebut namanya, bahkan adakalanya menyembelih kambing dan dibagikannya kepada kawan-kawan Khadijah. Bahkan pernah saya tegur, seakan-akan di dunia tidak ada wanita selain Khadijah, lalu Nabi menyebut beberapa kebaikan Khadijah, dia dahulu begini dan begitu, selain itu, aku mendapat anak daripadanya.”
Khadijah binti Khuwailid, wafat tiga tahun sebelum hijrah dalam usia 65 tahun. Kepergiaannya membuat kesedihan yang sangat mendalam di hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun umat Islam. Ia pergi menghadap Rabb-Nya dengan meninggalkan banyak kebaikan yang tak terlupakan.
Itulah Khadijah binti Khuwailid, yang Allah pernah menyampaikan penghormatan (salam) kepadanya dan Allah janjikan untuknya sebuah rumah di Syurga. Sebagaimana telah disebut dalam hadist dari Abu Hurairah: “Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang kepada engkau dengan membawa bejana berisi lauk pauk atau makanan atau minuman. Apabila ia datang kepadamu, sampaikanlah salam kepadanya dari Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dan juga dariku dan kabarkanlah berita gembira kepadanya mengenai sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara di dalamnya tidak ada keributan dan kesusahan.” (HR Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu).
Wahai orang yang terperdaya, .. istana tersebut lebih baik dari pada gemerlapnya dunia yang telah memperdayakanmu. Dan ini adalah sebaik-baik kabar gembira dibanding dunia dan segala isinya. Tidakkah kalian ingin mendapatkannya pula?
Mudah-mudahan Allah memberikan balasan kepada Khadijah atas segala jasa dan kebaikannya dalam membela agama dan Rasul-Nya dengan balasan yang sebaik-baiknya, penuh kenikmatan dan kecemerlangan di dalam “istananya”.
Wallahu ‘alamu bisshowab.
(moga ku bisa meneladanimu wahai wanita mulia....)
Murojaah :
Majalah
Salafy Edisi XIII/1417/1997 & Khadijah
ra, The True Love Story of Rasulullah Saw
Refleksi Pernikahan #1 : Amanah Terakhir Ayah
Yang tak pernah goyah walau
gelombang mendera bertubi-tubi
Ia bak mentari sepanjang waktu,
yang tak pernah bosan menyinari walau awan mendung datang menyelimuti
yang tak pernah bosan menyinari walau awan mendung datang menyelimuti
Pancarkan energi ketegaran
dalam lukisan wajahnya yang jarang menangis
Sebarkan cahaya kebahagiaan
dalam senyuman setiap menjumpaiku
dalam lukisan wajahnya yang jarang menangis
Sebarkan cahaya kebahagiaan
dalam senyuman setiap menjumpaiku
Ayah, yang selalu menemani segala bentuk
hari milikku
23 tahun sudah. Ayah penuhi kewajiban membesarkanku dalam samudera kasih yang tak bertepi. Sudah selama itukah aku menjadi bebanmu? Menjadi amanah titipan Ilahi yang engkau jaga dengan sepenuh hati. Rasanya baru kemarin aku belajar memanggil namamu dan belajar mengejanya “a.y.a.h”. Rasanya baru kemarin aku belajar merangkak tertatih-tatih menujumu. Sudah selama itu pula ku hidup dalam limpahan syukur tiada terkira pada-Nya atas kehadiran ayah mengisi hari-hariku. Engkau hadir memberi kehangatan, kedamaian dan perlindungan dalam syurga rumah milik kita.
Pernah
suatu ketika. Ayah mengatakan
padaku bahwa kebersamaan kita tidak akan selamanya ketika kelak ku telah dewasa
dan menikah. Ketika datang seorang pria melamar putri kecil ayah. Dan saat-saat
itulah merupakan tugas terakhir dan terberat bagi ayah. Memastikan tanggung
jawab yang selama ini ayah emban diberikan kepada orang yang tepat. Seseorang
yang ayah ridho terhadap agama dan akhlaknya. Memastikan ia seorang yang memiliki hati yang bijak. Yang
tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku. Seorang pria yang tidak hanya memujaku
tetapi juga dapat menasehatiku ketika ku berbuat salah. Sehingga dengan begitu,
putri ayah bisa berbakti padanya dengan sepenuh hati. Dan jika saat itu telah
tiba, maka sampailah sudah tugas terakhir seorang ayah kepada putrinya,
menikahkan.
Saat
itu kini tiba. Ayah, ku
tahu betapa beratnya hatimu melepaskan putri kecil ayah. Ku pandangi kedua
sudut mata ayah. Disana, ada genangan air mata yang membawa berjuta harapan dan
doa untuk ku. Engkau hadirkan pesona ketegaran dibalik getaran suara ayah ketika
menuntunnya mengikrarkan Ijab Kabul. Engkau hadirkan ketentraman, mengusir segala
kegundahan yang mengelayuti jiwa dengan nasihat-nasihat pernikahan yang engkau
bisikkan padaku.
“Nak,
inginkah ayah sampaikan sebuah kabar gembira padamu yang setelah ini engkau
tidak akan bersedih hati? Ada syurga hijau menanti yang bisa engkau masuki dari
pintu mana saja yang engkau sukai, kini kuncinya ada pada ridho suamimu. ”
Hari
ini, ku tuliskan sebuah
ungkapan cinta dalam tulisan sederhana untuk ayah tersayang yang sangat
mencintaiku. Tak terhitung kasih dan pengorbanan yang selalu ayah persembahkan
sepanjang hidupku namun masih sedikit bakti ku berikan kepadamu.
Telah datang kereta yang menjemput putri ayah pergi bersamanya
Dan
aku pun berlalu dengan membawa secercah asa
Ayah
lihatkah rinduku pada syurga yang bisa dimasuki dari pintu mana saja yang disuka
Ayah
lihatkah janji Allah sebagai balasan ketaatan menjemput setiap kemilau ridhonya
Jika
saatnya tiba,
Kita
akan kembali bersua
Dalam
hijaunya surga, dalam berbagai karunia
Dalam
ketenangan dan kedamaian jiwa
Disana
kita akan kembali merendah cinta
Hapuslah
lara, iringkanlah doa kebahagiaan bagi kami mengarungi bahtera rumah tangga
***
Bumi
Cinta, 2012
Dedicated For My Dad, Muhammad Idris Shaleh
terima kasih telah mengantarku ke gerbang pernikahan.
terima kasih telah mengantarku ke gerbang pernikahan.
Sepucuk Surat di Balik Dinding Penantian...
Jika
saya dipertemukan dengan seseorang yang akan menjadi bagian dari hidup ini,
semoga Allah SWT mempertemukan saya dengan seseorang yang mencintai-Nya lebih
dari apapun.
Seseorang yang aktif dalam pembinaan tarbiyah.
Seseorang yang
mencintai saya apa adanya setelah Allah SWT dan Rasul-Nya.
Seseorang yang telah
menjual dirinya dan seluruh hidupnya untuk Allah SWT sehingga menjadikan dakwah
ini menjadi bagian dari hidupnya.
Seseorang yang berkomitmen untuk menjadikan
semua anak-anak kami kelak sebagai penghafal Al-Quran.
Dan jika
kami menikah,
maka kami memiliki visi dan misi yang sama untuk mewujudkan
keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah sebagaimana tuntunan syariat Islam.
Memiliki
visi dan misi yang sama bahwa dari proses awal pra pernikahan hingga dalam
menjalani rumah tangga, semua dilalui sesuai syariat.
Memiliki
visi dan misi yang sama, bahwa dengan menikah akan meneguhkan langkah kami
bersama dalam meniti perjuangan panjang hidup ini.
Memiliki visi dan misi yang
sama, untuk melahirkan generasi Rabbani.
Dalam keseharian rumah tangga kami,
saya
menjadi istri yang menghormati dan menjaga kehormatan suami
laksana pakaian baginya yang
mampu menampakkan kebaikannya dan menutupi kekurangannya.
Menjadi istri yang
menyenangkannya dengan senyum dan kasih sayang.
Menjadi istri yang selalu
menghadirkan semangat jihad di seluruh sudut rumah untuk suami dan anak-anak
kami.
semoga Allah memberikan hidayah-Nya sehingga saya mampu menanggung
amanat tersebut untuk mendapatkan keridhoan-Nya.
Semoga jika saat itu tiba,
Allah memberikan keistiqomahan
dan kekuatan kepada saya dalam dakwah dan tarbiyah ini sehingga saya layak
mendampingi seorang yang akan bersama meniti jalan dakwah ini.
Seorang yang telah dipilih oleh hati tanpa ada keraguan."
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
.jpg)











